PortalRakyat, JOGJA— Harga mobil baru yang semakin mahal di Amerika Serikat mulai memengaruhi cara konsumen muda memilih kendaraan. Survei Cox Automotive menunjukkan 69% konsumen Generasi Z yang disurvei menyatakan kemungkinan mempertimbangkan merek mobil China jika tersedia di pasar AS.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata seluruh responden. Dalam survei yang melibatkan 802 konsumen AS yang berencana membeli kendaraan dalam dua tahun, sebanyak 38% menyatakan sangat mungkin atau mungkin mempertimbangkan merek China. Sebaliknya, 39% mengatakan tidak terlalu mungkin atau sama sekali tidak mungkin.
Harga menjadi salah satu faktor yang membuat mobil China menarik bagi konsumen muda. Rata-rata harga kendaraan baru di AS berada di kisaran US$50.000.
Sebagai pembanding, BYD Dolphin Surf dibanderol sekitar US$25.000 di Eropa. Selisih harga tersebut memperlihatkan mengapa kendaraan China menjadi opsi yang menarik bagi konsumen yang lebih sensitif terhadap biaya pembelian.
Dalam survei Cox Automotive, kemampuan memberikan nilai yang sepadan dengan harga menjadi pertimbangan yang menonjol. Sekitar 49% responden menilai merek China memiliki keunggulan dalam menawarkan good value for money.
Belum Dijual Bebas di AS
Meski minat konsumen cukup besar, mobil merek China belum dapat masuk ke pasar AS secara bebas. Hambatan perdagangan, regulasi, serta aturan terkait teknologi kendaraan membuat penetrasi merek tersebut masih terbatas.
Kendaraan listrik buatan China juga menghadapi tarif impor yang sangat tinggi. AS sebelumnya menetapkan tarif 100% untuk kendaraan listrik China, di luar berbagai pembatasan lain yang berlaku.
Kondisi itu membuat hasil survei Cox lebih tepat dibaca sebagai potensi minat konsumen, bukan cerminan penjualan aktual. BYD, Geely, dan merek China lainnya belum memiliki kehadiran ritel seperti produsen otomotif yang telah lama beroperasi di AS.
Tingkat pengenalan terhadap merek China pun masih relatif terbatas. BYD menjadi merek China dengan tingkat awareness tertinggi dalam survei, tetapi hanya 17% responden yang menyatakan benar-benar familiar dengan merek tersebut.
Konsumen dan Diler Berbeda Pandangan
Survei tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan antara konsumen dan diler. Hanya 15% diler yang mendukung masuknya merek China ke pasar AS, sedangkan 40% konsumen mendukung kemungkinan tersedianya mobil China untuk dibeli di AS.
Keraguan terhadap kualitas, keselamatan, daya tahan, dan reliabilitas masih menjadi persoalan. Dalam survei konsumen, hanya 32% yang menyebut reliabilitas sebagai alasan untuk mempertimbangkan mobil China.
Namun, minat dapat berubah jika produsen China menggandeng perusahaan otomotif yang sudah memiliki pengalaman di pasar AS. Dalam skenario tersebut, Cox Automotive menemukan tingkat konsumen yang bersedia mempertimbangkan mobil China meningkat menjadi 76%.
Trump Buka Peluang Produksi di AS
Perdebatan mengenai mobil China juga memasuki ranah kebijakan. Presiden AS Donald Trump pada September 2026 mengatakan dirinya terbuka terhadap kemungkinan perusahaan otomotif China membangun pabrik di AS dan mempekerjakan pekerja Amerika.
Trump membedakan skenario tersebut dari kendaraan yang diproduksi di China atau Meksiko kemudian dikirim ke pasar AS. Ia menyatakan tidak menginginkan produsen China membangun kendaraan di Meksiko untuk kemudian mengekspornya ke AS.
Pernyataan tersebut muncul ketika kelompok industri otomotif AS justru mendorong pemerintah mempertahankan pembatasan terhadap kendaraan China. Perdebatan tersebut mencakup persoalan persaingan industri, lapangan kerja, teknologi kendaraan terhubung, hingga keamanan nasional.
Dengan demikian, tingginya minat Gen Z belum berarti mobil China akan segera membanjiri pasar AS. Hasil survei Cox lebih menunjukkan adanya perubahan preferensi konsumen muda, terutama ketika harga kendaraan baru semakin tinggi dan pilihan dengan harga lebih terjangkau menjadi semakin menarik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
