PortalRakyat, JOGJA—BYD menjadi merek mobil asal China dengan penjualan retail tertinggi di Indonesia pada September 2026, mencapai 7.421 unit. Jaecoo menempati posisi berikutnya dengan 3.400 unit, sedangkan persaingan di bawah dua merek tersebut berlangsung ketat, terutama antara Wuling dan Geely yang hanya terpaut 51 unit.
Data penjualan retail Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa kinerja merek-merek otomotif yang bersaing di pasar Indonesia tidak bergerak seragam. Sejumlah merek membukukan kenaikan dibandingkan Agustus, sementara merek lain mengalami penurunan, termasuk Chery yang penjualan bulanannya merosot hampir 40%.
Perbedaan ini menjadi gambaran persaingan di tengah semakin beragamnya pilihan mobil, termasuk kendaraan listrik dan SUV dari merek-merek China. Namun, angka penjualan satu bulan belum cukup untuk menentukan keberhasilan jangka panjang setiap produsen.
BYD Unggul Jauh dari Jaecoo
BYD mencatat penjualan retail sebanyak 7.421 unit pada September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus yang mencapai 6.861 unit, atau bertambah 560 unit dalam satu bulan. Kenaikannya setara sekitar 8,2%.
Capaian tersebut membuat BYD mempertahankan posisi sebagai merek mobil China dengan penjualan retail tertinggi dalam daftar yang dibahas. Kinerja ini juga sejalan dengan posisi BYD di pasar otomotif nasional, karena merek tersebut menempati urutan ketiga dalam daftar penjualan retail seluruh merek pada September, di bawah Toyota dan Daihatsu.
Jaecoo berada di posisi kedua dengan 3.400 unit, naik 100 unit dibandingkan Agustus yang mencatatkan 3.300 unit. Pertumbuhan tersebut mencapai sekitar 3% secara bulanan.
Meski selisih penjualannya masih cukup jauh dari BYD, Jaecoo menunjukkan kinerja stabil selama dua bulan tersebut. Pada September, jumlah penjualan retail dan distribusi wholesales Jaecoo sama-sama tercatat 3.400 unit.
Wuling dan Geely Hanya Terpaut 51 Unit
Persaingan berikutnya berlangsung antara Wuling dan Geely. Wuling mencatat penjualan retail sebanyak 2.074 unit pada September, sedangkan Geely membukukan 2.023 unit. Selisih kedua merek tersebut hanya 51 unit.
Wuling mengalami kenaikan dari 1.850 unit pada Agustus menjadi 2.074 unit pada September. Artinya, penjualan bertambah 224 unit atau sekitar 12,1% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebaliknya, Geely mengalami penurunan dari 2.158 unit pada Agustus menjadi 2.023 unit pada September. Selisihnya mencapai 135 unit, setara penurunan sekitar 6,3%. Pergerakan berlawanan itu membuat Wuling berada di atas Geely dalam data retail September yang digunakan dalam naskah.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume penjualan secara keseluruhan. Perubahan permintaan dari satu bulan ke bulan berikutnya juga dapat memengaruhi posisi relatif masing-masing merek.
Penjualan Chery Turun 39,3%
Di kelompok dengan volume penjualan lebih rendah, VinFast mencatat 679 unit, Xpeng sebanyak 535 unit, dan MG sebanyak 511 unit pada September 2026. Setelah itu, Chery membukukan 466 unit, Aion 404 unit, dan GWM 145 unit.
VinFast perlu dibedakan dari merek-merek China karena produsen tersebut berasal dari Vietnam. Sementara itu, MG merupakan merek berakar dari Inggris yang sekarang berada di bawah SAIC Motor dari China. Karena itu, daftar ini lebih tepat dibaca sebagai perbandingan sejumlah merek yang bersaing di pasar Indonesia, bukan daftar eksklusif merek yang semuanya berasal dari China.
Perubahan paling besar dalam kelompok tersebut terlihat pada Chery. Penjualan retail merek ini turun dari 768 unit pada Agustus menjadi 466 unit pada September. Selisih 302 unit tersebut setara penurunan sekitar 39,3% secara bulanan.
Penurunan itu menjadi kontras dengan BYD, Jaecoo, dan Wuling yang sama-sama membukukan kenaikan pada periode yang sama. Namun, data bulanan tidak menjelaskan dengan sendirinya penyebab perubahan tersebut. Untuk mengetahui faktor di baliknya, diperlukan informasi tambahan mengenai ketersediaan model, pasokan kendaraan, distribusi, strategi promosi, dan permintaan konsumen.
Data Retail dan Wholesales Menunjukkan Gambaran Berbeda
Selain penjualan retail, data wholesales atau distribusi kendaraan dari pabrik ke dealer juga menjadi indikator penting untuk membaca perkembangan pasar otomotif. Kedua angka tersebut mengukur tahapan berbeda: retail mencerminkan penjualan dari dealer kepada konsumen, sedangkan wholesales menunjukkan distribusi dari pabrik ke dealer.
Pada September 2026, BYD mencatat wholesales sebanyak 6.031 unit, diikuti Jaecoo dengan 3.400 unit dan Wuling sebanyak 2.031 unit. Angka tersebut menempatkan BYD di posisi teratas di antara merek-merek China dalam distribusi kendaraan untuk periode tersebut.
Selisih antara retail dan wholesales tidak selalu berarti kendaraan belum terjual atau menumpuk di dealer. Angka keduanya dapat berbeda karena waktu pengiriman, pencatatan transaksi, dan pergerakan stok kendaraan. Oleh sebab itu, kedua indikator sebaiknya dibaca secara terpisah sebelum menarik kesimpulan mengenai permintaan pasar.
Secara keseluruhan, BYD masih memimpin penjualan retail dalam daftar ini, sedangkan Jaecoo mempertahankan posisi kedua. Wuling memperlebar jarak tipis dari Geely pada September, sementara penurunan Chery menjadi perubahan bulanan paling menonjol di antara angka yang dicantumkan.
Perkembangan beberapa bulan berikutnya akan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai apakah kenaikan penjualan dapat dipertahankan dan apakah merek-merek dengan volume lebih kecil mampu memperkuat posisinya di pasar Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
