PortalRakyat, JAKARTA—Lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia telah memiliki kesadaran untuk menyikat gigi setiap hari. Kendati demikian, mayoritas masyarakat rupanya masih belum melakukannya pada waktu yang tepat.
Fakta menarik tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Tari Tritarayati. Ia menilai tingkat kesadaran menyikat gigi memang tinggi, tetapi secara cara dan momentum pelaksanaan masih banyak kekeliruan.
“Kalau kita lihat dari data yang ada, 95 persen ke atas masyarakat sudah menyikat gigi. Tetapi survei membuktikan bahwa cara dan waktu menyikat giginya salah,” kata Tari dalam konferensi pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 di Jakarta, Kamis.
Merujuk data survei kesehatan yang dipaparkan Tari, angka masyarakat yang menggosok gigi di waktu yang direkomendasikan sangatlah minim. Tercatat kurang dari tiga persen masyarakat yang konsisten menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
Tari lantas menggambarkan fenomena ini melalui momen interaksi antara Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono bersama siswa sekolah dasar saat pembukaan BKGN 2026 di SDN Menteng 01. Saat ditanya siapa yang menyikat gigi di pagi hari, seluruh murid serentak mengangkat tangan.
Namun suasana mendadak berubah ketika pertanyaan dilanjutkan mengenai siapa yang menyikat gigi seusai menyantap sarapan. Tidak ada satu pun siswa yang mengacungkan tangannya.
“Jadi itu suatu hal yang menunjukkan bahwa waktunya juga kurang tepat,” ujarnya.
Ancaman Makanan Manis dan Asam Pembentuk Lubang Gigi
Selain persoalan jam ideal menggosok gigi, PB PDGI turut menyoroti kebiasaan konsumsi harian masyarakat. Data menunjukkan sebanyak 45,7 persen masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D memberikan penjelasan ilmiahnya. Ia menerangkan bahwa sajian manis memicu terbentuknya senyawa asam yang merusak lapisan enamel melalui proses metabolisme bakteri di dalam rongga mulut.
“Jadi bukan kumannya makan gigi. Kuman makan substrat yang manis-manis tadi, menghasilkan asam, asamnya menghancurkan permukaan gigi,” kata Suryono.
Guna menekan tingginya risiko kerusakan gigi nasional, Tari menegaskan pentingnya penguatan edukasi secara intensif. Pemahaman menyeluruh mengenai tata cara serta waktu ideal membersihkan gigi harus ditanamkan sejak dini.
Ia juga mengimbau warga untuk mulai mengontrol asupan hidangan manis sebagai langkah preventif menjaga kesehatan rongga mulut secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
