Kompleks Makam Kota Gede di Kampung Wisata Purbayan. (Instagram/@kamwispurbayan)
PortalRakyat, JOGJA—Pengembangan pariwisata Kota Jogja didorong agar tidak terus terkonsentrasi di kawasan Keraton, Malioboro, dan Sumbu Filosofi. DPRD Kota Jogja menginginkan potensi wisata di wilayah selatan ikut diperkuat sehingga manfaat ekonomi sektor pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ketua Pansus Raperda Rippar DPRD Kota Jogja Krisnadi Setyawan mengatakan rencana induk kepariwisataan perlu menjadi pedoman dalam pengembangan destinasi. Kebijakan tersebut sekaligus diharapkan mampu memastikan pembangunan sektor pariwisata memberikan manfaat yang lebih merata.
“Pansus mendorong percepatan perumusan kebijakan kawasan strategis pariwisata kota agar menjadi pedoman pengembangan destinasi, infrastruktur, industri, dan pemasaran pariwisata jangka panjang,” ujarnya, Rabu (10/7/2026).
Kampung Wisata Selatan Perlu Diperkuat
Menurut Krisnadi, kampung wisata di wilayah selatan Kota Jogja memiliki berbagai potensi yang masih dapat dikembangkan. Pemerintah dinilai perlu memberikan dukungan agar potensi berbasis budaya, sejarah, kuliner, dan kreativitas warga tersebut mampu menjadi bagian dari pengembangan pariwisata kota.
Pengembangan kampung wisata, lanjut dia, tidak cukup hanya dengan mengandalkan keberadaan destinasi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan pengelola, penyediaan fasilitas pendukung, hingga promosi yang terintegrasi juga diperlukan.
Pansus juga mendorong kampung wisata agar mampu menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas. Penataan usaha homestay serta kemitraan antara agen perjalanan dengan toko oleh-oleh lokal menjadi salah satu skema yang dapat dikembangkan.
Melalui pola tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya mengunjungi destinasi utama. Pergerakan wisatawan juga dapat diarahkan ke kawasan lain sehingga belanja wisata ikut mengalir ke berbagai usaha milik masyarakat setempat.
Malioboro dan Sumbu Filosofi Tetap Jadi Perhatian
Di sisi lain, DPRD Kota Jogja tetap menyoroti penataan kawasan Keraton, Malioboro, dan Sumbu Filosofi sebagai kawasan strategis pariwisata. Penataan kawasan tersebut dinilai harus menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya, aktivitas ekonomi, serta kenyamanan masyarakat dan wisatawan.
Krisnadi mengatakan setiap kebijakan penataan, termasuk pembatasan akses maupun aktivitas usaha, perlu memperhitungkan dampak sosial dan ekonomi terhadap masyarakat.
Pedagang serta pelaku usaha lokal, menurut dia, harus mendapatkan solusi agar kebijakan pelestarian budaya tidak justru menghilangkan sumber penghidupan mereka.
Transportasi Wisata Juga Dibenahi
Aspek transportasi menjadi bagian lain yang dinilai penting dalam pengembangan pariwisata Kota Jogja. DPRD mendorong pembenahan tata kelola parkir, pengaturan kendaraan wisata, penanganan titik kemacetan, serta peningkatan konektivitas antardestinasi.
Moda transportasi penunjang seperti becak juga dinilai perlu diintegrasikan ke dalam sistem mobilitas wisata yang lebih tertib dan aman.
Selain itu, kejelasan pengelolaan aset dan koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) diperlukan untuk mencegah munculnya persoalan dalam penerapan kebijakan di lapangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
