Kekeringan di Ngawi Meluas, 4.403 Warga Terdampak di 7 Kecamatan

Kekeringan di Ngawi Meluas, 4.403 Warga Terdampak di 7 Kecamatan

Ilustrasi kekeringan – Foto dibuat oleh AI/StockCake

PortalRakyat, NGAWI—Kekeringan akibat kemarau panjang semakin meluas di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi mencatat sebanyak 4.403 jiwa di 21 desa yang tersebar di tujuh kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga kini mengandalkan bantuan air bersih yang didistribusikan menggunakan truk tangki. Bantuan tersebut disalurkan secara rutin oleh BPBD bersama sejumlah instansi lain agar masyarakat terdampak tetap memperoleh pasokan air.

Dampak kekeringan dirasakan warga Desa Cantel, Kecamatan Pitu. Salah seorang warga setempat, Puryanto, mengatakan sumur-sumur di lingkungan permukiman telah mengering sejak sekitar sebulan terakhir.

Kondisi itu membuat warga harus mencari sumber air alternatif yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Ketika bantuan air bersih datang, warga berbondong-bondong membawa jeriken dan galon bekas untuk menampung air.

“Sulit sekali, apalagi kalau bantuan tidak datang. Kami harus mencari air jauh sampai ke tengah hutan. Air itu juga untuk minum dan kebutuhan ternak. Sudah sebulan terakhir sumur mengering,” ujarnya, Minggu (11/10/2026).

Sumur Warga Mengering, Pasokan PDAM Terbatas

Puryanto menjelaskan, kekeringan tidak hanya menyebabkan sumur warga kehilangan air, tetapi juga membuat sumber-sumber air di sekitar permukiman ikut mengering. Akibatnya, warga harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk memperoleh air ketika bantuan belum tiba.

Situasi semakin sulit karena pasokan air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) belakangan hanya mengalir sesekali dengan debit yang kecil. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk konsumsi maupun keperluan rumah tangga dan ternak.

Kehadiran bantuan air bersih menjadi penopang penting bagi masyarakat selama musim kemarau. Warga bersyukur distribusi air masih berlangsung sehingga mereka tidak harus selalu mencari sumber air yang jauh dari permukiman.

“Kalau kering biasanya ambil di daerah sana, kalau dari permukiman cukup jauh jaraknya. Ya syukur saat ini ada droping air,” jelasnya.

BPBD Ngawi Salurkan Air Bersih Setiap Hari

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi, Yudha Herlambang, mengatakan jumlah warga yang terdampak kekeringan pada tahun ini terus meningkat. Berdasarkan data BPBD hingga Minggu (11/10/2026), sebanyak 4.403 jiwa di 21 desa dan tujuh kecamatan tercatat mengalami kesulitan air bersih.

“Hingga kini sudah ada lebih dari 4.000 jiwa yang terdampak kekeringan. Sumur-sumur warga mengering akibat kemarau panjang,” ungkapnya.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Ngawi bersama berbagai instansi melakukan distribusi air bersih secara rutin. Penyaluran bantuan dilaksanakan setiap hari dengan pembagian wilayah agar masyarakat yang terdampak dapat memperoleh pasokan air.

Yudha menjelaskan, distribusi dilakukan secara bersama-sama dengan sejumlah pihak yang turut membantu penanganan kekeringan. Koordinasi diperlukan agar bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak secara merata.

“Kita droping air setiap hari, ada juga instansi lain yang turut terlibat, kita bagi agar seluruh wilayah terdampak bisa mendapat air bersih,” kata dia.

Dengan jumlah warga terdampak yang mencapai ribuan jiwa, distribusi air bersih menjadi salah satu upaya penting untuk membantu masyarakat menghadapi kemarau panjang. Warga di wilayah yang sumber airnya mengering masih bergantung pada bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *