PortalRakyat, SLEMAN— Ratusan galon bekas di SDN Purwosari, Sleman, kini berubah menjadi pot tanaman yang menghasilkan beragam sayuran. Melalui program edukasi ketahanan pangan yang dimulai pada Juli 2026, para siswa belajar bercocok tanam sekaligus memanfaatkan limbah sekolah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Di halaman sekolah, tanaman tomat, terong, cabai, stroberi, padi, hingga ketela tumbuh dalam wadah galon bekas. Sejumlah tanaman bahkan sudah menghasilkan buah yang dapat dipanen dan diolah menjadi makanan oleh para siswa.
Pada Kamis (1/10/2026), kegiatan di kebun sekolah berlangsung ramai. Sebagian siswa mencabuti rumput di sekitar tanaman, sementara yang lain menyiram pembibitan menggunakan air yang dibawa dengan ember dan gelas plastik berlubang.
Beberapa siswa juga memanen sayuran yang telah siap dipetik. Mereka terlihat antusias menjalankan tugas merawat kebun, mulai dari menyiram hingga mengumpulkan hasil panen.
Bagi para siswa, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah. Mereka dapat mengikuti proses pertanian sejak menanam benih, merawat tanaman, hingga memanen dan memasak hasilnya.
Ilyas, siswa kelas tiga SDN Purwosari, mengaku senang mengikuti kegiatan bercocok tanam bersama teman-temannya. Sambil memegang nampan berisi tomat hasil panen, ia bercerita tentang sayuran yang paling disukainya.
“Kangkung, enak aja kalau makan,” ujar Ilyas pada Kamis (1/10/2026).
.jpg)
Antusiasme serupa dirasakan Difa, siswi kelas enam. Menurut dia, kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk belajar bertani secara langsung.
“Iya [senang] karena bisa melatih murid agar bisa bertani,” tuturnya.
Difa bersama teman-temannya rutin menyiram tanaman pada pagi hari dan sebelum pulang sekolah. Setelah panen, hasilnya biasanya dimasak bersama oleh masing-masing kelas.
“Menyiram setiap pagi sama mau pulang. Panennya nanti kita bareng-bareng, habis itu hasil panennya biasanya dimasak kelas masing-masing,” ujar Difa.
Berawal dari Tumpukan Limbah di Sekolah
Kepala SDN Purwosari, Zaenuri, menjelaskan program tersebut berangkat dari persoalan sampah yang dihasilkan lingkungan sekolah. Limbah organik maupun anorganik, termasuk galon bekas air mineral dan sisa kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG), kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Menurut Zaenuri, enam kelas di sekolah itu hampir setiap tiga hari menghasilkan satu galon bekas. Dalam beberapa bulan, jumlahnya menumpuk hingga ratusan wadah.
“Jadi idenya itu karena di SD kita itu kan banyak limbah ya, ada limbah dari MBG, kemudian ada limbah-limbah organik maupun non-organik, salah satunya ada kita punya galon. Kita punya enam kelas yang setiap kelas itu hampir setiap tiga hari sekali itu kan menghasilkan satu galon sampah ya. Nah makanya dalam beberapa bulan itu terkumpul banyak ratusan galon,” kata Zaenuri.
Tumpukan limbah tersebut mendorong sekolah mencari cara agar sampah tidak hanya menjadi persoalan pembuangan. Galon bekas digunakan sebagai pot, sedangkan limbah organik diolah menjadi pupuk dan bahan media tanam.
Program ini sekaligus menjadi sarana mengenalkan pertanian kepada anak-anak. Zaenuri menyebut masih sedikit siswa yang mengenal dunia pertanian secara dekat, bahkan profesi petani belum banyak menjadi pilihan cita-cita mereka.
“Maka kemudian tercetus terkait dengan edukasi ketahanan pangan ini. Salah satunya juga kegelisahan kita karena di SD kita itu ya tidak banyak anak yang tahu tentang pertanian, apalagi untuk cita-cita menjadi petani itu tidak ada. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ujarnya.
Sebelum diterapkan, gagasan tersebut dibahas bersama paguyuban siswa. Program edukasi ketahanan pangan kemudian mulai dijalankan pada tahun ajaran 2026/2027 sebagai bagian dari diversifikasi kurikulum sekolah.
“Kita masukkan, jadi ini adalah muatan kurikulum di mana nanti ini menjadi bagian dari pendidikan yang kita masukkan dalam kegiatan kokurikuler dan pembiasaan,” tutur Zaenuri.
Sebanyak 600 Galon Bekas Dimanfaatkan
Sejak program dimulai pada Juli 2026, SDN Purwosari telah memanfaatkan sekitar 500–600 galon bekas sebagai wadah budi daya tanaman. Pada awal pelaksanaan, sekolah mengumpulkan sekitar 150 galon, termasuk galon bekas yang dibawa dari rumah wali murid.
Jenis tanaman sengaja dibuat beragam agar siswa dapat mengenal lebih banyak komoditas pertanian. Selain tomat, terong, dan cabai, mereka juga menanam stroberi, padi, ketela, serta tanaman lainnya.
“Ini mungkin sekitar sudah 600-an galon yang memang jenis tanamannya itu kita sengaja berbeda-beda karena untuk edukasi nggih. Jadi ada tomat, ada terong, ada cabai, ada stroberi, ada padi, ada ketela, dan lain-lain karena memang tujuannya untuk pembelajaran,” tutur Zaenuri.
Keberagaman tanaman itu menjadi semacam perpustakaan hidup bagi para siswa. Mereka tidak hanya mempelajari nama tanaman, tetapi juga terlibat dalam proses menanam, merawat, dan memanen.
Program tersebut tidak membutuhkan anggaran khusus untuk pengadaan wadah maupun sejumlah bahan tanam. Sekolah memanfaatkan potensi limbah yang tersedia di lingkungan sekolah dan sekitarnya.
“Alhamdulillah untuk kegiatan ini nol rupiah. Karena semuanya kita memanfaatkan potensi yang ada di sekolah. Ada galon-galon ini, ini 100% dari limbah yang ada di sekolah,” kata Zaenuri.
Sekolah juga memanfaatkan limbah organik dari lingkungan sekitar sebagai media tanam. Seluruh tahapan pertanian dijalankan secara terpadu, mulai dari pembenihan hingga pemanenan.
“Jadi proses pertanian ini kita laksanakan dari awal, mulai dari pembenihan ya, sampai nanti pemanenan itu menjadi satu kesatuan utuh,” jelas Zaenuri.
Pertanian Terintegrasi dengan Perikanan dan Peternakan
Kegiatan ketahanan pangan di SDN Purwosari tidak berhenti pada budi daya sayuran. Sekolah juga mulai mengembangkan perikanan lele dan pemeliharaan unggas dalam skala sederhana.
Seperti tanaman, budi daya lele turut memanfaatkan galon bekas. Ke depan, sekolah ingin mengembangkan sistem pertanian, perikanan, dan peternakan yang saling terhubung sehingga hasil samping dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya.
“Jadi nanti sistem pertanian, perikanan, peternakan ini tidak ada zat terbuang, semuanya berputar dimanfaatkan secara siklus,” ujarnya.
Konsep tersebut membuat edukasi ketahanan pangan tidak hanya mengenalkan satu bidang kepada siswa. Mereka juga belajar bagaimana berbagai kegiatan produksi pangan dapat saling mendukung.
Sekolah berupaya menghindari penggunaan pestisida kimia dalam pemeliharaan tanaman. Pada bulan ketiga pelaksanaan program, siswa mulai bisa membuat pupuk cair dari limbah organik, termasuk sisa tanaman dan limbah MBG.
“Jadi dari limbah-limbah tanaman kita, kemudian limbah MBG juga, itu kita gunakan untuk pembuatan pupuk cair dan alhamdulillah sekarang sudah berproduksi, bisa digunakan untuk pemupukan harian,” tandas Zaenuri.
Hasil Panen untuk Memasak hingga Belajar Berwirausaha
Hasil kebun sekolah mulai dirasakan pada awal Oktober 2026. Sejumlah tanaman tomat menghasilkan buah yang kemudian dipanen dan dimanfaatkan dalam kegiatan siswa.
Salah satu pemanfaatannya adalah cooking class. Setiap kelas merencanakan tanaman yang akan dibudidayakan, kemudian mengolah hasil panen sesuai dengan jenis tanaman yang tersedia.
“Biasanya digunakan para siswa satu untuk cooking class. Jadi setiap kelas itu nanti memprogramkan mereka tanam apa, nanti hasil panennya itu dimasak sesuai dengan tanaman yang ada,” tutur Zaenuri.
Sayuran hasil budi daya juga digunakan sebagai hadiah dalam berbagai kegiatan sekolah. Melalui cara tersebut, siswa diperkenalkan pada nilai hasil kerja mereka sendiri sekaligus pentingnya memanfaatkan produk pangan lokal.
Ke depan, hasil kebun akan dimanfaatkan pula untuk pembelajaran kewirausahaan. Para siswa direncanakan belajar memasarkan produk, termasuk dengan mengiklankannya melalui pasar daring.
“Sehingga nanti income-nya nanti akan kembali ke kelas untuk membuat siklus ulang, sehingga nanti keberlanjutan dari kegiatan ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Dengan demikian, program ketahanan pangan di sekolah dirancang tidak hanya menghasilkan bahan makanan. Kegiatan itu juga menjadi media untuk mengenalkan proses produksi, pemanfaatan hasil, dan perputaran pendapatan bagi keberlanjutan program.
Menjadi Media Belajar Berbagai Mata Pelajaran
Zaenuri mengatakan edukasi ketahanan pangan dirancang untuk memperluas pengalaman belajar siswa di luar ruang kelas. Menurut evaluasi sekolah, pembelajaran yang terlalu berpusat pada kelas berisiko membuat siswa lebih banyak menguasai pengetahuan, tetapi kurang mendapat kesempatan mengasah keterampilan dan perilaku.
Melalui kegiatan budi daya, materi dari berbagai mata pelajaran dapat dipadukan dengan praktik langsung.
Matematika, misalnya, dapat dipelajari melalui pengukuran dalam proses budi daya. Sementara itu, materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dapat dikaitkan dengan ekosistem pertanian.
Sekolah juga mengintegrasikan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) melalui kegiatan memasak makanan khas tradisional Yogyakarta menggunakan hasil panen.
“Juga nanti sebagai edukasi juga terkait dengan perilaku anak. Karena selama ini kan banyak pendidikan itu berbasis kelas ya. Anak-anak hanya belajar tentang pengetahuan, tapi minim di keterampilan dan perilaku. Maka kemudian ini menjadi sumber belajar juga, termasuk nanti pembelajaran lintas disiplin ilmu,” ungkap Zaenuri.
Pembelajaran juga mencakup pembiasaan disiplin dan kerja sama. Para siswa mendapat tanggung jawab merawat tanaman secara bergantian, termasuk menyiramnya sebelum kegiatan belajar dimulai dan sebelum pulang.
“Pemeliharaan, penyiraman, dan lain-lain ini untuk melatih pembiasaan anak disiplin, kerja sama, dan lain-lain. Kita buat dalam program pembiasaan di mana anak-anak itu ketika berangkat sekolah pagi itu melakukan penyiraman. Termasuk nanti pas sore hari ketika mereka pulang, biasanya pulang jam 14.00 itu mereka akan bekerja sama untuk menyirami tanamannya sendiri,” ungkapnya.
Enam Kavling Dikelola Siswa Kelas Satu hingga Enam
Area budi daya di SDN Purwosari dibagi menjadi enam kavling. Setiap kavling menjadi tanggung jawab siswa dari masing-masing kelas, mulai kelas satu hingga kelas enam.
Pengelolaan setiap kavling dimusyawarahkan bersama oleh siswa di kelas masing-masing. Dengan pembagian itu, siswa berkesempatan belajar merencanakan kegiatan, membagi tugas, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka rawat.
Pada tahap awal, orang tua turut mendampingi siswa ketika galon bekas dipotong untuk dijadikan pot. Pendampingan diperlukan karena proses tersebut menggunakan benda tajam, seperti gunting dan silet, yang berisiko membahayakan anak.
Keterlibatan orang tua juga diharapkan mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua melalui kegiatan bersama di sekolah.
“Jadi dengan pelibatan orang tua secara langsung seperti ini, ini menyebabkan orang tua itu juga ada keterlibatan mental yang mereka justru ya juga mempunyai mendapat dampak positif,” tutur Zaenuri.
Persiapan media tanam yang membutuhkan waktu cukup lama dilakukan pada waktu kokurikuler. Siswa menggunakan alokasi waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk terlibat langsung dalam proses tersebut.
Setelah media tanam siap, siswa menebar benih untuk pembibitan. Ketika bibit telah cukup umur, tanaman dipindahkan ke pot dari galon bekas dan dirawat hingga siap dipanen.
Zaenuri menilai kegiatan tersebut membantu mengasah keterampilan praktis siswa. Anak-anak yang sebelumnya belum bisa membelah bambu, misalnya, mulai mempelajari keterampilan itu. Mereka juga berkreasi membuat wadah galon yang unik serta papan penanda tanaman.
“Alhamdulillah sekarang anak lebih terasah terutama di keterampilan dan sikap,” tuturnya.
Sekolah Siapkan Greenhouse dan Komoditas Baru
Program ketahanan pangan SDN Purwosari mendapat sambutan positif dari siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar. Zaenuri mengatakan banyak siswa yang awalnya kurang mengenal pertanian justru menunjukkan antusiasme setelah terlibat langsung dan merasakan hasilnya.
“Karena anak-anak kota yang awalnya memang enggak terlalu tertarik dengan dunia pertanian. Tapi setelah mereka kemudian terlibat langsung, kemudian tahu hasilnya, antusias anak itu luar biasa. Termasuk ini tidak hanya siswanya, termasuk orang tuanya, bahkan masyarakat sekitar itu sangat mendukung sekali kegiatan ini, dan berharap kegiatan ini bisa terus berkembang,” tuturnya.
Dinas Pendidikan juga disebut tertarik dengan program tersebut. Sekolah berharap model edukasi ketahanan pangan ini dapat berkembang dan diterapkan di sekolah lain.
Ke depan, SDN Purwosari berencana menambah jenis tanaman yang dibudidayakan. Sekolah akan menginventarisasi komoditas yang belum ditanam agar pengetahuan siswa mengenai pertanian semakin luas.
“Jadi kita inventarisir tanaman-tanaman yang belum kita tanam, sehingga nanti anak-anak itu akan lebih banyak tahu tentang pertanian,” kata Zaenuri.
Selain memperbanyak jenis tanaman, sekolah berencana membangun greenhouse untuk mendukung kegiatan budi daya. Di bidang peternakan dan perikanan, pengembangan yang direncanakan meliputi pemeliharaan ayam ELBA dan budi daya lele di kolam permanen.
Sekolah juga ingin menyiapkan zona khusus tanaman sumber karbohidrat, seperti kentang dan ubi, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada sayuran.
Bagi Zaenuri, pengembangan tersebut bukan semata-mata untuk memperbanyak hasil panen. Semakin beragam komoditas yang ditanam, semakin luas pula kesempatan siswa untuk mengenal pertanian dan memahami proses penyediaan pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
