Bentuknya Menarik, 6 Tanaman Ini Menyimpan Racun Berbahaya

PortalRakyat, JOGJA—Tanaman kerap dianggap aman karena memiliki bentuk yang menarik atau bahkan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sejumlah tumbuhan menyimpan senyawa beracun yang dapat membahayakan manusia apabila tertelan atau terkena paparan tertentu.

Zat beracun pada tanaman merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan alami. Dampaknya beragam, mulai dari iritasi hingga gangguan sistem saraf dan jantung. Pada paparan tertentu, keracunan bahkan dapat mengancam nyawa.

Sejumlah tanaman berbahaya juga dapat ditemukan atau dibudidayakan di Indonesia. Berikut enam di antaranya, sebagaimana dibahas oleh Discover Wildlife dan Royal Horticultural Society (RHS).

1. Buah Bintaro (Cerbera odollam)

Bintaro dikenal pula dengan julukan suicide tree. Bijinya mengandung cerberin, senyawa yang dapat mengganggu kerja jantung. Keracunan berat bisa berakibat fatal.

Tanaman ini relevan dengan kondisi Indonesia. Data Kew Science mencatat Cerbera odollam tumbuh secara alami di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

2. Saga Rambat (Abrus precatorius)

Biji saga rambat memiliki warna merah dengan ujung hitam sehingga kerap dimanfaatkan sebagai ornamen atau perhiasan. Namun, penampilannya yang menarik menyimpan risiko: biji tanaman ini mengandung abrin, racun yang sangat kuat.

Apabila biji rusak atau dikunyah hingga racunnya masuk ke tubuh, keracunan dapat menyebabkan mual, muntah, kejang, kerusakan organ, hingga kematian. Karena itu, biji saga rambat tidak boleh dianggap aman hanya karena kerap digunakan sebagai hiasan.

3. Bunga Mentega (Nerium oleander)

Oleander merupakan tanaman hias dengan bunga yang umumnya berwarna mencolok, termasuk merah muda. Di balik tampilannya, tanaman ini mengandung glikosida jantung (cardiac glycosides) yang dapat mengganggu irama dan fungsi jantung jika tertelan.

Oleander bukan tanaman asli Indonesia, tetapi telah diperkenalkan dan dapat tumbuh di sejumlah wilayah. Kew Science mencatat keberadaannya, antara lain, di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. RHS juga memperingatkan bahwa oleander beracun jika dimakan dan asap dari pembakaran tanaman ini berbahaya.

4. Kecubung (Datura metel)

Kecubung merupakan tanaman semak dari keluarga terong-terongan. Tanaman ini memiliki bunga berbentuk terompet berwarna putih atau ungu serta buah bulat berduri. Kecubung dapat ditemukan di wilayah tropis, termasuk Indonesia, dan kerap ditanam sebagai tanaman hias karena bentuk bunganya yang khas.

Dalam pengobatan tradisional, kecubung dikenal pernah digunakan untuk sejumlah keluhan, seperti memar, sakit gigi, demam, rematik, asam urat, dan asma. Namun, penggunaan tradisional tersebut tidak berarti tanaman ini aman dikonsumsi.

Kecubung mengandung senyawa yang dapat memengaruhi sistem saraf. Paparan melalui konsumsi atau penyalahgunaan dapat memicu halusinasi, gangguan denyut jantung, kejang, hingga kondisi yang mengancam nyawa.

5. Tembakau (Nicotiana tabacum)

Tembakau menjadi salah satu tanaman paling dikenal dalam daftar ini. Tanaman tersebut mengandung alkaloid, terutama nikotin dan anabasin, dengan kadar tinggi pada daunnya.

Discover Wildlife mencatat tembakau dapat menyebabkan keracunan jika dimakan. RHS juga menyoroti dampak kesehatan dari produk tembakau: konsumsi rokok dan paparan asapnya menyebabkan jutaan kematian secara global setiap tahun.

Di Indonesia, Nicotiana tabacum telah lama dibudidayakan secara komersial. Tanaman ini juga telah diperkenalkan dan tumbuh di Jawa serta berbagai wilayah tropis lainnya.

6. Jagung (Zea mays)

Jagung mungkin terdengar tidak biasa dalam daftar tanaman berbahaya karena merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi. Namun, RHS memasukkannya dalam pembahasan tanaman berisiko terkait persoalan gizi, bukan karena jagung memiliki racun seperti kecubung atau oleander.

Jika jagung menjadi makanan utama dalam jangka panjang dan pola makan tidak menyediakan niasin atau vitamin B3 yang cukup tersedia bagi tubuh, seseorang dapat mengalami pellagra. Kondisi akibat kekurangan niasin ini dapat menyebabkan dermatitis, diare, gangguan neurologis, bahkan kematian jika tidak ditangani.

Risiko tersebut terutama berkaitan dengan pola makan yang sangat bergantung pada jagung dan minim sumber niasin lain. Konsumsi jagung sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang bukan berarti berbahaya. RHS menjelaskan bahwa pengolahan tradisional jagung dengan kapur, seperti dalam pembuatan tortilla, membantu tubuh menyerap niasin.

Jagung juga telah tersebar luas di Indonesia, termasuk di Jawa, Sumatra, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil.

Selain persoalan gizi, jagung yang disimpan dalam kondisi lembap dapat terkontaminasi jamur penghasil mikotoksin, seperti aflatoksin dan fumonisin. Kontaminasi ini tidak selalu dapat dikenali hanya dari penampilan biji. Jagung yang berjamur, berubah warna, berbau tidak biasa, atau membusuk sebaiknya tidak dikonsumsi. Proses memasak pun tidak selalu menghilangkan seluruh mikotoksin.

Beracun Bukan Berarti Tidak Memiliki Nilai Ekonomi

Sifat beracun tidak otomatis membuat suatu tanaman kehilangan manfaat ekonomi. Sejumlah tanaman dalam daftar tersebut justru dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Tembakau, misalnya, merupakan komoditas komersial yang dibudidayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jagung memiliki kegunaan yang luas sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri.

Oleander juga ditanam sebagai tanaman hias. Sementara itu, biji saga rambat pernah digunakan sebagai ornamen dan perhiasan karena bentuk serta warnanya yang menarik. Meski demikian, pemanfaatan sebagai hiasan tetap perlu memperhatikan risiko toksisitas bijinya.

Dengan demikian, status tanaman sebagai tumbuhan beracun tidak serta-merta berarti tanaman tersebut tidak berguna. Risiko bergantung pada jenis senyawa, bagian tanaman, cara pemanfaatan, serta bentuk dan tingkat paparannya.

Mengenali tanaman dan memahami bagian yang berbahaya menjadi langkah penting untuk menghindari keracunan. Jangan mengonsumsi tanaman yang tidak diketahui identitasnya. Jika seseorang diduga menelan bagian tanaman beracun, segera cari bantuan medis dan, bila memungkinkan, sertakan sampel tanaman untuk membantu proses identifikasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *