IHSG Ditutup Menguat 0,40 Persen, Pasar Nantikan Respons BI Usai The Fed Hawkish

PortalRakyat, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Penguatan terjadi ketika pelaku pasar mencermati langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dan mempertahankan sikap hawkish.

IHSG ditutup naik 25,58 poin atau 0,40 persen ke level 6.462,43. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 1,42 poin atau 0,22 persen ke posisi 648,38.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, mengatakan kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan terhadap BI. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menantikan arah kebijakan moneter BI berikutnya.

“Kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan ke Bank Indonesia (BI) sehingga pasar menantikan langkah kebijakan moneter selanjutnya dari BI,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Pasar Menunggu RDG Bank Indonesia

Dari dalam negeri, Nico mengatakan BI menghadapi dilema dalam menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, kebijakan perlu menjaga keseimbangan antara pro-stability dan pro-growth, sementara di sisi lain BI juga perlu menjaga agar modal asing tidak keluar secara masif.

BI dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan pada 22-23 September 2026 pekan depan. Agenda tersebut menjadi perhatian pelaku pasar setelah keputusan terbaru The Fed terkait suku bunga.

Selain kebijakan moneter, pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Nico mengatakan koreksi harga minyak setidaknya memberikan ruang bagi kondisi APBN sehingga pemerintah tidak terdesak untuk meningkatkan anggaran subsidi secara drastis.

Kondisi tersebut juga mengurangi kebutuhan untuk mengambil kebijakan tidak populer, seperti menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah periode berjalan.

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps

Dari pasar global, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 3,75-4,00 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023 dan disertai sinyal bahwa kenaikan lain masih dapat terjadi pada akhir 2026.

Ketua Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih berada pada level yang terlalu tinggi. Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga sekaligus mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Sikap tersebut menjadi salah satu perhatian pasar karena kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan arah kebijakan moneter negara lain, termasuk Indonesia.

Harga Minyak Mulai Terkoreksi

Dari sisi geopolitik, harga minyak dunia mengalami koreksi di tengah harapan Arab Saudi dapat memulihkan aliran energi melalui pipa Timur-Barat.

Penurunan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat (AS) menyatakan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang mengalami kerusakan dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Perkembangan itu mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi setelah harga minyak mentah sebelumnya mengalami lonjakan.

“Dengan penurunan harga minyak di tengah ekspektasi bahwa aliran minyak mentah melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dapat segera dilanjutkan, mengurangi tekanan pada ekonomi negara yang bergantung pada minyak,” ujar Nico.

Pasar Cermati Hubungan AS-China

Pelaku pasar juga mencermati agenda pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan China pada akhir pekan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari pembicaraan persiapan sebelum pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping pada 24 September di AS.

“Meskipun pertemuan mendatang diharapkan dapat membantu memperbaiki hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia, namun pasar tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang masih ada mengenai tarif, sanksi, dan ketegangan geopolitik, termasuk yang melibatkan Taiwan dan Timur Tengah,” ujar Nico.

Sepuluh Sektor IHSG Menguat

IHSG dibuka menguat pada perdagangan Kamis dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks kembali bertahan di zona hijau sampai perdagangan saham berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor mengalami penguatan. Sektor barang konsumen nonprimer memimpin kenaikan dengan penguatan 1,79 persen.

Berikutnya, sektor energi menguat 1,18 persen dan sektor barang konsumen primer naik 0,77 persen.

Sementara itu, hanya satu sektor yang melemah, yakni sektor kesehatan dengan penurunan 0,58 persen.

Sejumlah saham yang mencatat penguatan harga terbesar adalah AYLS, ASPI, TEBE, POLA dan FILM. Adapun saham dengan pelemahan harga terbesar yakni AGAR, SAPX, FORU, FLMC dan JAYA.

Transaksi Saham Capai Rp13,86 Triliun

Frekuensi perdagangan saham pada Kamis tercatat sebanyak 1.850.000 kali transaksi. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 27,49 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp13,86 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 407 saham menguat, 255 saham melemah, sedangkan 301 saham tidak bergerak.

Di pasar regional Asia, sejumlah indeks juga mencatat pergerakan beragam. Indeks Nikkei menguat 0,53 persen ke 64.261,00, sedangkan indeks Shanghai melemah 0,41 persen ke 3.875,60.

Indeks Hang Seng turun 0,44 persen ke 24.604,29, sementara indeks Kospi melemah 0,04 persen ke 6.715,41. Di sisi lain, indeks Straits Times menguat 0,41 persen ke 5.658,24.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *