Harga Louhan di Jogja Bisa Tembus Rp30 Juta, Begini Peluang Bisnisnya

PortalRakyat, SLEMAN— Ikan louhan (Amphilophus sp) atau flowerhorn masih memiliki penggemar di berbagai wilayah Indonesia. Di balik popularitasnya sebagai ikan hias, budidaya louhan juga membuka peluang ekonomi karena harga ikan ditentukan oleh kualitas masing-masing ekor, bahkan dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Ketua Umum Louhan Club Indonesia (LCI), Welly Luxza Pradana, mengatakan pasar louhan masih memiliki potensi besar. Bahkan, sebagian penghobi menjadikan budidaya dan perdagangan ikan tersebut sebagai sumber penghidupan.

“Harganya memang mengalami naik-turun. Pada awal 2000-an, satu ekor louhan bahkan bisa bernilai ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Welly belum lama ini menggelar rangkaian mini kompetisi Hikari Bima Cup di Farm Lux Aquatic Yogyakarta. Kompetisi yang menjadi ajang pertama yang diselenggarakan LCI setelah vakum selama tiga tahun terakhir.

Di dalam ruangan terdapat kurang lebih 100 akuarium berisi ikan louhan. Sekilas, ikan-ikan tersebut terlihat memiliki bentuk yang serupa dengan ciri khas dahi jenong. Namun, jika diamati lebih detail, terdapat perbedaan pada corak warna, bentuk wajah, hingga tubuh.

Harga Louhan Ditentukan Kualitas

Louhan merupakan ikan hasil persilangan cichlid Red Devil, Midas, dan Trimac. Ikan tersebut pertama kali dikembangkan oleh peternak di Malaysia dan Taiwan pada awal 1990-an.

Ciri khas louhan adalah dahi jenong dan tubuh memanjang dengan bercak hitam menyerupai kaligrafi Tiongkok. Corak tersebut dipercaya sebagai pertanda keberuntungan dan turut mendorong popularitas louhan di Asia. Di Indonesia, para penghobi, progressor, dan breeder louhan memiliki wadah organisasi bernama Louhan Club Indonesia (LCI).

Welly menjelaskan perdagangan louhan tidak dapat disamakan dengan komoditas yang dihitung berdasarkan kilogram atau tonase. Nilai ikan ditentukan berdasarkan kualitas setiap ekor.

“Perdagangan louhan tidak berbicara tentang tonase, kilogram, atau gramasi. Konsepnya adalah per ekor,” kata Welly.

Dalam satu kali proses ternak, seorang breeder dapat menghasilkan sekitar 200-300 ekor anakan. Namun, ikan yang berpotensi masuk kontes biasanya hanya sekitar lima, enam, atau sepuluh ekor.

Sisanya belum memenuhi standar untuk mengikuti kompetisi. Karena itu, kemampuan melakukan seleksi menjadi salah satu hal penting dalam budidaya louhan.

Menurut Welly, pasar louhan memiliki pola yang kurang lebih sama dengan ikan koki atau arwana yang telah memiliki ekosistem kompetisi. Kontes menjadi salah satu cara memperkenalkan ikan kepada pasar sekaligus menjadi ruang bagi breeder dan progressor untuk memperkenalkan produk mereka.

Jika seekor ikan memenangkan kompetisi, nilai pasarnya dapat meningkat sehingga harga jualnya turut naik.

Mengenal Kelas dalam Kontes Louhan

Kompetisi louhan dibagi berdasarkan kategori dan ukuran ikan. Pada kelas Cencu, misalnya, terdapat Cencu A dengan ukuran sekitar 12 sentimeter dan Cencu D dengan ukuran sekitar 16 sentimeter.

Selain Cencu, terdapat kelas Cinghua. Ada pula kelas FM atau Free Marking. Ikan dalam kelas FM dapat berasal dari Cencu maupun Cinghua, tetapi memiliki marking yang tipis atau sedikit. Kelas lainnya adalah GB atau Golden Base. Ikan Golden Base dapat berasal dari Cinghua maupun Cencu yang mengalami mutasi warna.

Welly mengatakan ikan Golden Base biasanya akan menghitam terlebih dahulu. Warna hitam tersebut kemudian perlahan menghilang hingga tubuh ikan menjadi bersih tanpa marking, sedangkan warna emasnya cenderung mengarah ke oranye.

Budidaya Louhan Tak Sekadar Memberi Pakan

Menurut Welly, budidaya louhan membutuhkan perawatan dan sentuhan tangan agar ikan dapat berkembang secara optimal. Pemeliharaan juga perlu memperhatikan karakter ikan dan kualitas lingkungan.

Louhan memiliki karakter soliter dan teritorial, mirip dengan ikan cupang. Karena itu, ketika anakan telah berukuran sekitar 5 sentimeter, ikan harus dipisahkan menggunakan sekat.

Kualitas air menjadi faktor penting lainnya. Perubahan cuaca dan iklim juga dapat memengaruhi pemeliharaan louhan, meski pengaruhnya dinilai tidak sebesar ikan yang dipelihara di kolam terbuka (outdoor).

Louhan umumnya dipelihara di dalam akuarium dan ditempatkan di dalam ruangan sehingga lebih terlindungi dari perubahan suhu secara langsung. Karakter louhan yang soliter juga membuat penyakit tidak mudah menyebar ke ikan lain ketika salah satu ikan mengalami sakit.

Meski demikian, kondisi air perlu mendapat perhatian khusus. Air dapat berasal dari PDAM, sumur, maupun sumber lainnya, tetapi harus bebas dari kapur dan logam serta tidak memiliki kadar mineral yang terlalu tinggi. Kondisi air dapat diperiksa menggunakan pH meter dan Total Dissolved Solids (TDS) meter.

Welly menilai kualitas air di Thailand lebih baik sehingga ikan dapat lebih cepat terlihat fresh. Sementara di Indonesia, Yogyakarta dinilai memiliki potensi kualitas air yang cukup baik dibandingkan dengan kota seperti Jakarta dan Bekasi maupun wilayah yang berada dekat dengan laut. Untuk pemeriksaan sederhana, penghobi dapat melihat respons ikan setelah dilakukan penggantian air secara penuh.

Jika ikan langsung terlihat nyaman setelah dimasukkan ke akuarium, kondisi air dinilai tidak bermasalah. Sebaliknya, jika ikan langsung megap-megap di permukaan air, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya masalah pada air, baik karena kandungan kapur, logam, maupun faktor lainnya.

Harga Louhan Bisa Puluhan Juta

Tren louhan sempat mengalami pasang surut selama lebih dari 20 tahun. Popularitasnya pernah tergeser oleh tren tanaman seperti Jemani (Anthurium jenmanii) dan Gelombang Cinta (Anthurium plowmanii).

Namun, harga louhan kini cenderung lebih stabil, terutama untuk ikan berkualitas. Saat ini, harga louhan berkualitas dapat mencapai puluhan juta rupiah, bahkan sekitar Rp25 juta-Rp30 juta, tergantung kualitas ikan.

Sementara itu, ikan berukuran kecil atau ikan bahan memiliki harga lebih murah, misalnya ukuran 7-8 sentimeter. Namun, membeli ikan kecil memiliki risiko karena kualitasnya belum tentu semakin baik ketika tumbuh besar.

Welly mengatakan budidaya louhan tetap dapat menghasilkan keuntungan. Ikan dengan harga belasan juta rupiah atau bahkan di bawahnya juga dapat menghasilkan keuntungan apabila dikembangkan dengan tepat.

Proses breeding dapat dilakukan lebih dari satu kali. Indukan dapat bereproduksi sekitar tiga hingga empat kali sebelum membutuhkan regenerasi. Dengan memiliki beberapa pasang indukan, potensi usaha dapat dihitung berdasarkan jumlah anakan dan kualitas ikan yang dihasilkan.

Namun, tidak ada rumus sederhana bahwa indukan berkualitas pasti menghasilkan seluruh anakan yang berkualitas. Karena itu, breeder membutuhkan pengetahuan dan pengalaman untuk melakukan seleksi.

Pemula Disarankan Jadi Progressor

Welly menyarankan pemain baru dalam dunia louhan tidak langsung terjun ke bisnis breeding. Penghobi pemula sebaiknya menjadi progressor terlebih dahulu. Menurut dia, breeding membutuhkan fasilitas, pengetahuan, dan kemampuan untuk menyortir ikan.

Jika belum mampu memilih ikan dan melihat potensinya, penghobi akan kesulitan mengelola anakan dalam jumlah banyak. Kondisi tersebut dapat membuat perkembangan ikan tidak maksimal dan justru menimbulkan kerugian.

Bagi orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari louhan, Welly menyarankan tiga hal. Pertama, bergabung dengan komunitas agar lebih cepat mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.

Kedua, aktif mengikuti kontes secara langsung. Penghobi tidak cukup hanya aktif melalui media sosial, tetapi juga perlu hadir dalam kontes secara offline untuk bertemu dengan penghobi lain dan membangun jaringan.

Ketiga, terus belajar mengenai standar penilaian ikan. LCI memiliki pedoman penjurian yang cukup teknis dan membahas berbagai aspek yang menjadi dasar penilaian. Dengan memahami pedoman tersebut, penghobi akan lebih mudah mengetahui kualitas ikan sekaligus mengembangkan potensinya.

Pemkab Sleman Dorong Ekonomi Ikan Hias

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Liem Astuti, mengatakan kompetisi louhan diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi para penghobi.

Melalui kegiatan tersebut, para penghobi dapat saling bertukar pikiran mengenai kemajuan dan pengembangan ikan louhan. Interaksi antarpenghobi juga diharapkan mampu mendorong peningkatan potensi ekonomi dari pengembangan ikan louhan di Sleman.

“Dengan kompetisi ini menjadi ajang silaturahmi bagi para penghobi untuk bisa saling bertukar pikiran dalam kemajuan dan pengembangan ikan louhan. Tentu saja potensi ekonomi pengembangan ikan louhan bisa lebih meningkat lagi,” kata Liem.

Selain bagi pelaku usaha dan penghobi, kompetisi tersebut dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat umum yang datang berkunjung. Pengunjung dapat memperoleh pengetahuan mengenai cara pemeliharaan ikan louhan yang benar.

Liem juga menekankan pentingnya memperkuat komunikasi antara pelaku usaha ikan hias dan pemerintah daerah. Komunikasi tersebut diperlukan agar program dan kebijakan dinas dapat lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

“Saya sudah minta kepada Kepala Bidang Perikanan untuk lebih meningkatkan komunikasi tersebut sehingga ke depannya langkah yang diambil dinas akan sesuai dengan yang diharapkan,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *