Petugas pemadam kebakaran memadamkan kobaran api yang membakar Supermarket Bangunan dan Elektronik Trans Home di Jalan Jogja-Solo Km 11, Kalurahan Kalitirto, Berbah, Sleman, Kamis (1/10/2026)./Antara-Agung Dwi Prakoso
PortalRakyat, JOGJA— Kasus kebakaran di Kota Jogja menunjukkan kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah peningkatan tersebut, infrastruktur proteksi kebakaran di permukiman padat masih belum ideal.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Jogja mencatat baru tersedia 20 titik hidran kampung. Jumlah tersebut baru mencakup sekitar 12% dari total kampung yang ada di Kota Jogja.
Kepala Damkarmat Kota Jogja, Taokhid, mengatakan penambahan sarana proteksi kebakaran menjadi salah satu bagian mitigasi menghadapi musim kemarau. Selain hidran kampung, Damkarmat juga mengecek kesiapan kendaraan pemadam, ground tank, dan sarana pendukung lainnya.
“20 titik hidran kampung belum ideal karena baru 12% dari jumlah kampung se-Kota (Jogja),” kata Taokhid, Selasa (29/9/2026).
APAR RT di Jogja Baru 11 Persen
Kondisi serupa terlihat pada ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) di tingkat rukun tetangga (RT). Dari sekitar 2.500 RT di Kota Jogja, baru sekitar 11% yang memiliki APAR.
Taokhid mengatakan Damkarmat telah mendorong gerakan 1 RT 1 APAR untuk memperluas ketersediaan alat pemadam awal tersebut. Pengadaan APAR dapat berasal dari dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun dilakukan secara mandiri oleh RT.
Menurutnya, keberadaan APAR penting agar warga dapat melakukan penanganan awal ketika api mulai muncul. Penanganan sedini mungkin diharapkan dapat mencegah api berkembang sebelum petugas pemadam tiba.
Ketersediaan APAR di tingkat RT juga menjadi salah satu indikator dalam program Kelurahan Tangguh Kebakaran (Kantara). Kelurahan Demangan menjadi kelurahan pertama di Kota Jogja yang mendapatkan predikat Kantara kategori Pratama pada 22 September 2026.
Demangan memiliki 44 RT yang seluruhnya telah dilengkapi APAR.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan sebelumnya menilai ketersediaan APAR di tingkat RT penting karena penanganan awal kebakaran tidak selalu bisa menunggu kedatangan petugas Damkarmat. Menurut dia, keterlibatan masyarakat diperlukan agar api dapat segera ditangani sebelum membesar.
“Tidak mungkin Damkar sendiri. Ketika ada kebakaran, Damkar belum datang sudah habis. Makanya kalau masyarakat bisa peduli dan mempunyai alat yang layak di pihak-pihak RT, itu sangat membantu,” ujar Wawan.
Kebakaran di Jogja Naik hingga Agustus
Di sisi lain, jumlah kejadian kebakaran di Kota Jogja menunjukkan kenaikan dalam tiga bulan terakhir. Hingga Agustus 2026, Damkarmat mencatat terdapat 62 kejadian kebakaran.
Pada Juni tercatat sembilan kejadian, kemudian tetap sembilan kejadian pada Juli. Angka tersebut meningkat menjadi 20 kejadian pada Agustus.
Taokhid mengatakan mitigasi juga dilakukan melalui edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat. Imbauan disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial serta surat edaran wali kota.
Masyarakat diingatkan tidak membakar sampah sembarangan serta memastikan kompor dan peralatan elektronik telah dimatikan setelah digunakan. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah kebakaran dari aktivitas sehari-hari.
Damkarmat juga memperkuat komunikasi dengan sejumlah instansi yang dapat terlibat dalam penanganan kebakaran. Koordinasi dilakukan dengan damkar daerah sekitar, Polresta, Kodim, BPBD, PLN, hingga PSC 119.
Kesiapan sarana dan keterlibatan masyarakat menjadi penting karena kebakaran di kawasan padat penduduk dapat berkembang dengan cepat. Terlebih, akses menuju lokasi kejadian tidak selalu mudah bagi kendaraan pemadam.
Kondisi itu menjadi perhatian di tengah meningkatnya kejadian kebakaran dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kebakaran di Hamzah Batik, Kota Jogja, pada Senin (28/9/2026) dini hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
