Penggalangan donasi yang digelar dalam Malam Berbagi Jogja, Selasa (6/10/2026) malam. – Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
PortalRakyat, JOGJA— Donasi sebesar Rp909.027.500 terkumpul dalam Malam Berbagi Jogja yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, Selasa (6/10/2026). Dana tersebut akan digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan, terutama melalui program bedah rumah dan bantuan pendidikan.
Ketua BAZNAS Kota Jogja Abd. Samik mengatakan bantuan bedah rumah menjadi salah satu prioritas karena masih ada warga yang tinggal di rumah tidak layak huni, tetapi tidak seluruhnya dapat mengakses bantuan pemerintah.
Persoalan administrasi kepemilikan rumah menjadi salah satu kendala. Di sisi lain, sebagian warga memiliki kemampuan ekonomi terbatas sehingga tidak mampu memperbaiki rumah secara mandiri.
“Banyak di antara mereka menghuni rumah yang tidak layak sesungguhnya untuk manusia. Kadang-kadang ada sebutan kok rumahnya seperti kandang doro,” kata Samik.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama karena rumah tidak layak huni masih dapat ditemukan di tengah kawasan perkotaan yang berkembang.
“Di balik kemewahan yang ada di Kota Yogyakarta ini ternyata ada hal-hal yang perlu kita perhatikan bersama-sama,” ujarnya.
Target 52 Rumah dari Donasi BAZNAS
Samik mengatakan BAZNAS Kota Jogja menargetkan sedikitnya 52 rumah dapat dibedah hingga akhir 2026. Dengan dana yang terkumpul dalam Malam Berbagi Jogja, ia optimistis jumlah rumah yang dapat dibantu berpotensi bertambah.
Penggalangan dana juga belum berhenti pada acara tersebut. Pemerintah Kota Jogja menyebut proses pengumpulan bantuan masih akan berlangsung selama sekitar tiga bulan ke depan.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menargetkan secara keseluruhan sebanyak 200 rumah tidak layak huni dapat diperbaiki hingga akhir tahun. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dan gotong royong tanpa mengandalkan APBD maupun APBN.
Target 200 rumah itu bukan sasaran baru. Pemkot sebelumnya telah menetapkannya sebagai target perbaikan RTLH sepanjang 2026 dan menjalankannya bersama BAZNAS, organisasi perangkat daerah, serta masyarakat.
Hasto mengatakan skema gotong royong diperlukan untuk menjangkau warga yang terkendala persyaratan bantuan pemerintah.
“Dia untuk makan saja sudah ibaratnya pas-pasan. Sehingga hidup bertahun-tahun itu sampai ibaratnya sampai dia akhir hayat pun tidak punya harapan dan tidak punya mimpi bisa membangun rumahnya,” kata Hasto.
Menurut Hasto, bantuan yang dikumpulkan dalam Malam Berbagi Jogja akan dikejar pengerjaannya dalam tiga bulan ke depan.
Bantuan Pendidikan Ikut Disasar
Selain bedah rumah, dana yang terkumpul juga diarahkan untuk membantu warga yang menghadapi persoalan biaya pendidikan.
Hasto mengatakan Pemkot Jogja telah memiliki data warga dari 45 kelurahan yang membutuhkan bantuan pendidikan. Dari 269 pengajuan yang terdata, sekitar 75 pengajuan berkaitan dengan kebutuhan pendidikan, sementara mayoritas lainnya merupakan permintaan bantuan perbaikan rumah.
Bantuan pendidikan diberikan sesuai kebutuhan penerima. Persoalannya antara lain tunggakan biaya sekolah hingga kebutuhan agar siswa dapat mengambil rapor atau melanjutkan pendidikan.
Hasto menilai persoalan hunian dan pendidikan juga dapat saling berkaitan. Keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan tempat tinggal tidak jarang menghadapi persoalan biaya sekolah anak.
Samik mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan bantuan tidak cukup hanya diarahkan pada satu persoalan.
“Banyak di antara penghuni rumah yang rumahnya tidak layak tadi juga anaknya banyak yang putus sekolah. Nah, itu yang sekaligus menjadi pikiran kita semua,” ujarnya.
Dengan demikian, donasi Malam Berbagi Jogja tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki bangunan rumah, tetapi juga membantu kebutuhan dasar lain yang berpotensi menghambat warga, termasuk keberlanjutan pendidikan anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
