Petani di Pakualaman, Jogja, Didorong Kembangkan Anggrek Jadi Peluang Usaha

Petani di Pakualaman, Jogja, Didorong Kembangkan Anggrek Jadi Peluang Usaha

Bimbingan Teknis Budidaya Anggrek yang diikuti sekitar 30 anggota kelompok tani di Kantor Kemantren Pakualaman, Kamis (17/9/2026). /Ist- Kemantren Pakualaman

PortalRakyat, JOGJA— Budidaya anggrek di kalangan petani urban Kemantren Pakualaman, Kota Jogja mulai diarahkan tidak sekadar untuk menghasilkan tanaman hias yang tumbuh baik. Tanaman tersebut juga didorong menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dikembangkan sebagai peluang usaha.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Bimbingan Teknis (Bintek) Budidaya Anggrek Lanjutan yang diikuti sekitar 30 anggota kelompok tani se-Kemantren Pakualaman, Kamis (17/9/2026).

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai perawatan dan budidaya anggrek. Mereka juga mendapatkan pengetahuan mengenai peluang agrobisnis, potensi pasar, serta pengelolaan kelompok tani agar kegiatan budidaya dapat berjalan lebih terarah.

Anggrek Tak Sekadar Tanaman Hias

Praktisi anggrek, Mbari Ambarwati, mengajak para petani melihat budidaya anggrek dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, anggrek memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas usaha dengan memanfaatkan pasar yang tersedia.

Materi yang disampaikan Mbari mencakup kebijakan serta peluang agrobisnis anggrek. Peserta juga diajak memahami potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh petani lokal.

“Anggrek tidak hanya bisa dikembangkan dari sisi budidayanya, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha dengan memanfaatkan pasar yang ada,” kata Mbari dalam kegiatan tersebut.

Dorongan pengembangan usaha tersebut membuat budidaya anggrek tidak hanya berorientasi pada hasil tanaman. Petani juga perlu memahami aspek pengelolaan usaha agar potensi ekonomi dari tanaman hias tersebut dapat dikembangkan.

Kelompok Tani Perlu Tata Kelola Tertib

Selain sisi agrobisnis, Bintek Budidaya Anggrek Lanjutan juga memberikan perhatian terhadap pengelolaan kelompok tani. Praktisi lainnya, Yohanes Dwi Sudiantono, memberikan materi mengenai administrasi kelompok, pembukuan, hingga pencatatan kegiatan.

Menurut Yohanes, administrasi dan dokumentasi diperlukan agar kegiatan kelompok tani tidak hanya berjalan secara informal. Pencatatan yang tertib juga dapat membantu kelompok memantau perkembangan kegiatan sekaligus pengelolaan usaha.

“Kelompok tani perlu memiliki administrasi dan pembukuan yang tertib, termasuk mendokumentasikan setiap kegiatan agar pengelolaannya semakin profesional,” ujar Yohanes.

Dengan pengelolaan yang lebih tertata, kelompok tani dapat memiliki catatan yang jelas mengenai kegiatan yang telah dilakukan. Administrasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat profesionalitas kelompok.

Peserta Susun Rencana Tindak Lanjut

Setelah mendapatkan materi, peserta tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran. Mereka juga diarahkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai langkah untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.

Melalui RTL tersebut, masing-masing kelompok tani diharapkan memiliki langkah konkret dalam menerapkan hasil Bintek. Penerapan tersebut diarahkan pada kegiatan budidaya anggrek di wilayah masing-masing.

Bintek juga menjadi ruang bagi para petani untuk bertukar pengalaman mengenai budidaya anggrek. Pengalaman antarpetani dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kegiatan budidaya di Kemantren Pakualaman.

Pengembangan anggrek di kalangan petani urban Pakualaman diharapkan tidak hanya membuat kegiatan budidaya semakin produktif. Tanaman hias tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang usaha sekaligus menopang potensi ekonomi lokal di Pakualaman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *