Survei Kadin, Minat Investasi Pengusaha Turun Jadi 32,4 Persen

Survei Kadin, Minat Investasi Pengusaha Turun Jadi 32,4 Persen

Foto ilustrasi investasi. – Freepik

PortalRakyat, JAKARTA—Minat pengusaha untuk melakukan investasi dalam enam bulan ke depan terus melemah. Survei Kadin Indonesia Institute mencatat hanya 32,4% pelaku usaha yang menyatakan siap berinvestasi pada kuartal III/2026, turun untuk ketiga kuartal berturut-turut.

Director of Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menjelaskan, proporsi pengusaha yang berencana berinvestasi pada kuartal III/2026 turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 34,4%. Jika dibandingkan dengan kuartal IV/2025, penurunannya mencapai 14,7 poin persentase dari posisi 47,1%.

Fakhrul menyampaikan hasil tersebut dalam pemaparan Kadin Business Pulse Q3-2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

“Proporsi [responden] tidak setuju turun dari 43,5% menjadi 40,0%, sedangkan biasa saja naik dari 22,1% menjadi 27,6% sehingga pelaku usaha yang menolak berinvestasi bergeser ke sikap wait and see, bukan ke rencana ekspansi,” papar Fakhrul di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan minat investasi tidak sepenuhnya berarti semakin banyak pengusaha yang secara tegas menolak ekspansi. Sebagian pelaku usaha justru memilih bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian kondisi bisnis.

UMKM Menghadapi Tekanan Investasi

Berdasarkan skala usaha, pelemahan sentimen investasi paling terlihat pada kelompok usaha mikro. Proporsi pelaku usaha mikro yang berminat berinvestasi turun dari 36,1% menjadi 20%.

Sementara itu, kelompok usaha kecil dan menengah mencatat proporsi penolakan investasi sebesar 48,1%. Kondisi ini menunjukkan adanya kehati-hatian yang cukup kuat di kalangan UMKM dalam mengambil keputusan ekspansi.

Kadin Indonesia Institute mengaitkan sikap menunggu tersebut dengan tekanan biaya modal dan ketidakpastian nilai tukar. Kedua faktor itu menjadi tantangan bagi pengusaha yang ingin menambah kapasitas usaha atau membeli barang modal.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% sepanjang kuartal III/2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Pada saat yang sama, rupiah mengalami depresiasi sebesar 7,74% hingga akhir September 2026.

Pelemahan rupiah turut meningkatkan biaya barang modal impor. Bagi perusahaan yang membutuhkan peralatan atau mesin dari luar negeri, kondisi tersebut dapat menambah beban investasi.

Selain faktor moneter, ketidakpastian kebijakan dan program pemerintah menjadi tantangan utama bisnis yang dikeluhkan responden. Persoalan tersebut memiliki porsi 17,8%, sedangkan isu birokrasi turun menjadi 9,8%.

Investasi Agregat Tumbuh, Kredit UMKM Terbatas

Kadin Indonesia Institute juga menyoroti perbedaan antara kondisi yang dirasakan pengusaha dengan angka investasi dan pembiayaan pada tingkat makroekonomi.

Realisasi investasi nasional pada kuartal II/2026 tercatat mencapai Rp511,78 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Program hilirisasi menyumbang hampir 30% dari total realisasi investasi tersebut.

Pertumbuhan kredit investasi perbankan juga tercatat mencapai 25,11% secara tahunan pada Agustus 2026. Namun, pertumbuhan pembiayaan itu belum merata jika dilihat berdasarkan skala perusahaan.

Fakhrul mengungkapkan, kredit korporasi tumbuh 22,11%, sedangkan kredit UMKM hanya tumbuh 2,8%.

Perbedaan tersebut memperlihatkan kesenjangan akses pembiayaan antara perusahaan besar dan pelaku usaha berskala lebih kecil. Di tengah tingginya angka investasi agregat, sebagian UMKM masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh dukungan pembiayaan untuk mengembangkan bisnis.

Fakhrul mengingatkan, data makroekonomi perlu dibaca bersama kondisi riil di tingkat pengusaha. Menurut dia, tingginya realisasi investasi agregat sangat ditopang proyek berskala besar sehingga berisiko menutupi lemahnya basis investasi pada kelompok usaha menengah ke bawah.

Survei Libatkan 330 Anggota Kadin

Gambaran mengenai minat investasi tersebut berasal dari survei Kadin Indonesia Institute yang dilaksanakan pada 14–30 September 2026. Survei itu bertujuan menangkap persepsi pelaku usaha di tengah berbagai risiko ekonomi dan ancaman iklim ekstrem.

Sebanyak 330 responden yang merupakan anggota Kadin dari berbagai sektor industri di 28 provinsi dilibatkan dalam survei tersebut.

Hasil survei memperlihatkan bahwa keputusan investasi dunia usaha masih dibayangi sejumlah pertimbangan, mulai dari biaya modal dan pergerakan nilai tukar hingga ketidakpastian kebijakan. Di tengah pertumbuhan investasi nasional, kondisi tersebut menjadi catatan mengenai perbedaan kemampuan ekspansi antara perusahaan besar dan UMKM.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *