Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. – istock
PortalRakyat, MANADO—Stasiun Geofisika Manado mencatat sebanyak 515 kali gempa tektonik menggetarkan wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya pada periode Agustus 2026.
“Berdasarkan data yang dihimpun oleh BMKG melalui Stasiun Geofisika Manado, tercatat sebanyak 515 kejadian gempa bumi yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya,” kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado Muhammad Zulkifli di Manado, Kamis.
Berdasarkan distribusi kedalaman hiposenter, aktivitas gempa bumi didominasi oleh gempa bumi dangkal yang terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer.
Sementara itu, berdasarkan magnitudonya, gempa bumi yang terjadi memiliki rentang magnitudo mulai dari M2,1 hingga gempa bumi terbesar berkekuatan M6,5.
Dari keseluruhan kejadian tersebut, sebanyak enam gempa bumi dilaporkan dirasakan oleh masyarakat di wilayah Halmahera Utara, Ternate, Tidore, Sanana, Morotai, Boltim, Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, Labuha.
Selanjutnya, Naha Kepulauan Sangihe, Manado, Minahasa Selatan, Minahasa, Minahasa Tenggara, Halmahera Barat, Sofifi, dan Batang Dua.
Berdasarkan peta seismisitas dan distribusi episenter, aktivitas gempabumi selama periode tersebut terkonsentrasi pada beberapa wilayah utama.
Ketiga wilayah utama tersebut mencakup Laut Maluku, Teluk Tomini dan Laut Sulawesi. “Konsentrasi aktivitas tersebut menunjukkan tingginya dinamika tektonik di kawasan pertemuan lempeng dan zona subduksi di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara,” katanya.
Kejadian gempa yang terjadi pada periode Agustus lebih sedikit bila dibandingkan dengan aktivitas gempa sepanjang bulan Juli yaitu sebanyak 532 kejadian gempa bumi.
Mitigasi juga dapat dilakukan dengan memperkuat kesiapan infrastruktur dan fasilitas publik di wilayah yang memiliki potensi bencana.
Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memastikan bangunan, jalan, jembatan, jaringan komunikasi, serta fasilitas kesehatan memiliki kesiapan menghadapi kondisi darurat. Penataan ruang juga menjadi bagian penting agar pembangunan tidak memperbesar risiko di kawasan yang rawan bencana.
Kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun hingga tingkat keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Masyarakat dapat menyiapkan tas siaga bencana, mengetahui lokasi titik kumpul, menyimpan dokumen penting dengan aman, serta memahami jalur evakuasi yang tersedia. Informasi mengenai potensi bencana juga perlu disampaikan secara mudah dipahami sehingga warga dapat mengambil tindakan tanpa menunggu kepanikan meluas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
