UMKM Didorong Perkuat Pemasaran Digital dan Manajemen Usaha

UMKM Didorong Perkuat Pemasaran Digital dan Manajemen Usaha

Peserta bedah buku sedang menyimak penjelasan mengenai pentingnya pemahaman literasi digital terhadap pemasaran produk UMKM di edOTEL, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, Rabu (14/10/2026).

JOGJA—Eko Suwanto menginstruksikan puluhan peserta yang berkumpul di Edotel Kenari untuk membuka fitur Meta AI pada aplikasi WhatsApp. Dia kemudian meminta peserta memasukkan prompt, “Siapa saya [nama sendiri].”

“Dunia telah berubah,” kata Eko, Rabu (14/10).

Eko memberikan contoh tersebut saat bedah buku Pedoman Praktis Usaha Mikro dan Kecil di Era Milenial. Dia menjelaskan bagaimana digitalisasi mengubah cara masyarakat mencari informasi, membeli produk, dan menentukan pilihan konsumsi. Kondisi ini menuntut pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyesuaikan strategi pemasaran agar mampu bersaing.

Dia mencontohkan perubahan kebiasaan konsumen dalam membeli makanan. Jika sebelumnya pembelian dilakukan dengan mendatangi warung, kini konsumen dapat memesan melalui telepon seluler dan layanan digital. Perubahan tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran melalui platform daring.

Menurut Eko, strategi pemasaran perlu memperhatikan merek, kemasan, dan pengalaman konsumen. Persaingan usaha tidak lagi hanya bertumpu pada kualitas produk dan jasa, tetapi juga pada citra serta nilai yang ditawarkan kepada konsumen.

Masyarakat kini terbiasa mengabadikan berbagai momen melalui foto atau video, kemudian membagikannya di media sosial. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik visual turut memengaruhi pilihan konsumen.

“Pastikan produk yang panjenengan buat itu menyenangkan dipotret, menyenangkan dibuat video,” kata Eko.

Karena itu, pelaku UMKM perlu memperkuat pemasaran digital dengan menyesuaikan strategi bisnis terhadap perubahan perilaku konsumen. Selain memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar, pelaku usaha perlu menjaga kualitas produk, membangun merek, serta menerapkan manajemen keuangan dan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

Tampilan produk juga perlu disesuaikan dengan karakteristik platform digital, termasuk TikTok dan Instagram. Merek dan kemasan yang menarik dapat membangun persepsi kualitas, kebanggaan, serta keterikatan emosional konsumen terhadap produk.

Sementara itu, perwakilan Penerbit Diandra Kreatif, Dyah Permatasari, menjelaskan buku tersebut membahas persoalan mendasar yang kerap dihadapi pelaku usaha, terutama pencampuran keuangan bisnis dengan uang pribadi atau keluarga.

Persoalan serupa muncul ketika pemilik mencampurkan keuangan dari beberapa jenis usaha.

“Jika keuangan kedua usaha tersebut bercampur, pemilik akan kesulitan mengetahui usaha mana yang lebih maju dan menguntungkan,” kata Dyah.

Menurut Dyah, pemisahan keuangan membantu pelaku usaha mengevaluasi kinerja setiap bisnis secara terukur. Buku tersebut juga memuat contoh pemisahan keuangan dan penyusunan laporan keuangan dasar.

Selain pengelolaan keuangan, dia menekankan pentingnya diferensiasi dan kualitas produk di tengah persaingan. Buku tersebut menyasar tiga kelompok pembaca, yakni mahasiswa atau individu yang mempelajari teori manajemen, pelaku usaha yang ingin memperbaiki tata kelola bisnis, serta orang yang baru akan memulai usaha.

Di sisi lain, praktisi Abdul Kholik menekankan pentingnya memahami ilmu dasar bisnis untuk menghadapi persaingan. Menurutnya, prinsip pemasaran, produksi, dan keuangan tidak banyak berubah, sedangkan metode penerapannya berkembang mengikuti kemajuan teknologi.

“Tidak ada yang benar-benar baru dalam ilmu pemasaran, produksi, maupun keuangan. Yang berubah-ubah adalah implementasinya,” kata Abdul.

Dia mencontohkan pemasaran yang dahulu mengandalkan koran, radio, dan selebaran, tetapi kini dapat dilakukan melalui toko digital. Perubahan juga terjadi dalam pencatatan keuangan, dari metode manual menjadi penggunaan perangkat lunak, aplikasi, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi tersebut dapat membantu pelaku usaha membaca laporan keuangan, memantau stok barang, menghitung omzet, dan mengetahui biaya operasional dengan lebih cepat.

Karena itu, Abdul mendorong pelaku usaha tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga terus mempelajari dan menerapkan ilmu bisnis sesuai perkembangan zaman.

Dari sisi literasi, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, menekankan pentingnya kemampuan memahami isi bacaan. Menurutnya, peningkatan budaya membaca perlu diikuti dengan penerapan informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

“Buta huruf fungsional itu kondisi ketika seseorang sudah bisa membaca, tetapi tidak bisa memahami isi bacaan,” kata Zulfa.

Melalui kegiatan tersebut, DPAD DIY mendorong masyarakat menjadikan membaca sebagai sarana memperoleh pengetahuan yang bermanfaat, termasuk untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *