Pencegahan Kekerasan Perempuan & Anak Dimulai dari Rumah

Pencegahan Kekerasan Perempuan & Anak Dimulai dari Rumah

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Tidak Lagi Diam, Perlawanan terhadap Kekerasan Anak dan Perempuan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY, di Balecatur, Gamping, Sleman, Rabu (14/10)./ Harian Jogja – Catur Dwi Janati

SLEMAN—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Tidak Lagi Diam, Perlawanan terhadap Kekerasan Anak dan Perempuan di Balecatur, Gamping, Sleman, Rabu (14/10). Melalui kegiatan ini, masyarakat didorong memperkuat komunikasi keluarga dan membangun sikap saling menghormati sebagai upaya mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menuturkan kegiatan bedah buku yang digelar DPAD DIY bersama DPRD DIY selalu mengangkat topik-topik yang menjadi perhatian masyarakat. Kali ini, keduanya mengajak masyarakat membahas upaya perlawanan dan pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Menurut Anton, kekerasan terhadap anak dan perempuan dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya persoalan ekonomi dan minimnya pengetahuan. Dia juga menyinggung pernikahan dini yang terkadang memicu beragam persoalan karena pasangan belum memiliki kestabilan emosional dan kemandirian ekonomi.

Dia berpendapat pendekatan agama dan komunikasi yang baik dalam keluarga berperan penting dalam mencegah kekerasan dalam rumah tangga. Komunikasi yang terbuka dan saling menghargai dinilai menjadi salah satu benteng untuk mencegah kekerasan.

“Jadi, saling menghargai, menghormati, dan komunikasi yang baik, semoga permasalahan sosial di masyarakat ini bisa teratasi,” kata Anton, Rabu.

Narasumber dari penerbit buku, Juliani Syafitri, mengungkapkan pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru kerap menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

“Gambarannya mungkin kita mulai dari akar rumput ya, maksudnya dari bawah sekali, misal dari keluarga, dari rumah. Jadi, kekerasan ini kan munculnya secara global itu berasal dari rumah. Bahkan tempat yang paling aman sekalipun itu enggak luput dari kekerasan,” tuturnya.

Oleh karena itu, Fitri menilai perlu ada perubahan cara pandang dalam keluarga. Setiap anggota keluarga harus saling menghargai dan mengasihi. Dia juga menyoroti pentingnya pendidikan agama dan pendidikan karakter untuk menanamkan nilai kasih sayang serta sikap saling menghormati sejak dini.

Narasumber lainnya, Dara Ayu Suharto, menyebutkan sikap saling menghormati, saling menghargai, dan komunikasi terbuka menjadi fondasi penting dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan keluarga.

Dara juga mendorong anak dan perempuan agar berani bersuara ketika mengalami kekerasan. Korban dapat terlebih dahulu melapor kepada anggota keluarga lain untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar.

Jika belum menemukan solusi, korban dapat mengakses berbagai lembaga layanan bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan di Sleman.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, menjelaskan kegiatan bedah buku digelar untuk mendorong masyarakat lebih giat membaca. Upaya meningkatkan minat baca tersebut dilakukan melalui kegiatan bedah buku yang pada tahun ini ditargetkan berlangsung di 200 titik di berbagai wilayah DIY. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *