BBWSSO Uji Kualitas Air Sungai Gunungkidul, Hasilnya Cemar Ringan

BBWSSO Uji Kualitas Air Sungai Gunungkidul, Hasilnya Cemar Ringan

Foto ilustrasi pipa air bersih dari sumber air. – Freepik

PortalRakyat, JOGJA—Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) telah menyelesaikan pengambilan dan pengujian sampel air di sejumlah titik sungai di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogja, untuk mengetahui kualitas air sungai di wilayah tersebut.

Ketua Tim Pelaksanaan Urusan Monev, Pelaporan, Water Resources Data Center (WRDC), dan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) BBWSSO Kisworo Rahayu di Jogja, Kamis, mengatakan langkah ini untuk mengetahui kualitas air sungai permukaan dan sungai bawah tanah yang menjadi sumber air baku di Kabupaten Gunungkidul.

“Walaupun [hasilnya] cemar ringan tetapi masih bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya dikutip Antara Kamis (17/9/2026).

Ia mengatakan pengambilan sampel dilakukan di enam titik, yakni Kali Oyo di dekat Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Sungai Bawah Tanah Bribin, Sungai Bawah Tanah Ngobaran, Sungai Bawah Tanah Seropan, Sungai Bawah Tanah Baron, dan Sungai Bawah Tanah Gua Gilap.

“Hasil (uji sampel) mulai dari memenuhi baku mutu hingga cemar ringan, beberapa lokasi memiliki kandungan amonia, total suspended solids (TSS), fosfat, tingkat keasaman (pH), dan coliform yang melebihi baku mutu,” ujarnya.

Ia menyebut pengambilan sampel kualitas air di Kabupaten Gunungkidul telah dilakukan pada Agustus dengan proses pengujian maksimal 14 hari kerja setelah sampel air dimasukkan.

“Kami antarkan sampel air dan melakukan pengujian parameter kualitas air di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat,” katanya.

Ia juga menemukan karakteristik air di Gunungkidul yang cenderung memiliki nilai total dissolved solids (TDS) lebih tinggi karena faktor alami wilayah karst, terutama pada sungai bawah tanah.

“Nilai TDS pada sungai bawah tanah cenderung lebih tinggi dibandingkan nilai TDS pada sungai permukaan,” katanya.
Menurutnya, pengambilan sampel kualitas air tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin yang dilakukan BBWSSO setiap tahun.

“Setiap tahun biasanya kami melakukan dua kali pengambilan dalam setahun yaitu saat musim penghujan dan musim kemarau,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah maupun limbah secara langsung ke badan air, melakukan pengolahan limbah dengan baik, serta menjaga vegetasi riparian sungai agar kelestarian air di Gunungkidul tetap terjaga dan tidak tercemar.

“Kami juga mengimbau masyarakat tidak membuang sampah ke dalam luweng di wilayah karst karena dapat mencemari sumber air pada sungai bawah tanah,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *