Kutu Kebul Serang Tanaman Melon di Banguntapan, Petani Rugi Jutaan Rupiah

Kutu Kebul Serang Tanaman Melon di Banguntapan, Petani Rugi Jutaan Rupiah

Petani menunjukkan tanaman melon yang diserang hama kutu kebul di Jaranan, Banguntapan, Bantul, Rabu (16/9/2026)./Harian Jogja-Yosef Leon

PortalRakyat, BANTUL—Serangan hama kutu kebul membuat petani melon di Jaranan, Banguntapan, Bantul, harus menelan kerugian hingga jutaan rupiah. Ribuan tanaman melon yang ditanam di lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi gagal dipanen.

Petani melon di Banguntapan, Budi Sugiyarno, mengatakan serangan kutu kebul menjadi persoalan yang cukup sulit diatasi, terutama saat musim kemarau. Serangga berwarna putih tersebut dapat hinggap di daun tanaman dan berkembang dengan cepat.

“Pokoknya di bulan Juni sampai September itu memang rawan serangan hama kutu kebul,” kata Budi, Rabu (16/9/2026).

Menurut Budi, ini merupakan kali ketiga dirinya menanam melon. Pada penanaman pertama sekitar Maret, tanaman juga gagal akibat kondisi cuaca.

Tidak menyerah, Budi kembali menanam melon sebulan kemudian. Upaya keduanya berhasil hingga tanaman dapat dirawat sampai masa panen.

Keberhasilan tersebut membuat Budi tertarik mencoba kembali menanam melon untuk ketiga kalinya. Namun, tanaman yang mulai ditanam sejak akhir Juli itu justru terserang kutu kebul.

“Sekarang usianya kurang lebih 50 hari, sudah saya biarkan saja karena semuanya hampir mati,” ujarnya.

2.000 Batang Melon Terserang Kutu Kebul

Melon jenis Sakata yang ditanam Budi sebenarnya sudah sempat menghasilkan buah. Namun, ukurannya hanya sekitar sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Di sisi lain, daun dan batang tanaman sudah mulai mengering. Sebagian buah dibiarkan jatuh ke tanah, sedangkan beberapa buah yang masih bertahan di batang terlihat bolong.

Budi mengatakan dirinya menanam sekitar 2.000 batang melon. Dengan modal Rp1.000 per batang, biaya yang telah dikeluarkan untuk tanaman tersebut mencapai jutaan rupiah.

“Ini saya tanam sekitar 2.000 batang dengan modal Rp1.000 per batang. Semuanya sudah saya coba pakai pestisida juga dipupuk tapi tetap tidak selamat,” katanya.

Budi menduga faktor cuaca menjadi salah satu penyebab tanaman melonnya mengalami kegagalan panen untuk kedua kalinya.

Pada penanaman pertama Maret lalu, curah hujan yang tinggi membuat kondisi tanah kurang stabil. Sementara pada penanaman terakhir, cuaca yang terlalu panas dan kering diduga menjadi salah satu faktor tanaman terserang hama.

“Pokoknya kutu kebul ini susah sekali dibasmi, repot kalau sudah ketemu jenis ini di lahan pertanian,” pungkasnya.

DKPP Bantul Minta Petani Melapor

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko, mengatakan pihaknya belum menerima laporan terkait serangan hama kutu kebul di lahan warga tersebut.

“Kalau ada temuan seperti itu kami minta masyarakat melapor agar penyuluh kami bisa menindaklanjuti,” katanya.

Menurut Joko, setiap wilayah pertanian memiliki karakteristik serta persoalan hama yang berbeda. Karena itu, penanganan serangan hama juga perlu disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.

Pada musim kemarau seperti sekarang, serangan hama dapat diminimalisir melalui sejumlah langkah, antara lain pemupukan, pengaturan air, serta melepas predator alami untuk mencegah hama.

“Selain itu jika ada laporan kami juga adakan Gerakan Pengendalian Hama atau gerdal untuk membantu mencegah petani gagal panen,” ungkapnya.

Dengan adanya laporan dari petani, penyuluh pertanian dapat menindaklanjuti kondisi di lapangan sekaligus membantu upaya pengendalian hama agar serangan tidak semakin meluas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *