Sumur Mengering, 9 SD di Sleman Masih Butuh Bantuan Air Bersih

Sumur Mengering, 9 SD di Sleman Masih Butuh Bantuan Air Bersih

Foto ilustrasi kekeringan. – Magnific

PortalRakyat, SLEMAN— Sebanyak sembilan sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sleman masih mengandalkan bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena sumur mengering pada musim kemarau. Bantuan sebanyak 2.000 liter air untuk setiap sekolah disalurkan secara berkala setiap tiga hingga empat hari guna menunjang aktivitas belajar mengajar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, mengatakan terdapat 12 sekolah yang mengalami kekeringan pada musim kemarau ini. Dari jumlah tersebut, sembilan sekolah masih membutuhkan pasokan air bersih.

“Yang masih dropping sekitar sembilan,” terang Uun dihubungi pada Senin (19/10/2026).

Sembilan sekolah yang masih menerima bantuan air bersih tersebut tersebar di sejumlah wilayah di Sleman. Sekolah-sekolah itu yakni SDN Muh 2 Pakem, SDN Cancangan, SDN Sejati, SDN Turi 2, SDN Kwayuhan, SDN Bulus, SDN Wonosari 2, SDN Turen, dan SD Muh Gamplong.

BPBD Kirim Air

Uun menjelaskan, kekeringan yang dialami sekolah-sekolah tersebut rata-rata terjadi karena sumur mengering. Laporan mengenai kebutuhan air bersih mulai diterima BPBD Sleman sejak awal Oktober.

“Sekitar awal Oktober mulai ada info beberapa sekolah. Kemudian ternyata setelah kami turun ke lapangan, kami cari data ternyata ada beberapa juga yang memang sudah membutuhkan dropping,” terangnya.

Sejak awal Oktober, BPBD Sleman rutin mengirimkan bantuan air bersih ke sekolah-sekolah yang terdampak. Penyaluran dilakukan setiap tiga hingga empat hari sekali dengan volume 2.000 liter untuk masing-masing sekolah.

“Kalau di setiap sekolah itu kami sediakan tanggungan 2.000 liter,” ujarnya.

Pasokan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan air warga sekolah selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Air bersih diperlukan, antara lain, untuk beribadah dan memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

Solusi Darurat

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menegaskan penyaluran bantuan air bersih merupakan langkah darurat untuk mengatasi kekurangan air di sekolah. Penanganan tersebut bukan solusi jangka panjang sehingga setiap sekolah yang mengalami kekeringan perlu diidentifikasi untuk menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing.

Bambang menjelaskan terdapat empat alternatif solusi yang dapat ditempuh sekolah ketika mengalami kekeringan. Pilihan penanganan itu disesuaikan dengan kondisi dan kemungkinan penerapannya di setiap lokasi.

Empat solusi yang dapat dipertimbangkan meliputi:

– Membuat atau memperdalam sumur bor, untuk memenuhi kebutuhan air sekolah.
– Memanfaatkan pasokan air sementara dari warga sekitar, sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air.
– Menyambungkan jaringan air PDAM, jika memungkinkan diterapkan di sekolah yang terdampak.
– Menerima bantuan air bersih dari BPBD, apabila tiga pilihan sebelumnya tidak dapat diterapkan.

Menurut Bambang, sekolah yang saat ini membutuhkan bantuan air bersih mengalami kondisi sumur yang mengering. Karena itu, BPBD menyalurkan air bersih dengan volume 2.000 liter untuk setiap tangki.

Penentuan solusi jangka panjang diperlukan agar kebutuhan air di sekolah dapat dipenuhi sesuai kondisi setempat. Sementara itu, bantuan air bersih tetap disalurkan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari warga sekolah selama kekeringan berlangsung.

Kekeringan Sekolah

Bambang mengatakan kekeringan yang berdampak pada sekolah di Kabupaten Sleman bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa pernah melanda sejumlah sekolah pada 2023.

Pada musim kemarau kali ini, BPBD Sleman kembali melakukan penanganan melalui penyaluran bantuan air bersih kepada sekolah yang membutuhkan. Dari 12 sekolah yang teridentifikasi mengalami kekeringan, sembilan di antaranya masih memerlukan bantuan pasokan air.

Penanganan darurat tersebut dilakukan sembari mengidentifikasi kebutuhan masing-masing sekolah untuk menentukan solusi jangka panjang. Dengan demikian, bantuan air bersih dapat digunakan untuk menunjang aktivitas sekolah selama kebutuhan air belum terpenuhi dari sumber yang tersedia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *