Wisatawan berkunjung ke Ekowisata Sungai Mudal, Selasa (21/6/2022)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
PortalRakyat, KULONPROGO—Debit mata air di kawasan Ekowisata Sungai Mudal, Kulonprogo, menyusut selama kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat pengelola mengurangi pemanfaatan air untuk kebutuhan wisata dan mengutamakan pasokan bagi warga sekitar.
Pengelola Ekowisata Sungai Mudal Juwarto mengatakan debit air dari mata air gua saat ini turun lebih dari sepertiga dibandingkan kondisi normal.
Menurut dia, sebagian besar air yang tersedia kini dialirkan melalui jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di sekitar kawasan wisata.
“Debit air memang sangat kecil. Kami dari pihak destinasi wisata mengalah, karena sebagian besar air diutamakan untuk konsumsi masyarakat sekitar. Tetap kita membela masyarakat biar bisa memenuhi kebutuhan air minum,” ujar Juwarto saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).
Pancuran Tak Lagi Sederas Biasanya
Meski pasokan air untuk aktivitas wisata berkurang, Juwarto memastikan fasilitas kolam pemandian di Sungai Mudal masih dapat digunakan wisatawan.
Kolam atas, kolam bawah, dan kolam anak masih berfungsi. Kedalaman kolam juga disebut masih relatif stabil. Kolam bawah memiliki kedalaman sekitar 2 meter, kolam atas 1,7 meter, sedangkan kolam anak berkisar 70 sentimeter hingga 1 meter.
Perubahan paling terlihat terdapat pada pancuran air alami yang menjadi salah satu daya tarik Sungai Mudal. Debitnya kini tidak sederas dan sekencang ketika kondisi air normal.
Pengelola memilih tidak menutupi kondisi tersebut dari calon wisatawan. Informasi mengenai kondisi debit air disampaikan melalui media sosial resmi agar pengunjung mengetahui situasi terkini sebelum datang.
“Kami tidak mau merekayasa foto di media sosial agar terlihat melimpah. Biar calon pengunjung tahu kondisi riilnya. Lebih baik transparan daripada mereka datang lalu kecewa,” kata Juwarto.
Kunjungan Wisatawan Ikut Turun
Kondisi debit air yang menyusut turut berpengaruh terhadap jumlah kunjungan ke Ekowisata Sungai Mudal.
Juwarto mengatakan pada musim penghujan jumlah kunjungan dapat mencapai rata-rata 13.000 orang per bulan. Namun, pada musim kemarau, target kunjungan diturunkan menjadi sekitar 6.000 orang per bulan.
Bahkan, target 7.000 pengunjung pada bulan sebelumnya belum tercapai. Jumlah wisatawan yang datang tercatat sebanyak 6.789 orang.
Pada hari kerja, jumlah kunjungan saat ini berkisar 100 orang per hari. Sementara itu, pada akhir pekan jumlah wisatawan berada di kisaran 300 hingga 400 orang per hari.
Penurunan tersebut menunjukkan kondisi alam tidak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air bagi masyarakat, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi kawasan wisata yang mengandalkan daya tarik air alami.
Siapkan Wisata Non-Air
Kondisi kemarau tersebut mulai dijadikan bahan evaluasi pengelola untuk mengembangkan produk wisata yang tidak sepenuhnya bergantung pada debit air.
Juwarto mengatakan pengelola tengah menyiapkan sejumlah kegiatan dan wahana edukasi, di antaranya akuarium lingkungan dan penguatan program Sekolah Sungai.
Pengelola juga sedang menyusun modul serta materi pembelajaran yang dapat digunakan untuk kegiatan edukasi bagi pelajar dan wisatawan.
“Fenomena ini menjadi pembelajaran bagi kami. Ke depan, Ekowisata Sungai Mudal tidak hanya mengandalkan wisata pemandian air alami, tetapi juga mengembangkan edukasi konservasi lingkungan agar kawasan ini tetap berdaya tarik di segala musim,” pungkas Juwarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
