Pekerja Muda Lebih Jarang Cuti Sakit, Tekanan Kerja Jadi Sorotan

Pekerja Muda Lebih Jarang Cuti Sakit, Tekanan Kerja Jadi Sorotan

Foto ilustrasi. /Bisnis Indonesia-Rahmatullah

PortalRakyat, JOGJA— Pekerja muda di Inggris ternyata lebih jarang mengambil cuti sakit dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Kondisi ini berlawanan dengan anggapan bahwa generasi muda lebih mudah mengeluhkan persoalan kesehatan di tempat kerja.

Data yang dikutip BBC dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan pekerja berusia 16-24 tahun rata-rata mengambil 2,4 hari cuti sakit dalam setahun terakhir. Angka itu jauh di bawah pekerja berusia 50-64 tahun yang rata-rata mengambil 6,2 hari.

Namun, rendahnya angka cuti sakit tersebut tidak serta-merta berarti pekerja muda lebih sehat atau lebih mampu bekerja ketika sedang sakit.

Prof. Sir Cary Cooper, psikolog dari University of Manchester yang meneliti kesejahteraan di tempat kerja, mengatakan pekerja muda justru menghadapi sejumlah kondisi yang dapat membuat mereka enggan meninggalkan pekerjaan.

Keamanan Kerja Menjadi Salah Satu Faktor

Salah satu penjelasan yang disampaikan Cooper adalah posisi pekerja muda yang lebih banyak berada pada tahap awal karier.

Kelompok ini lebih mungkin bekerja dalam posisi dengan tingkat keamanan kerja yang rendah, termasuk kontrak zero-hours yang tidak menjamin jumlah jam kerja tertentu. Kondisi tersebut dapat membuat keputusan untuk tidak masuk kerja terasa lebih berisiko.

Selain faktor pekerjaan, pekerja muda juga relatif lebih jarang mengalami kondisi kesehatan jangka panjang dan gangguan persendian yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka ketidakhadiran pada kelompok usia lebih tua. ONS mencatat tingkat ketidakhadiran karena sakit pada 2025 sebesar 1,3% untuk pekerja usia 16-24 tahun, sementara pada kelompok usia 65 tahun ke atas mencapai 3,3%.

Karena itu, perbedaan angka cuti sakit antarusia tidak bisa dijelaskan hanya dari sikap pekerja terhadap pekerjaan.

Rasa Bersalah Bisa Membuat Pekerja Tetap Bekerja

Selain keamanan pekerjaan, faktor psikologis dan budaya kantor juga berpengaruh.

BBC melaporkan sebagian pekerja merasa bersalah ketika harus mengambil cuti sakit, terutama ketika ketidakhadiran mereka berpotensi menambah beban rekan kerja. Pekerja yang masih berada di awal karier juga dapat khawatir dianggap malas atau memberikan kesan buruk kepada atasan.

Kondisi seperti ini berkaitan dengan istilah presenteeism, yakni situasi ketika seseorang tetap bekerja meskipun sedang sakit.

Fenomena tersebut tidak selalu berarti pekerja datang secara fisik ke kantor. Dalam pola kerja jarak jauh, seseorang yang sedang tidak sehat juga bisa tetap masuk secara daring, membuka laptop, mengikuti rapat, atau menyelesaikan pekerjaan dari rumah.

BBC mengutip perkiraan bahwa sekitar sepertiga hingga separuh pekerja di Inggris pernah bekerja ketika sedang sakit.

Generasi Muda Tidak Sekadar Ingin Terus Bekerja

Menariknya, rendahnya angka cuti sakit tidak berarti pekerja muda mengabaikan kesehatan mental.

Menurut Cooper, generasi muda justru memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap cara perusahaan memperlakukan pekerja dan memperhatikan kesejahteraan mereka.

Ia menilai pekerja muda cenderung melihat kesehatan mental sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan, bukan sesuatu yang harus selalu dipaksakan untuk dilewati.

Dengan demikian, angka cuti sakit yang rendah perlu dibaca secara hati-hati. Data tersebut menunjukkan berapa lama pekerja tidak masuk karena sakit, tetapi tidak otomatis menjelaskan berapa banyak orang yang tetap bekerja ketika kondisi kesehatannya terganggu.

Budaya Perusahaan Ikut Menentukan

Psikolog yang dikutip BBC juga menyoroti pentingnya lingkungan kerja. Ketika sebuah tim kekurangan tenaga atau tidak memiliki pekerja pengganti, karyawan dapat merasa ketidakhadiran mereka akan menyulitkan rekan kerja.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang terbuka mengenai kesehatan memungkinkan karyawan menyampaikan kondisinya tanpa takut dicap malas atau tidak memiliki komitmen.

Bagi perusahaan, persoalannya bukan sekadar menekan angka ketidakhadiran. Manajemen juga perlu memperhatikan apakah pekerja datang atau tetap bekerja ketika sebenarnya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Sebab, angka kehadiran yang tinggi tidak selalu berarti kondisi tenaga kerja baik. Di balik rendahnya cuti sakit bisa terdapat tekanan pekerjaan, rasa takut kehilangan penghasilan, kekhawatiran terhadap karier, atau budaya kerja yang membuat karyawan enggan beristirahat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *