Mengenal Jingdezhen, Kota Kelahiran Porselen Biru-Putih Khas Tiongkok

PortalRakyat, BEIJING— Jingdezhen di Provinsi Jiangxi, tenggara Tiongkok, dikenal sebagai salah satu pusat penting sejarah keramik dunia. Kota ini berkembang menjadi pusat industri porselen Kekaisaran Tiongkok dan kemudian dikenal sebagai tempat lahirnya porselen biru-putih legendaris yang disebut qingbai.

Sejarah panjang tersebut tidak lepas dari sebuah kisah tragis pada era Dinasti Ming sekitar 1599 Masehi. Kala itu, seorang kasim bernama Pan Xiang diperintahkan datang ke Jingdezhen untuk mengawasi pembuatan guci porselen putih bermotif naga biru yang dipesan kaisar.

Guci tersebut berukuran sangat besar dan tebal sehingga proses pembakarannya menjadi pekerjaan yang amat sulit. Ketika dimasukkan ke tungku bersuhu tinggi, guci berisiko pecah atau berubah bentuk.

Sesampainya di Jingdezhen, Pan Xiang mencari tukang tungku ke berbagai tempat. Namun, tidak ada yang berani menerima pekerjaan tersebut karena mengetahui tingkat kesulitan pembuatan guci naga berukuran raksasa itu.

Hingga akhirnya, seorang pemuda kuat bernama Tong Bin dari Desa Li bersedia mengerjakannya. Tong Bin bekerja sebagai juru bakar porselen dan bersama para tukang tungku mulai menggarap pesanan tersebut.

Legenda Pengorbanan Tong Bin

Proses pembakaran ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Berkali-kali tungku dibuka setelah pembakaran, tetapi yang ditemukan hanya pecahan porselen.

Kegagalan berulang membuat para tukang tungku merasa tidak berdaya. Sementara itu, Pan Xiang semakin panik karena terus mendapat tekanan dari pihak istana.

Pan Xiang kemudian kehilangan kesabaran. Ia membentak, mencambuk, bahkan mengancam akan menghukum mati para pekerja apabila pesanan tersebut tidak berhasil dibuat.

Tidak tega melihat rekan-rekannya menderita dan terancam kehilangan nyawa, Tong Bin mengambil keputusan nekat. Pemuda berusia 22 tahun itu melompat ke dalam tungku sebagai pengorbanan demi keberhasilan pembakaran guci naga.

Menurut legenda, pengorbanan tersebut menyentuh hati para dewa. Ketika para tukang tungku membuka pintu tungku setelah pembakaran, mereka mendapati guci porselen putih bermotif naga biru berdiri dengan kilau cemerlang.

Para perajin diliputi perasaan haru dan sedih. Mereka satu per satu berlutut penuh hormat di depan tungku.

Namun, kematian Tong Bin juga memicu kemarahan warga. Masyarakat kota bangkit melawan dan membakar kantor pajak serta bengkel porselen milik kerajaan.

Pan Xiang yang ketakutan kemudian melarikan diri. Untuk meredakan amuk massa, sebuah kuil didirikan di sisi timur pabrik keramik kerajaan Jingdezhen untuk mengenang Tong Bin.

Tong Bin dianugerahi gelar Feng Huo Xian atau Dewa Angin dan Api. Kuil tersebut kemudian dikenal dengan nama You Tao Ling Ci.

Kisah Tong Bin dapat dipercaya sebagai legenda ataupun dianggap sebagai cerita rakyat. Namun, secara historis Jingdezhen memang dikenal sebagai salah satu pusat utama perkembangan porselen biru-putih Tiongkok.

Jingdezhen dan Industri Keramik Kekaisaran

Jingdezhen memiliki topografi berbukit dengan sumber daya berupa batu glasir dan tanah liat kaolin. Kondisi alam tersebut didukung akses transportasi darat serta jalur air yang strategis.

Faktor tersebut membuat Jingdezhen berkembang menjadi pusat industri porselen Kekaisaran Tiongkok sejak abad ke-10 hingga abad ke-19.

Perkembangan industri keramik di kota ini bermula pada era Dinasti Song. Para perajin mendirikan bengkel keramik di tepi timur Sungai Changjiang.

Produksi kemudian meluas ke arah utara hingga kawasan pertemuan Sungai Nanhe dan Sungai Changjiang. Dalam rentang Dinasti Song, Yuan, Ming, hingga Qing, kawasan industri keramik Jingdezhen mencapai sedikitnya 5.545,7 hektare.

Saat ini, kawasan tersebut terbagi menjadi lima wilayah utama, yakni Pusat Produksi Porselen Kawasan Perkotaan, Situs Tungku Kuno Hutian, Situs Penambangan Tanah Liat Porselen Gaoling, Situs Penambangan Batu Porselen Changling, serta Kawasan Produksi Kayu Bakar Jiaotan.

Pada masa kekaisaran, bengkel keramik di kawasan tersebut menjadi milik mutlak kaisar. Produk yang dihasilkan dikirim ke pusat pemerintahan, antara lain Nanjing pada 1368–1421 dan Beijing pada 1421–1644.

Porselen dari Jingdezhen juga dikirim ke kota-kota penting lain seperti Hangzhou, Suzhou, dan Guangzhou. Atas titah kaisar, porselen digunakan sebagai cinderamata bagi kerajaan tetangga, komoditas perdagangan luar negeri, hingga barang upeti yang dibawa melintasi samudra.

Produknya sangat beragam, mulai dari piring besar, piring kecil, mangkuk, cawan, tempayan hingga guci. Dalam satu kali pengiriman ke ibu kota, jumlah persediaan hadiah porselen bahkan dapat mencapai sekitar 80 ribu unit.

72 Tahapan Produksi dan Inovasi Tungku

Catatan dari era Dinasti Ming dan Qing menyebut pabrik tungku kekaisaran di Jingdezhen sebagai kompleks tertutup. Di dalamnya terdapat bengkel kerja, tungku pembakaran, kantor administrasi, balai leluhur serta fasilitas penunjang lainnya.

Kompleks tersebut menjadi tempat berlangsungnya 72 tahapan rumit dalam proses pembuatan keramik Jingdezhen. Sistem pemeriksaan mutunya juga sangat ketat.

Produk yang dinilai cacat atau tidak memenuhi standar akan dihancurkan dan ditimbun di dalam kompleks. Kebijakan tersebut dilakukan agar produk yang tidak lolos seleksi tidak beredar di pasar rakyat biasa.

Salah satu aspek penting dalam produksi adalah pengelolaan tungku. Tungku tradisional China memiliki sejumlah bentuk dengan karakteristik berbeda.

Di China utara, dikenal tungku mantou yang bentuk ruang pembakarannya menyerupai gundukan atau roti mantou. Bagian depannya lebar dan membulat, kemudian menyempit ke belakang.

Tungku tersebut memiliki panjang sekitar 4,3 meter dan lebar 3,2–3,6 meter. Kapasitasnya relatif terbatas sehingga tidak dapat membakar banyak keramik sekaligus.

Sementara itu, di China bagian selatan lazim digunakan tungku naga yang dibangun mengikuti lereng bukit. Panjang tungku ini dapat mencapai 19 meter dan mampu membakar ratusan keramik dalam sekali proses.

Kelemahannya, panas di dalam tungku naga tidak merata sehingga kualitas keramik yang dihasilkan tidak selalu tinggi.

Para perajin Jingdezhen kemudian menyempurnakan kedua jenis tungku tersebut dengan menciptakan tungku labu. Tungku ini memiliki dua ruang yang menyempit di bagian tengah sehingga ruang berkubah menyerupai mantou dipisahkan oleh bagian seperti pinggang.

Ruang pembakaran berada di bagian depan, sedangkan cerobong terpisah berada di belakang. Tungku tersebut kemudian melandai ke belakang dengan panjang 7–8 meter dan lebar 3,7–3,8 meter.

Pada akhir Dinasti Ming dan awal Dinasti Qing, inovasi kembali dilakukan melalui penciptaan tungku telur atau tungku Zhen. Bentuknya menyerupai telur bebek dengan badan memanjang dan mampu menampung kapasitas pembakaran yang sangat besar.

Tungku telur menghasilkan gradasi suhu di sepanjang ruang pembakaran sehingga membentuk beberapa zona panas. Berbagai jenis porselen dengan kebutuhan suhu berbeda dapat ditempatkan pada posisi yang sesuai dan dibakar secara bersamaan.

Inovasi tersebut meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi panas. Pada masa kejayaan Dinasti Ming dan Qing, industri porselen Jingdezhen pun berkembang pesat.

Banyak pekerja keramik dari berbagai daerah datang ke kota tersebut. Jingdezhen kemudian berkembang menjadi kota industri tunggal dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa.

Qingbai, Porselen Biru-Putih dari Jingdezhen

Pada era Dinasti Song abad ke-13, para perajin Jingdezhen menciptakan porselen biru-putih yang disebut qingbai. Nama tersebut berasal dari qing yang berarti biru dan bai yang berarti putih.

Teknik tersebut memadukan teknologi pemurnian pewarna biru kobalt asal Persia dengan teknik pembuatan porselen khas Tiongkok. Qingbai (青白) merujuk pada porselen dengan glasir putih kebiruan.

Ciri khasnya berada pada spektrum warna antara biru dan putih. Efek yang muncul digambarkan sebagai “putih dengan semburat biru dan biru dengan kilau putih”, dengan tekstur lembut yang menyerupai batu giok.

Badan porselen qingbai sangat tipis dan halus serta mampu menembus cahaya. Permukaan glasirnya juga mengilap seperti cermin.

Keindahan tersebut berkaitan dengan proses pembakaran menggunakan atmosfer reduksi yang menghasilkan efek glasir kaca putih kebiruan.

Direktur Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, Weng Yanjun, mengatakan warna biru dan putih dapat difungsikan sebagai persembahan kepada langit. Warna biru juga digemari berbagai lapisan masyarakat di dunia, mulai dari kawasan padang rumput, dunia Islam, Tiongkok hingga wilayah lainnya.

“Keramik qingbai dikenal karena badan porselennya yang putih halus, bentuknya yang tipis dan tembus cahaya, serta warna glasir antara putih dan biru muda dengan kilau menyerupai giok,” ujar Weng kepada insan pers lokal dan internasional di Jingdezhen pada Agustus 2026 lalu.

Motif yang menghiasi qingbai sangat beragam. Di antaranya bebek di kolam teratai, awan dan naga, delapan pusaka agama Buddha, bunga krisan, bunga peoni hingga burung hong.

Keindahan porselen tersebut diterima berbagai lapisan masyarakat, mulai keluarga istana hingga rakyat biasa. Perkembangan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas Jingdezhen sebagai “Ibu Kota Porselen”.

Bentuk porselen biru-putih Jingdezhen juga beragam, antara lain tempayan bertutup, vas yuhuchun berbentuk buah pir, piring besar, vas meiping, vas huagu, pembakar dupa, cawan berkaki, kendi hingga tempat air.

Dua gaya utama yang berkembang adalah lukisan biru di atas dasar putih serta lukisan putih di atas dasar biru. Komposisinya padat, tetapi tetap rapi dan teratur.

“Warna biru kobalt menjadi sangat populer karena karakternya yang klasik dan stabil. Warna ini dapat diaplikasikan pada porselen dengan hasil yang relatif tahan lama,” jelas Weng.

Mangkuk Ayam dan Harga Fantastis di Balai Lelang

Salah satu koleksi berharga di Museum Situs Tungku Kekaisaran Jingdezhen adalah mangkuk kecil biru-putih berdiameter sekitar 8 cm. Mangkuk tersebut memiliki motif gambar ayam.

“Meskipun berukuran sangat kecil, benda sejenisnya pernah terlelang dengan harga fantastis. ‘Mangkuk ayam’ serupa terjual seharga 280 juta dolar Hong Kong pada 2014 di balai lelang Hong Kong,” ungkap Weng.

Mangkuk yang berada di museum tersebut sebenarnya merupakan produk yang belum sempurna. Pada masa itu, kaisar menerapkan sistem pengendalian mutu yang sangat ketat sehingga mangkuk tersebut tidak lolos seleksi untuk dikirim ke istana.

“Jangan tertipu oleh ukurannya yang kecil. Lukisan ayam jantan, ayam betina, dan anak ayam di permukaannya dibuat dengan sangat anggun dan halus. Lukisannya pun tidak hanya terdiri dari satu lapisan. Jika Anda memperhatikan badan dan ekor ayam jantan secara saksama, terlihat ada tiga lapisan warna,” jelas Weng.

Lapisan warna tersebut diperoleh melalui proses pembakaran bersuhu tinggi. Setelah pembakaran, perajin masih menambahkan warna di atas glasir, termasuk merah, kuning dan biru.

Bahan pewarna yang digunakan berasal dari mineral serta batu-batuan berharga. Teknik tersebut menunjukkan tingkat kerumitan produksi porselen Jingdezhen pada masa lalu.

Porselen Jingdezhen Menembus Pasar Dunia

Jejak porselen biru-putih Jingdezhen tidak hanya ditemukan di Tiongkok. Porselen tersebut tersebar melintasi Asia Timur, Asia Tenggara, kawasan Samudra Hindia, Semenanjung Arab, Afrika hingga Eropa.

Menurut Weng, permintaan dari negara-negara Islam ikut mendorong perajin Jingdezhen menyesuaikan warna, bentuk dan komposisi produknya. Mereka mengimpor pigmen kobalt dari Persia, membuat mangkuk berkaki yang meniru kerajinan logam khas Islam, serta mengadopsi tata komposisi Asia Barat.

“Demi memenuhi permintaan pasar di negara-negara Islam, para perajin menyesuaikan warna, bentuk, dan komposisinya. Mereka mengimpor pigmen kobalt dari Persia, membuat mangkuk berkaki yang meniru kerajinan logam khas Islam, serta mengadopsi tata komposisi Asia Barat. Bukti hasil penggalian arkeologis menunjukkan bahwa Jingdezhen sangat aktif memproduksi porselen biru-putih untuk pasar global,” tambah Weng.

Keaslian porselen Jingdezhen juga dapat ditelusuri melalui karakter warna dan periode pembuatannya. Weng menyebut porselen yang diklaim berasal dari Jingdezhen tetapi memiliki warna terlalu putih polos tanpa semburat kehijauan atau kebiruan patut diragukan.

Selain warna, unsur gaya dan teknik juga menjadi petunjuk. Keramik yang diklaim berasal dari era Dinasti Ming, misalnya, seharusnya tidak menggunakan unsur gaya atau teknik yang baru muncul pada periode lebih modern.

“Unsur dari era yang lebih modern tidak mungkin muncul pada benda keramik yang dibuat pada era sebelumnya,” tegas Weng.

Keindahan porselen biru-putih Jingdezhen kemudian dirangkum dalam sebuah peribahasa:

“Bái rú yù, míng rú jìng, báo rú zhǐ, shēng rú qìng”

Ungkapan tersebut berarti “putih bagai batu giok, bening bagai cermin, tipis bagai kertas, dan berdenting nyaring bagai batu genta.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *