PortalRakyat, SLEMAN—Sejuknya udara Kaliurang menjadi latar bagi sebuah destinasi wisata edukasi yang mengajak pengunjung melihat sejarah Indonesia dari dua sisi, rempah dan busana. Museum Anaia & Alisha dan Museum Rempah berada di kawasan Hargobinangun, Pakem, Sleman, menghadirkan koleksi serta narasi tentang perjalanan rempah Nusantara hingga filosofi busana tradisional Indonesia.
Museum yang dikenal sebagai Museum Nusantara tersebut tidak hanya menyajikan benda-benda koleksi. Pengunjung diajak memahami bagaimana cengkeh dan pala dari Maluku pernah memiliki peran penting dalam jalur pelayaran, perdagangan, hingga diplomasi ekonomi global.
Founder Museum Anaia & Alisha, Arman Yahya, mengatakan museum tersebut dibangun untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang interaktif dan menyenangkan bagi berbagai kalangan.
“Kami ingin museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan benda antik atau sekadar spot berfoto. Di sini, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa sesuatu yang tampak sederhana seperti bumbu dapur di rumah memiliki sejarah yang pernah mengubah peta perdagangan dunia,” ujar Arman, Selasa (6/10/2026).
Menelusuri Perjalanan Rempah Nusantara
Salah satu bagian utama museum adalah Museum Rempah atau Spices. Area ini menyajikan sejarah cengkeh dan pala asal Maluku serta kaitannya dengan terbentuknya jalur pelayaran dan diplomasi ekonomi global.
Penyampaian materi dilakukan melalui infografis visual, display tematik, dan narasi interaktif. Rempah tidak hanya ditempatkan sebagai komoditas penyedap masakan, tetapi juga dikaitkan dengan peradaban, pengobatan tradisional, serta pertukaran budaya antarbangsa.
Arman mengatakan museum juga memberikan gambaran mengenai perjalanan rempah yang menjadi salah satu cikal bakal berkembangnya perdagangan dunia, sistem saham VOC pada 1602, hingga lahirnya industri perkebunan di Indonesia.
Melalui narasi tersebut, ia berharap generasi muda dapat memperoleh inspirasi untuk menjadi pengusaha yang mandiri dan berdikari.
Busana Nusantara dan Nilai Kehormatan
Selain rempah, Museum Anaia & Alisha di kompleks ini juga terdapat Museum Busana Nusantara. Bagian ini menampilkan keragaman pakaian adat daerah, perhiasan, filosofi busana, hingga sejarah representasi perempuan dalam ajang Putri Citra Indonesia.
Arman mengatakan koleksi busana tersebut juga membawa pesan moral mengenai karakter dan kehormatan perempuan.
“Melalui busana tradisional, kami ingin menyampaikan pesan bahwa kecantikan sejati seorang perempuan tidak hanya terpancar dari tampilan luar, tetapi juga dari inner beauty, akhlak, kepribadian, serta kesantunan. Busana adalah cermin bagaimana masyarakat kita menjaga nilai-nilai luhur budaya,” tuturnya.
Dalam pengembangan bagian busana, Amran mengaku bekerja sama dengan Yayasan Arkatama Kebaya Indonesia. Hal itu dilakukan karena ia memiliki keahlian di bidang rempah, sementara busana bukan bidang yang dikuasainya.
Museum ini berada di Jl. Kesehatan 1–3, Kawasan Wisata Kaliurang KM 22, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Kehadirannya diharapkan menjadi salah satu pilihan wisata edukatif bagi keluarga, pelajar, maupun wisatawan umum.
Ada Edukasi Perlindungan Satwa
Narasi yang ditawarkan museum tidak berhenti pada sejarah dan kebudayaan. Sejumlah koleksi juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan perlindungan satwa endemik Indonesia.
Arman menyebut terdapat koleksi yang berkaitan dengan harimau Jawa, gajah, hingga tapir di Sumatra. Satwa-satwa tersebut disebut menghadapi ancaman, termasuk konflik lahan dengan manusia.
“Di sini ada koleksi tentang harimau Jawa, gajah, hingga tapir di Sumatra yang sering terancam akibat konflik lahan dengan manusia. Kita ingin menginspirasi orang bahwa hewan-hewan ini perlu perlindungan. Kalau bukan kita yang melindungi, siapa lagi?” tegasnya.
Melalui berbagai koleksi tersebut, ia berharap pengunjung tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga membawa pulang rasa bangga terhadap warisan leluhur.
“Melestarikan budaya itu bukan sekadar merawat benda-benda masa lalu, tetapi memastikan nilai-nilai kebaikannya tetap hidup dan diwariskan ke generasi mendatang,” kata Arman.
Nama Museum Anaia & Alisha juga memiliki cerita tersendiri. Arman mengungkapkan nama tersebut diambil dari nama kedua cucunya.
Pemberian nama itu menjadi simbol legacy atau warisan keluarga sekaligus strategi agar keberadaan museum dapat dipertahankan dan diteruskan lintas generasi.
“Saya dedikasikan museum ini untuk ibu saya dan ibu istri saya, serta untuk cucu-cucu saya supaya mereka menjaga. Kalau dikasih ke anak, nanti bisa dijual. Tapi kalau ke cucu, anak akan menjaga demi cucunya, paling tidak bisa extend satu generasi lagi,” jelasnya.
Tak Cari Keuntungan
Arman mengatakan pembangunan museum bukan semata-mata ditujukan untuk mencari keuntungan. Sebagai museum swasta, pengelola berupaya menjaga kemandirian operasional sekaligus menetapkan harga tiket yang masih terjangkau bagi masyarakat.
Harga tiket masuk Museum Anaia & Alisha ditetapkan Rp50.000. Untuk menopang operasional, pihak museum memperbesar sektor layanan makanan dan minuman atau Food & Beverage.
Menurut Amrman, pendapatan museum pada umumnya berasal dari tiket, suvenir, serta sektor makanan dan minuman. Sektor F&B tersebut kemudian digunakan untuk membantu menyubsidi kebutuhan operasional museum.
“Bikin museum itu tidak cari untung. Di dunia ini, sumber pendapatan museum itu dari tiket, suvenir, dan makan-minum. Sektor makan-minum ini yang paling besar untuk menyubsidi yang lainnya. Dalam mencerdaskan bangsa, kita perlu museum dan perpustakaan sebagai wadah belajar nonformal,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
