Suvenir pernikahan Rangga dan Nunu berupa anak ayam hidup dalam kotak mika menuai kritik warganet karena dinilai tak layak. /Instagram.
PortalRakyat, JAKARTA— Aksi pasangan pengantin bernama Rangga dan Nunu menjadi perbincangan di media sosial setelah membagikan suvenir berupa anak ayam hidup atau pitik kepada para tamu undangan pernikahan mereka.
Unggahan yang memperlihatkan suvenir tersebut kemudian menuai beragam respons dari warganet. Sejumlah netizen mengkritik keputusan menjadikan anak ayam hidup sebagai bingkisan, terutama karena hewan tersebut ditempatkan dalam kotak mika transparan berukuran kecil.
Kondisi tersebut dinilai sejumlah warganet tidak layak dan berpotensi mengganggu kesejahteraan anak ayam selama acara berlangsung.
Akun @sendaljepitmasjid72 mengaku prihatin melihat hewan hidup dijadikan suvenir pernikahan.
“Sedih banget ngeliat makhluk hidup dijadiin souvenir, gak ngerti lagi,” tulis akun tersebut.
Komentar serupa disampaikan akun @seeyiaa___. Ia mempertanyakan bagaimana kondisi anak ayam selama berada di dalam wadah berukuran kecil dan tertutup dalam waktu yang cukup lama.
“Kok ya bisa orang waras kepikiran naruh pitik alias ayam di box kecil berjam2???” ungkapnya.
Sorotan lain berkaitan dengan aspek etika dan kepatutan dalam acara pernikahan. Akun @ezzahm menilai penggunaan kotak mika sebagai wadah suvenir anak ayam tidak masuk akal.
Sementara itu, akun @naintyn_ mengingatkan agar momen pernikahan tetap memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keberkahan dan doa baik.
“Jangan jahat2 jd manusia, apalagi diacara yg seharusnya minta keberkahan dan doa baik utk seterusnya,” tegasnya.
Fenomena suvenir pernikahan dengan konsep unik hingga tidak biasa memang belakangan kerap menjadi perhatian. Namun, respons terhadap suvenir anak ayam hidup tersebut membuat warganet turut mengingatkan calon pengantin agar mempertimbangkan aspek kesejahteraan hewan atau animal welfare.
Pertimbangan terhadap kondisi hewan dan dampak etis dinilai penting sebelum menentukan konsep suvenir yang akan diberikan kepada para tamu undangan.
Dalam klarifikasinya, Rangga dan Nunu mengungkapkan bahwa mereka memantau besarnya perhatian serta kekhawatiran publik mengenai penggunaan anak ayam sebagai bingkisan pernikahan. Keduanya merasa perlu meluruskan niat awal di balik pemilihan suvenir unik tersebut.
”Untuk itu, kami ingin menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi niat awal kami,” tulis pasangan tersebut dalam permohonan maaf tertulisnya.
Mereka menjelaskan bahwa ide memberikan suvenir anak ayam berawal dari rasa prihatin saat melihat maraknya penjualan anak ayam yang diberi warna atau cat hias untuk menarik minat pembeli. Rangga dan Nunu berinisiatif mengambil sebagian dari anak ayam tersebut sebelum melewati proses pewarnaan agar hewan-hewan itu berkesempatan mendapatkan perawatan yang lebih layak.
”Kami memilih mengambil sebagian dari mereka sebelum proses tersebut, dengan harapan mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk dirawat dengan lebih baik,” ungkap Rangga dan Nunu.
Meski bermaksud ingin menyelamatkan anak-anak ayam tersebut, keduanya menyadari bahwa eksekusi serta pengemasan suvenir di lokasi acara pernikahan justru menimbulkan kekhawatiran terkait kesejahteraan hewan di mata publik. Respons dan masukan yang diberikan masyarakat akan dijadikan bahan evaluasi agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
