Dokter. – Ilustrasi Freepik
PortalRakyat, SLEMAN— Isu dugaan wabah pes di Irkutsk, Siberia, Rusia, menjadi pengingat pentingnya pengawasan penyakit menular dan kesiapan sistem kesehatan. Pakar mikrobiologi klinik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Tri Wibawa, mengimbau masyarakat agar tetap waspada tanpa terjebak kepanikan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM itu menilai informasi mengenai situasi di Rusia perlu disikapi secara hati-hati. Menurut dia, hingga kini belum ada kejelasan apakah kejadian tersebut benar merupakan penyakit pes atau penyakit lain.
“Hingga saat ini belum jelas apa yang terjadi di Rusia, apakah merupakan penyakit pes ataukah bentuk penyakit yang lainnya. Sehingga tidak dapat berspekulasi untuk penyebaran dan mekanisme penularannya di Indonesia,” tegas Tri pada Senin (12/10/2026).
Meski situasi di Rusia belum dipastikan, Tri mengingatkan bahwa kewaspadaan terhadap penyakit pes tetap diperlukan. Bakteri Yersinia pestis atau Y. pestis masih dapat ditemukan pada hewan pengerat liar yang berpotensi menjadi perantara penyebaran penyakit.
“Dengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia,” tuturnya.
Mengenal Cara Penularan Penyakit Pes
Tri menjelaskan, pes merupakan penyakit infeksi yang dapat menular melalui gigitan pinjal terinfeksi, terutama pinjal yang hidup pada tikus. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi, serta droplet yang mengandung bakteri.
Salah satu bentuk penyakit pes yang perlu diwaspadai adalah pneumonic plague atau pes pneumonik. Jenis ini menyerang jaringan paru-paru dan dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia melalui droplet.
Surveilans Tikus dan Kesiapan Tenaga Kesehatan
Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus pes, Tri menekankan perlunya penguatan surveilans secara berkesinambungan. Pengawasan tersebut terutama diarahkan untuk memantau keberadaan bakteri Y. pestis pada vektor, khususnya tikus.
Selain surveilans, pengendalian populasi tikus juga perlu mendapat perhatian. Hewan pengerat tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang berdekatan dengan kehidupan manusia sehingga pengendaliannya menjadi salah satu langkah yang disarankan untuk mengantisipasi risiko penyakit pes.
Kesiapan sistem pelayanan kesehatan dan tenaga medis dalam mengenali penyakit ini juga perlu diperkuat. Tri menilai kemampuan tersebut penting karena penyakit pes sudah lama tidak ditemukan pada manusia di Indonesia. Dengan demikian, tenaga kesehatan perlu memiliki kesiapan untuk mengenali gejala dan memberikan penanganan yang tepat.
Tri menegaskan penanganan yang cepat menjadi hal penting apabila penyakit tersebut ditemukan. Ia secara khusus menyoroti ketepatan pemberian antibiotik dalam pengobatan pes.
“Terapi antibiotik yang cepat dan tepat menjadi kunci dari penanganan penyakit ini,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
