Kisah Veda Ega Pratama, dari Minibike hingga Podium Dunia

PortalRakyat, GUNUNGKIDUL—Nama Veda Ega Pratama menjadi salah satu sorotan baru dalam balap motor internasional. Pembalap asal Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, itu mencatatkan sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix setelah finis di posisi ketiga GP Brasil.

Pencapaian tersebut menjadi bagian penting perjalanan Veda yang kini berkompetisi di kelas Moto3 bersama Honda Team Asia pada musim 2026. Di usianya yang baru 17 tahun, dia terus berupaya menjaga performa di tengah persaingan pembalap muda dari berbagai negara.

Veda lahir di Wonosari pada 23 November 2008. Perjalanan menuju kejuaraan dunia dimulai sejak kecil, ketika dia mengenal minibike pada usia lima tahun dan mulai mengikuti kompetisi setahun kemudian.

Kini, pembalap yang sebelumnya menggunakan nomor 54 itu berlaga dengan nomor 9. Dari lintasan kecil hingga kejuaraan dunia, perjalanannya memperlihatkan proses panjang yang melibatkan latihan, pengalaman kompetisi, dan dukungan keluarga.

Podium GP Brasil bukan sekadar hasil satu balapan. Capaian tersebut menjadi penanda bahwa pembalap Indonesia mampu bersaing di panggung Grand Prix, sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan karier Veda.

Berawal dari minibike pada usia lima tahun

Ketertarikan Veda terhadap balap motor tumbuh sejak berusia lima tahun. Saat itu, dia mulai mengendarai minibike, kendaraan kecil yang menjadi sarana awal untuk mengenal keseimbangan, karakter motor, dan pengalaman berkendara di lintasan.

Ketika berumur enam tahun, Veda mulai mengikuti perlombaan. Sejak usia dini, dia sudah berhadapan dengan latihan, persaingan, dan tuntutan untuk terus meningkatkan kemampuan.

Perjalanan tersebut tidak lepas dari peran ayahnya, Sudarmono. Sang ayah merupakan mantan pembalap yang pernah berkompetisi di Kejuaraan Nasional Supersport 600 sehingga memahami tuntutan dan tantangan dalam olahraga balap motor.

Pengalaman Sudarmono menjadi bekal tersendiri dalam mendampingi perkembangan Veda. Menurut kisah perjalanan yang disampaikan, dukungan sang ayah bukan hanya berupa dorongan moral, tetapi juga pemahaman teknis dan bantuan untuk membuka jalan menuju kompetisi.

Sudarmono bahkan menjadi sponsor pertama bagi putranya. Dukungan keluarga memberi ruang bagi Veda untuk mengembangkan bakat dan menekuni balap motor sejak kecil.

Hasil dari proses tersebut mulai terlihat pada 2019. Ketika berusia 10 tahun, Veda berhasil menjadi juara Kejuaraan Nasional Balap Underbone.

Gelar nasional itu menjadi salah satu pencapaian awal yang mengantarkannya menuju persaingan lebih luas. Setelah berkompetisi di tingkat nasional, Veda melanjutkan pengembangan kemampuannya melalui Asia Talent Cup, ajang pembinaan pembalap muda di kawasan Asia.

Kompetisi tersebut memberinya pengalaman menghadapi pembalap dari berbagai latar belakang serta beradaptasi dengan karakter sirkuit yang berbeda. Dia juga harus membangun konsistensi, memperbaiki catatan waktu, dan mengevaluasi penampilan dari satu balapan ke balapan berikutnya.

Dalam perjalanan sebagai atlet, setiap perlombaan menghadirkan pengalaman yang dapat digunakan untuk memperbaiki performa. Kemampuan membaca situasi, mengambil keputusan, dan menjaga ketenangan menjadi bagian penting dari proses menuju level kompetisi yang lebih tinggi.

Casey Stoner menjadi salah satu inspirasi

Selain memperoleh pendampingan dari keluarga, Veda memiliki sosok yang dikagumi dalam dunia balap motor, yakni Casey Stoner. Pembalap asal Australia tersebut merupakan anggota MotoGP Hall of Fame dan dua kali menjuarai kelas utama, pada 2007 dan 2011.

Stoner menjadi salah satu figur yang menginspirasi Veda dalam membangun cita-cita sebagai pembalap profesional. Perjalanan seorang atlet memang tidak hanya berkaitan dengan latihan dan hasil perlombaan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sosok yang menjadi rujukan dalam mengejar prestasi.

Dari minibike, kejuaraan nasional, hingga Asia Talent Cup, Veda terus menapaki jenjang kompetisi. Perjalanan itu akhirnya membawanya ke Moto3 bersama Honda Team Asia pada musim 2026.

Persaingan di kelas tersebut mempertemukannya dengan pembalap muda dari berbagai negara. Setiap seri menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman dan mengukur kemampuan menghadapi tuntutan kejuaraan dunia.

Podium ketiga GP Brasil menjadi salah satu hasil paling penting dalam perjalanan tersebut. Pencapaian itu juga membuat perhatian terhadap kiprah pembalap Indonesia di Grand Prix semakin besar.

Meski demikian, hasil tersebut bukan akhir dari perjuangan Veda. Dia masih harus menjalani berbagai seri dan menjaga konsistensi agar dapat terus berkembang di tengah persaingan.

Berasal dari Wonosari, Veda membawa identitas Indonesia ke lintasan internasional. Setiap penampilannya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkenalkan potensi pembalap Tanah Air.

Tidak ingin terbebani target menuju MotoGP

Setelah mencetak sejarah melalui podium GP Brasil, Veda menghadapi perhatian publik yang semakin besar. Namun, dia memilih tetap berfokus pada proses pengembangan diri daripada membiarkan harapan orang lain menjadi beban.

Menurut Veda, kerja keras dan kemampuan menjaga konsentrasi merupakan hal utama untuk mempertahankan performa.

“Untuk menjaga tentunya ya harus terus bekerja keras saja, jangan sampai kehilangan fokus,” kata Veda saat diwawancarai ANTARA.

Dia tidak ingin terlena oleh pencapaian yang telah diraih. Sebaliknya, hasil balapan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki penampilan pada seri berikutnya.

Moto3 merupakan salah satu tahapan dalam perjalanan menuju kelas utama MotoGP. Persaingan di jenjang ini menuntut pembalap terus meningkatkan kecepatan, memahami karakter motor, dan mengambil keputusan dengan tepat ketika berada di lintasan.

Meski memiliki impian untuk tampil di MotoGP, Veda tidak menetapkan batas usia tertentu untuk mencapai kelas tersebut. Dia memilih menjalani setiap tahapan secara bertahap dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Bagi Veda, bisa berkompetisi di Moto3 saja sudah menjadi pencapaian penting karena sebelumnya dia hanya membayangkan kesempatan tampil di kejuaraan dunia. Karena itu, dia ingin menggunakan pengalaman saat ini untuk memperkuat kemampuannya sebelum melangkah lebih jauh.

Pendekatan tersebut membuatnya tidak terburu-buru mengejar target yang belum tentu dapat dicapai sesuai jadwal. Dia lebih memilih menjaga konsistensi latihan, belajar dari pengalaman, dan mempertahankan fokus terhadap hal-hal yang bisa dikendalikan.

Veda juga tidak ingin terlalu memikirkan penilaian negatif dari luar. Dia memilih menjaga pikiran tetap positif dan mengarahkan perhatian pada persiapan serta penampilannya di lintasan.

Dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan itu. Sejak mulai mengenal minibike, Veda telah didampingi orang tuanya, termasuk Sudarmono yang memiliki pengalaman sebagai mantan pembalap.

Pengalaman sang ayah membuat keduanya memiliki bekal untuk memahami tantangan dalam olahraga tersebut. Di balik penampilan seorang pembalap di podium, terdapat dukungan banyak pihak, mulai dari keluarga, tim, mekanik, hingga pelatih yang membantu mempersiapkan penampilan.

Bagi Veda, pendampingan keluarga sejak kecil menjadi salah satu hal yang paling berkesan. Dukungan tersebut terus menyertainya ketika menghadapi persaingan yang semakin kompetitif di tingkat internasional.

Finis keenam di Mandalika

Pada usia 17 tahun, perjalanan Veda di Moto3 masih memberikan banyak kesempatan untuk berkembang. Pengalaman menghadapi beragam sirkuit, strategi tim, dan karakter lawan menjadi bekal untuk meningkatkan performa.

Salah satu hasil yang dicatatkannya pada musim 2026 adalah finis di posisi keenam Moto3 GP Indonesia. Balapan tersebut berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (11/10).

Hasil itu menjadi bagian dari kiprahnya di depan publik sendiri. Setelah mencatatkan podium di GP Brasil, Veda kembali berusaha menunjukkan kemampuan dalam persaingan Moto3.

Di tengah perhatian terhadap pencapaiannya, ada tujuan lain yang ingin terus dibawanya ketika berlaga di luar negeri, yakni mengharumkan nama Indonesia.

“Saya mencintai bangsa serta negara ini dan berharap bisa lebih mengharumkan nama Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan motivasi yang menyertai perjalanan Veda. Baginya, karier balap tidak hanya berkaitan dengan catatan waktu dan posisi finis, tetapi juga kesempatan membawa nama Indonesia dalam kompetisi internasional.

Podium GP Brasil telah menjadi tonggak penting bagi pembalap muda asal Gunungkidul itu. Namun, jalan menuju MotoGP masih panjang dan membutuhkan kerja keras serta konsistensi.

Perjalanan dari Wonosari hingga panggung dunia menunjukkan proses panjang yang dimulai dari usia dini. Dengan dukungan keluarga dan fokus pada setiap tahapan, Veda berupaya terus berkembang di tengah persaingan pembalap terbaik dunia.

Kecepatan memang menentukan hasil di lintasan. Namun, bagi Veda, kerja keras, kesabaran, dan kemampuan menjaga fokus juga menjadi bagian penting untuk melanjutkan perjalanan menuju impian yang lebih besar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *