Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) menyampaikan materi saat bedah buku bertema Mendidik, Melatih, dan Menggembleng Anak Agar Mempunyai Otak Cerdas dan Genius di Sembung, Balecatur, Gamping, Sleman Rabu (14/10). Kegiatan ini dihelat Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY./ Harian Jogja – Catur Dwi Janati
SLEMAN—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertema Mendidik, Melatih, dan Menggembleng Anak Agar Mempunyai Otak Cerdas dan Genius di Sembung, Balecatur, Gamping, Sleman, Rabu (14/10). Kegiatan ini menyoroti pentingnya pola tidur, kebebasan bereksplorasi, dan gizi seimbang sebagai fondasi kecerdasan anak yang kerap terabaikan oleh orang tua.
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menjelaskan bedah buku tersebut bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui pembahasan berbagai topik yang ringan, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut Anton, tema tersebut dapat menjadi bahan diskusi bagi orang tua untuk merumuskan pola pendidikan anak yang tepat.
“Jadi, harapannya ini menjadi bahan diskusi dan ketertarikan untuk ibu-ibu ketika mereka membaca, mempraktikkan, dan bahkan mungkin bisa menjadi penulis,” tuturnya.
Di era digital, Anton menilai pola pendidikan anak semakin penting untuk membentengi mereka dari derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi. Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dan paling kuat dalam mendampingi anak menghadapi tantangan era digital.
“Karena sekarang di era digitalisasi ini, semua informasi mengalir deras tanpa ada bentengnya. Benteng yang paling kuat itu adalah keluarga. Keluarga ini perlu kita dorong, kita berikan masukan, berbagi pengalaman, dan juga sesama tetangga supaya gotong royong untuk sama-sama membikin lingkungan itu ramah anak,” kata dia.
Redaktur buku, Putri Nirmala Valentina Laoli, menuturkan buku yang dibedah membahas berbagai aspek untuk mempersiapkan fondasi akademik anak. Menurutnya, perkembangan akademik tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak anak berada dalam kandungan hingga memasuki usia sekolah.
“Kita tahu anak itu enggak tiba-tiba langsung masuk SD. Ada proses sejak dia dalam kandungan, kemudian saat usia toddler, sampai akhirnya menuju SD,” terang Putri.
Selama proses tersebut, terdapat sejumlah tahapan yang terkadang luput dari perhatian orang dewasa, padahal dapat memengaruhi perkembangan akademik anak. Salah satunya adalah eksplorasi sensorik dan motorik sebelum anak memasuki usia sekolah.
Putri mencontohkan, pengenalan tekstur ketika anak bermain di atas rumput dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan sensorik dan motoriknya. Namun, sebagian orang dewasa justru melarang anak bermain karena khawatir mereka kotor.
Narasumber lainnya, Dara Ayu Suharto, mengungkapkan ada empat fondasi yang dapat diperkuat untuk membangun kecerdasan anak. Keempatnya meliputi pemberian asupan yang tepat bagi otak, melatih anak berpikir alih-alih sekadar menghafal, membangun mental anak, serta menghadirkan lingkungan yang mendorong kebiasaan menuntut ilmu.
“Caranya gimana biar anak cerdas itu, otak diberi makan yang benar dengan tidur yang cukup,” tuturnya.
Dara mengingatkan bahwa tidur yang cukup berperan penting dalam perkembangan otak anak. Menurutnya, otak memperkuat memori saat tidur, bukan hanya ketika anak belajar.
Selain tidur yang cukup, asupan nutrisi juga menjadi aspek penting dalam perkembangan anak. Orang tua perlu memberikan makanan bergizi, seperti protein, telur, ikan, dan sayuran hijau, serta memastikan anak cukup minum air putih. Dara juga menekankan pentingnya membatasi konsumsi gula berlebih.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas fisik. Dara meminta orang tua memastikan anak tetap aktif bergerak karena perkembangan otak yang optimal juga perlu didukung kegiatan fisik.
“Jadi, biarkan anak itu bermain dengan temannya di kampung. Jangan sampai anak itu dikunci di rumah. Biarkan anak itu berkembang dengan teman-temannya di lingkungan. Ya bersepeda, lari-lari sama temannya, tapi dengan catatan juga perlu waktu dan pengawasan,” tegasnya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Mohammad Hadi Pranoto, menerangkan DPAD DIY menargetkan kegiatan bedah buku berlangsung di 200 titik sepanjang 2026. Hingga pertengahan Oktober, kegiatan tersebut telah menjangkau 173 titik.
“Kami masih punya PR yang harus kita tuntaskan terkait minat baca, daya baca, dan skill membaca,” ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
