Karhutla Gunung Lawu Meluas, 100 Hektare Terbakar

Karhutla Gunung Lawu Meluas, 100 Hektare Terbakar

Karhutla Gunung Lawu meluas hingga sekitar 100 hektare. Sebanyak 11 titik api terdeteksi dan 304 personel gabungan dikerahkan untuk pemadaman. /Espos.

PortalRakyat, KARANGANYAR—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, tepatnya di Gondosuli, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, meluas hingga diperkirakan mencapai 100 hektare pada Sabtu (17/10/2026). Pemantauan menggunakan drone termal mendeteksi sekitar 11 titik api, sementara petugas mengantisipasi pergerakan kobaran menuju kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan luas lahan yang terbakar meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Jumat (16/10/2026), area yang terbakar diperkirakan mencapai 34,55 hektare.

“Untuk perkembangan kebakaran Lawu sampai dengan Sabtu, titik api bertambah. Pantauan lewat drone thermal ada sekitar 11 titik api,” kata Sugiharjo saat memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan kebakaran Gunung Lawu di Posko Induk Penanganan Karhutla Lawu di Gondosuli, Tawangmangu.

Sugiharjo menegaskan luas kebakaran sekitar 100 hektare tersebut masih merupakan perkiraan berdasarkan pemantauan dan perkembangan penanganan di lapangan.

Angin Kencang dan Medan Terjal Hambat Pemadaman

Upaya pemadaman karhutla Gunung Lawu menghadapi kendala berupa kondisi kawasan yang kering selama musim kemarau serta embusan angin kencang. Kedua faktor tersebut menyulitkan petugas mengendalikan kobaran api agar tidak merambat ke kawasan hutan lainnya.

Petugas juga mengantisipasi pergerakan api menuju kawasan Tahura. Berdasarkan pemetaan, arah angin dikhawatirkan mendorong kobaran ke kawasan tersebut sehingga diperlukan penyekatan di sejumlah titik.

Sugiharjo menjelaskan pemadaman hingga Sabtu masih mengandalkan metode manual menggunakan ilaran. Petugas belum dapat memanfaatkan air secara optimal karena akses menuju lokasi kebakaran di lereng gunung terbatas.

“Lokasi proses pemadaman itu di lereng-lereng. Untuk mencapainya juga perlu kehati-hatian. Kami mengutamakan keselamatan dan sementara pemadaman masih manual karena air tidak bisa naik,” ujarnya.

Untuk mengendalikan api, petugas menggunakan sejumlah peralatan sederhana, seperti alat pemukul api atau gepyok, parit, dan perlengkapan manual lainnya. Peralatan tersebut digunakan untuk memadamkan kobaran sekaligus membuat sekat agar api tidak merambat ke area yang lebih luas.

Sekat Api Dibuat hingga Jalur Pendakian

Petugas berupaya memperluas penyekatan api hingga jalur pendakian Gunung Lawu. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran kebakaran ke kawasan lain, terutama karena arah pergerakan api dapat berubah mengikuti kondisi angin.

“Kami upayakan penyekatan sampai jalur pendakian. Kalau sampai jalur pendakian, nanti bisa menyebar ke mana-mana. Kami upayakan sampai bawahnya dulu,” katanya.

Sugiharjo menambahkan upaya pemadaman masih menghadapi keterbatasan sarana. Penanganan kebakaran belum didukung metode yang lebih efektif, seperti pengeboman air dari udara atau water bombing.

Sebanyak 304 Personel Gabungan Dikerahkan

BPBD Karanganyar mengerahkan sekitar 304 personel gabungan untuk menangani kebakaran Gunung Lawu. Personel tersebut berasal dari TNI, Polri, relawan, Basarnas, serta instansi terkait lainnya.

Penanganan dibagi menjadi dua posko pemadaman, yakni di Cemoro Kandang dan jalur pendakian Tambak, Kecamatan Ngargoyoso. Pembagian lokasi tersebut dilakukan berdasarkan pemetaan arah pergerakan api yang dikhawatirkan mengarah ke kawasan Tahura akibat angin kencang.

“Karena hasil pemetaan kemarin, arah api dengan adanya angin kencang mengarah ke Tahura. Jadi, kami membagi dua posko untuk pemadaman, yaitu di Cemoro Kandang dan juga di Tambak,” jelasnya.

Posko Cemoro Kandang menjadi salah satu titik utama pengerahan personel. Sementara itu, posko di jalur pendakian Tambak mendukung penanganan kebakaran dari arah berbeda.

Adapun Posko Induk Penanganan Karhutla Lawu berfungsi sebagai pusat koordinasi dan penerimaan informasi mengenai perkembangan api serta kebutuhan petugas di lapangan.

Penyebab Kebakaran Gunung Lawu Belum Diketahui

Terkait penyebab kebakaran, Sugiharjo mengatakan dugaan sementara mengarah pada terbakarnya serasah atau tumpukan daun kering di kawasan hutan.

Meski demikian, penyebab pasti karhutla Gunung Lawu hingga Sabtu (17/10/2026) belum diketahui. Petugas masih berupaya mengendalikan kebakaran di tengah kondisi medan yang sulit, cuaca kering, dan angin kencang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *