Taman Budaya. – Foto ilustrasi dibuat oleh AI/ChatGPT
PortalRakyat, JOGJA— Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan menghadiri Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV di Jogja. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga wadah pertukaran pengalaman dalam pengelolaan kebudayaan antardaerah.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan Temu Karya Taman Budaya tahun ini diarahkan untuk memperluas pertukaran praktik pengelolaan kebudayaan. Para peserta diharapkan tidak sekadar hadir untuk menyaksikan berbagai pertunjukan yang digelar selama kegiatan.
Dari 26 Taman Budaya yang ada di Indonesia, sebanyak 17 Taman Budaya hadir dalam kegiatan tersebut. Menurut Dian, jumlah peserta yang datang cukup besar, bahkan salah satu Taman Budaya membawa hingga 80 peserta.
“Ini tidak hanya mereka datang dan melihat tampilan, tetapi ada sesuatu yang dibawa, sesuatu yang dipelajari, dan sesuatu yang kemudian dipraktikkan,” kata Dian, Senin (21/9/2026).
Ia berharap pengalaman selama berada di Jogja dapat dibawa pulang oleh para pengelola Taman Budaya untuk dikembangkan di daerah masing-masing.
Praktik baik yang ditemui selama kegiatan juga diharapkan dapat diterapkan dengan menyesuaikan kondisi setiap daerah. Dian menyebut pendekatan tersebut sebagai ATM atau Amati, Tiru, Modifikasi.
Dengan pendekatan tersebut, Temu Karya diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pertemuan antarpengelola Taman Budaya diharapkan menghasilkan pertukaran pengetahuan yang dapat terus dikembangkan.
Rangkaian Seni Libatkan Masyarakat
Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Purwiati, mengatakan rangkaian Temu Karya juga diisi dengan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan masyarakat.
Salah satunya melalui Suluh Sumurup Art Festival bertema “Maneges” yang berlangsung 24 September-2 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menampilkan 193 karya dari 131 seniman difabel.
Festival itu juga melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi serta enam Taman Budaya. Selain Suluh Sumurup Art Festival, rangkaian kegiatan juga mencakup Pojok Kreatif Taman Budaya pada 27 September-2 Oktober.
Kemudian terdapat konser musik orkestra pada 28 September, Gelar Karawitan “Ndang Tak Gong” pada 29 September, serta aksi membatik bersama menggunakan kain sepanjang 25 meter pada 2 Oktober.
“Semua rangkaian kegiatan ini dihadirkan sekaligus menjadi ruang interaksi masyarakat dengan pelaku seni dan budaya dari berbagai daerah,” pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
