Empat pemain Timnas Putri Indonesia, (kiri ke kanan tanpa jersey), Keysa Arabela Manisya, Asyifa Sholawa Farizqi, Alliya Khairun Nissa, dan Ayla Khala Ahisma berbagi kebahagiaan bersama para atlet muda KU 12 MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta Seri 1 2026–2027 di Stadion Tridadi, Sleman, Yogyakarta, Kamis (17/9/2026). Kehadiran keempat alumni MilkLife Soccer Challenge itu menjadi inspirasi dan motivasi bagi atlet muda untuk terus berlatih serta mengejar mimpi.
PortalRakyat, SLEMAN— Sebelas gol menjadi catatan pemain SDN Baturetno, Khayla Labiba Nasjmi, dalam MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2026–2027. Di balik produktivitas tersebut, tersimpan mimpi sederhana yang ingin diwujudkannya: mengenakan seragam Timnas Wanita Indonesia.
Khayla merupakan salah satu pemain yang tampil dalam MLSC Yogyakarta yang berlangsung pada 15–20 September 2026 di Stadion Tridadi dan Lapangan Bola Sidomoyo, Sleman.
Siswi kelas 6 SD tersebut mengaku mulai mengenal sepak bola dari lingkungan terdekat. Ia kerap melihat sang ayah bermain bola dan kemudian ikut bermain bersama anak-anak laki-laki di sekitar rumah.
“Saya sudah main bola sejak kelas 4 SD, sekarang saya kelas 6. Awalnya karena sering lihat ayah main bola, terus banyak anak-anak laki yang sering main di dekat rumah, lama-kelamaan jadi ikutan juga,” kata Khayla, Sabtu (19/9/2026)
Menurut Khayla, sepak bola bukan sekadar aktivitas olahraga. Dari lapangan, ia bisa mendapatkan pengalaman sekaligus bertemu banyak teman dan lawan baru.
“Saya merasa main bola itu menyenangkan, bisa ketemu banyak teman dan banyak lawan juga,” ujarnya.
Untuk menghadapi MLSC, Khayla meningkatkan intensitas latihan. Passing, shooting, dan permainan menjadi bagian yang dipersiapkannya sebelum turun dalam pertandingan.
Kerja keras tersebut berbuah 11 gol selama kompetisi. Torehan itu sekaligus menjadi pengalaman penting bagi Khayla untuk terus berkembang sebagai pesepak bola putri usia dini.
“Semoga selanjutnya bisa ikut lagi, supaya bisa lanjut terus, cita-cita saya mau masuk tim nasional,” kata Khayla.
Debutan yang Melaju ke Perempat Final
Cerita menarik lainnya datang dari tim KU 12 SDN Baturetno. Untuk pertama kalinya mengikuti MLSC, tim asuhan Yohanes Sidiq Wijaya mampu melangkah hingga babak perempat final.
Wijaya mengatakan keikutsertaan tahun ini menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan anak didiknya. Persiapan dilakukan melalui seleksi pemain, program latihan, hingga uji coba dengan sekolah yang lebih dulu mengikuti MLSC.
“Saya melihat sepakbola putri semakin semarak, termasuk dengan MilkLife Soccer Challenge. Makanya tahun ini kami beranikan diri untuk ikut dan daftar,” ujar Wijaya.
Ia mengaku puas dengan pencapaian timnya. Namun, menurutnya, hal terpenting adalah para pemain menikmati pertandingan dan mendapatkan pengalaman baru.
Mochi Pantau Langsung
Perkembangan sepak bola putri usia dini di Yogyakarta juga mendapat perhatian Pelatih Timnas Wanita Indonesia, Satoru “Mochi” Mochizuki. Ia memantau langsung MLSC Yogyakarta di Stadion Tridadi, Sabtu (19/9).
Mochi menilai kompetisi usia dini dapat membantu membangun ekosistem sepak bola putri yang lebih kuat.
“Turnamen seperti ini bisa membentuk ekosistem sepakbola putri yang bagus karena ada penyelenggara, ada pemain, dan ada suporter juga,” kata Mochi.
Menurutnya, hasil pembinaan tersebut baru dapat terlihat dalam beberapa tahun mendatang.
“Kita tinggal melihat 5 sampai 10 tahun ke depan, ada hasil (bakat) yang bisa dipetik. Bahkan mungkin bisa berpartisipasi di Piala Dunia,” ujarnya.
MLSC Yogyakarta Seri 1 2026–2027 diikuti 1.294 atlet dari 76 SD dan MI, terdiri dari 40 tim KU 10 dan 83 tim KU 12.
Turnamen yang merupakan inisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife tersebut menjadi bagian dari MLSC Seri 1 2026–2027 yang digelar di 15 kota di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
