Anak Muda Bawa Cerita Rakyat Jogja ke Persoalan Kekinian

Anak Muda Bawa Cerita Rakyat Jogja ke Persoalan Kekinian

Perwakilan dewan juri Tutur Tumurun, Hasta Indriyana (tengah) saat memaparkan kegiatan dalam jumpa pers di TBY, Jogja, pada Rabu (7/10/2026). – Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA – Cerita rakyat di Jogja tidak berhenti sebagai kisah lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui Program Tutur Tumurun 2026, penulis muda mengolah kembali cerita tersebut dengan persoalan kekinian, mulai dari eksploitasi tambang hingga perkembangan pariwisata.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Purwiati mengatakan program yang memasuki tahun kedua tersebut memberikan ruang bagi anak muda untuk menafsirkan kembali cerita rakyat yang berkaitan dengan kondisi alam atau geomitologi. Peserta program dibatasi pada kelompok usia 17-35 tahun.

Menurutnya, cara generasi muda membaca cerita rakyat dapat menjadi jembatan agar kisah-kisah tersebut tetap relevan. Cerita lama tidak sekadar ditulis ulang, tetapi diolah menggunakan sudut pandang dan persoalan yang dekat dengan kehidupan saat ini.

“Ini bagaimana teman-teman muda menafsir ulang folklor yang ada di DIY sesuai dengan versi mereka. Ini menjadi jembatan Taman Budaya bagaimana di usia anak-anak yang sekarang ini masih mempunyai minat yang sangat baik terkait dengan folklor,” kata Purwiati, Rabu (7/10/2026).

Program tersebut menghasilkan 75 naskah cerpen karya penulis muda dari lima kabupaten/kota di DIY. Dari karya-karya tersebut, dipilih 10 nomine yang kemudian ditetapkan menjadi lima karya terbaik, yakni juara 1, 2, 3, serta juara harapan 1 dan 2.

Perwakilan dewan juri, Hasta Indriyana, mengatakan karya para peserta cukup beragam. Sejumlah peserta bahkan mengangkat cerita rakyat yang belum banyak dikenal masyarakat.

Menurutnya, salah satu karya yang menjadi juara mampu mengubah cerita rakyat menjadi kisah yang berkaitan dengan persoalan kekinian. Cerita tersebut mengangkat persoalan eksploitasi tambang dan perkembangan pariwisata di sebuah dusun.

“Dia berani menginovasi dari cerita rakyat yang ada. Tidak plek seperti itu, tetapi diinovasi berdasarkan konteks zaman sekarang,” ujar Hasta.

Hasta menilai kekuatan karya tersebut terletak pada kemampuan penulis menghidupkan cerita rakyat dalam persoalan baru. Dengan demikian, folklor tidak hanya menjadi tempelan dalam cerpen, tetapi menjadi bagian penting dari cerita yang menghadirkan makna baru.

“Jadi intinya adalah cerita rakyat itu ditulis tidak sebagai tempelan di dalam sebuah cerita, tetapi dihidupkan untuk membuat cerita pendek yang memiliki makna yang baru,” katanya.

Selain mengangkat persoalan sosial, Hasta mengatakan sejumlah karya juga memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lalu membaca tanda-tanda alam. Dalam konteks geomitologi, cerita rakyat dapat berkaitan dengan proses terbentuknya kawah atau danau hingga pengetahuan masyarakat mengenai tanda-tanda bencana.

Salah satu karya yang ditemuinya, misalnya, mengangkat kepercayaan mengenai bunyi kentongan yang dikaitkan dengan tanda tertentu. Pengetahuan semacam itu menunjukkan adanya kebiasaan masyarakat mengamati pola kejadian di lingkungan mereka.

Namun, Hasta belum menemukan cerita rakyat di Jogja yang secara khusus berkaitan dengan ancaman gempa megathrust. Menurutnya, hal tersebut berbeda dengan sejumlah pengetahuan tradisional mengenai tanda-tanda erupsi Merapi yang dapat diamati masyarakat.

“Kalau secara sains megathrust itu tidak bisa diprediksi. Sedangkan folklor ini menandai hal itu dengan titen, dititeni dari zaman ke zaman,” katanya.

Tim Produksi Tutur Tumurun, Fathurahman Ramadhan, mengatakan tema geomitologi pada pelaksanaan kedua program tersebut menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi pintu untuk melihat pengetahuan yang diwariskan masyarakat.

Menurutnya, cerita-cerita yang ditulis peserta memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya berkaitan dengan karya seni, tetapi juga dapat menyimpan pengetahuan yang bisa dipelajari generasi berikutnya.

“Melalui kegiatan Tutur Tumurun yang kedua kali ini mempertegas kekayaan sastra di Jogja. Sastra itu bukan hanya sekadar sastra, tapi juga menjadi sains pengetahuan untuk generasi selanjutnya,” kata Fathurahman.

Sebanyak 15 karya yang terpilih dalam program tersebut nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh TBY. Puncak rangkaian Tutur Tumurun 2026 akan digelar melalui Pesta Cerita di kompleks TBY pada Jumat (9/10/2026) pukul 19.00-22.00 WIB.

Masyarakat dapat menghadiri kegiatan tersebut untuk melihat hasil proses kreatif para penulis muda yang mengolah kembali cerita rakyat dan pengetahuan tentang alam dalam bentuk sastra. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *