Foto ilustrasi kekeringan. – Magnific
PortalRakyat, KULONPROGO— Kemarau panjang di Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, menyebabkan sejumlah anak sungai mengering sejak Juli hingga Agustus 2026. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air, tetapi juga terlihat pada vegetasi perbukitan yang mulai menguning dan mengering.
Panewu Pengasih, Sunarya, mengatakan debit air di sejumlah sungai kecil telah menyusut hingga tidak lagi mengalir. Kondisi tersebut diperparah dengan penghentian sementara aliran air dari Waduk Sermo akibat penurunan volume air selama musim kemarau.
“Kalau sungai besar seperti Kali Serang itu masih ada airnya, tapi yang aliran sungai kecil-kecil memang sudah lama keringnya. Sejak sekitar Juli atau Agustus lalu,” ujar Sunarya saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Sungai Klampok dan Plelen Kehilangan Aliran Air
Sejumlah sungai kecil di wilayah Pengasih dilaporkan telah kehilangan debit air sepenuhnya. Dua di antaranya adalah Sungai Klampok dan Sungai Plelen.
Sementara itu, Sungai Gayam dan Sungai Serang masih menyimpan cadangan air, meskipun volumenya sudah sangat menipis. Ketiga anak sungai, yakni Klampok, Plelen, dan Gayam, diketahui bermuara ke Sungai Serang di kawasan Clereng.
Kondisi sungai yang mengering tidak selalu berarti seluruh sumber air di kawasan tersebut telah habis. Di beberapa lokasi, masih terdapat kantong-kantong air yang dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun keperluan pertanian.
Sunarya menjelaskan, sebagian warga membendung aliran sungai untuk menampung sisa air sebelum mengambilnya menggunakan selang.
“Kering itu bukan berarti sama sekali tidak ada air. Kadang-kadang oleh masyarakat dibendung, kemudian diambil pakai selang-selang,” jelasnya.
Pemanfaatan sisa air tersebut menjadi salah satu cara masyarakat memenuhi kebutuhan di tengah menyusutnya debit sungai selama musim kemarau.
Pepohonan di Perbukitan Mulai Menguning
Dampak kemarau panjang di Pengasih juga terlihat pada kondisi vegetasi di kawasan perbukitan. Sejumlah tanaman, terutama pohon berukuran kecil di bagian atas perbukitan, mulai mengering dan berubah warna menjadi kekuningan.
Berbeda dengan tanaman kecil yang mulai menunjukkan dampak kekurangan air, pohon-pohon berukuran besar masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Meski demikian, perubahan kondisi vegetasi menjadi salah satu tanda dampak musim kemarau di wilayah tersebut.
Selain mengubah kondisi lingkungan, menyusutnya debit sungai juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan ketersediaan air bagi masyarakat. Terlebih, aliran air dari Waduk Sermo untuk sementara waktu tidak dialirkan akibat penurunan volume air selama musim kemarau.
Pihak Kapanewon Pengasih terus memantau perkembangan ketersediaan air bersih dan dampak kemarau terhadap masyarakat. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya krisis air di wilayah Pengasih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
