PortalRakyat, JAKARTA—Bank of America (BofA) memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh 5,5% pada 2027, dengan inflasi melandai menjadi 3%. Namun, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di level Rp18.200 per dolar AS pada akhir tahun tersebut.
Proyeksi itu menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang berangsur meningkat di tengah tekanan eksternal, termasuk suku bunga global dan perkembangan harga energi. BofA juga memperkirakan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap berada di bawah batas maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Indonesia Country Executive Bank of America Mira Arifin menilai perekonomian Indonesia masih relatif stabil di tengah dinamika ekonomi dunia. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% masih lebih baik dibandingkan sebagian besar negara di dunia.
BofA memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dari 5,3% pada 2026 menjadi 5,5% pada 2027. Sementara itu, inflasi rata-rata diperkirakan turun dari 3,3% pada 2026 menjadi 3% pada 2027.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 1,8% terhadap PDB pada 2026 sebelum menyempit menjadi 1,1% pada 2027. Dari sisi fiskal, defisit APBN diproyeksikan mencapai 2,9% terhadap PDB pada 2026 dan membaik menjadi 2,7% pada 2027.
Sementara itu, suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate diperkirakan bertahan di level 5,75% hingga akhir 2027. Untuk nilai tukar, BofA memperkirakan rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026, kemudian melemah ke Rp18.200 pada akhir 2027.
“[Pertumbuhan] ekonomi global berada di kisaran kurang dari 3%. Jadi, dalam konteks itu saja, tren [pertumbuhan ekonomi] kita di Indonesia sebenarnya lebih baik daripada sebagian besar negara di dunia,” ujar Mira dalam Bank of America’s Indonesia Macro-economic Outlook Roundtable, dikutip pada Jumat (9/10/2026).
Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Pertumbuhan
Head of India and Asean Economic Research BofA Rahul Bajoria memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ditopang kebijakan fiskal yang semakin efektif, disertai pemulihan konsumsi dan investasi. Meski demikian, tekanan suku bunga global dan perkembangan pasar energi masih berpotensi membatasi laju pertumbuhan.
Rahul menilai arah pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap meningkat seiring dengan semakin besarnya pengaruh kebijakan fiskal terhadap aktivitas ekonomi. Namun, kenaikannya diperkirakan berlangsung secara moderat.
Menurut BofA, konsumsi mulai memperlihatkan perbaikan. Perkembangan penjualan kendaraan dan kinerja perusahaan barang konsumsi menjadi sejumlah indikator yang diperhatikan. Selain itu, pertumbuhan kredit dan simpanan perbankan juga mulai meningkat pada margin tertentu.
Rahul mengatakan sejumlah program pemerintah membutuhkan waktu sebelum memberikan dampak penuh terhadap perekonomian. Transfer langsung relatif lebih cepat memengaruhi permintaan, sedangkan reformasi yang berkaitan dengan tata kelola dan operasional perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk menghasilkan perubahan.
Defisit APBN 2027 Diproyeksi 2,7%
Dalam proyeksinya, BofA memperkirakan defisit fiskal Indonesia mencapai 2,9% terhadap PDB pada 2026. Angka itu relatif dekat dengan outlook terakhir Kementerian Keuangan sebesar 2,85%.
Pemerintah mencatat defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau 1,24% terhadap PDB hingga September 2026. Sementara itu, outlook defisit APBN pada akhir 2026 masih dijaga di sekitar 2,85% terhadap PDB.
Untuk 2027, BofA memproyeksikan defisit menyempit menjadi 2,7%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan target defisit APBN 2027 sebesar 2,4% terhadap PDB.
Pemerintah mendesain APBN 2027 dengan pendapatan negara Rp3.435,1 triliun dan belanja negara Rp4.106,3 triliun. Selisih keduanya menghasilkan kebutuhan pembiayaan sekitar Rp671,2 triliun, dengan target defisit sebesar 2,4% terhadap PDB.
Rahul memperkirakan defisit dapat membaik pada 2027, salah satunya karena potensi penurunan harga minyak. Beban fiskal berpeluang berkurang jika tekanan harga energi lebih rendah, sedangkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat mendukung penerimaan pajak.
“Jadi, ada sedikit efek buoyancy yang kami perhitungkan, tetapi belum sampai membuatnya turun menjadi 2,4%,” kata Rahul.
BofA juga menghitung dukungan fiskal secara lebih luas, tidak hanya berdasarkan defisit yang tercatat dalam APBN atau on balance deficit. Perhitungan tersebut mencakup pembiayaan investasi pemerintah, termasuk melalui badan usaha milik negara (BUMN), yang dikategorikan sebagai pembiayaan investasi di luar neraca atau below-the-line investment financing.
Dalam perhitungan BofA, dukungan fiskal keseluruhan Indonesia mencapai sekitar 3,6% terhadap PDB pada 2026. Angka itu meningkat dibandingkan rata-rata 2,5% pada periode 2022–2024. Pada 2027, dukungan fiskal tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar 3,1%.
BofA mengasumsikan pembiayaan investasi di bawah garis mencapai sekitar 0,7% hingga 0,8% terhadap PDB pada 2026 dan 2027.
Rahul menjelaskan komponen tersebut terutama berkaitan dengan utang dan pembiayaan perusahaan negara. Menurut dia, penilaian terhadap pembiayaan perlu mempertimbangkan aset yang dibentuk serta kualitas belanja yang dihasilkan.
“Kalau Anda menciptakan aset, itu berbeda dengan meminjam hanya untuk membayar gaji,” kata Rahul dalam menjelaskan pendekatan BofA terhadap pembiayaan BUMN.
BofA turut memasukkan Danantara dalam penilaian dukungan fiskal karena lembaga tersebut sepenuhnya dimiliki negara dan aktivitas pembiayaannya menjadi bagian dari komitmen fiskal yang lebih luas.
Rahul menilai kondisi itu tidak menjadi sumber kekhawatiran selama pemerintah memiliki kemampuan membiayainya, kualitas belanja tetap terjaga, dan ekspansi fiskal tidak memicu tekanan inflasi berlebihan.
Batas Defisit 3% Dinilai Tetap Dipertahankan
Meski memperkirakan dukungan fiskal Indonesia masih besar, BofA tidak memperkirakan pemerintah akan menghapus batas defisit APBN maksimal 3% terhadap PDB.
Rahul menilai kredibilitas fiskal Indonesia masih tinggi. Pemerintah, menurut dia, memahami pentingnya batas defisit tersebut bagi persepsi investor sehingga diperkirakan tetap menjaga defisit APBN di bawah ambang 3%.
Bagi investor, perhatian tidak hanya tertuju pada besarnya defisit, tetapi juga kemampuan negara membiayainya, tujuan penggunaan dana, serta kualitas aset yang dihasilkan.
“Saya tidak berpikir batas 3% akan dihapus,” katanya.
Rahul melihat salah satu tantangan Indonesia terletak pada kedalaman sumber pembiayaan domestik. Dia membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara berkembang lain yang mampu membiayai defisit lebih besar karena memiliki sektor perbankan dan investor institusi domestik yang lebih dalam.
Menurut penilaian BofA, penguatan pasar keuangan domestik, peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal, pengelolaan saldo kas pemerintah, serta pengurangan ketergantungan pada modal asing dapat memperbesar kapasitas pembiayaan fiskal Indonesia.
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.200
Tekanan eksternal menjadi salah satu faktor yang mendasari proyeksi nilai tukar rupiah versi BofA. Bank tersebut memperkirakan rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026 dan Rp18.200 per dolar AS pada akhir 2027.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi nilai tukar dalam APBN 2027 yang ditetapkan sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Rahul menilai tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari kombinasi suku bunga Federal Reserve atau The Fed yang tinggi, harga energi, serta pergeseran arus modal global.
BofA memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada sisa 2026. Kondisi tersebut dapat membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor sekaligus menambah tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kalau suku bunga AS tinggi dan harga energi tinggi, baik neraca modal maupun transaksi berjalan akan berada di bawah tekanan,” ujar Rahul.
Dengan demikian, proyeksi BofA untuk 2027 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat, sementara inflasi diperkirakan melandai. Namun, tekanan eksternal masih menjadi tantangan bagi nilai tukar rupiah dan pengelolaan fiskal pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
