Adi Prayitno menilai PPP punya modal politik dari elektabilitas 3,4 persen untuk memperkuat mesin partai menuju Pemilu 2029. /Istimewa.
PortalRakyat, SLEMAN— Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih memiliki modal politik untuk melakukan rebound sekaligus meningkatkan elektabilitas menghadapi Pemilu 2029.
Hal tersebut disampaikan Adi dalam sesi sharing P3MUDA bertajuk “Membangun Pemuda Menuju Demokrasi Pemilu 2029” di Garden Hall Loman Park, Sleman, Jumat malam (25/9/2026).
Menurut Adi, salah satu modal penting yang dimiliki PPP adalah keberadaan basis pemilih yang loyal. Dia merujuk pada survei yang dilakukannya pada Agustus 2026 yang menunjukkan elektabilitas PPP berada di angka 3,4 persen.
Adi menilai angka tersebut dapat menjadi pijakan awal bagi PPP untuk memperkuat politik partai dalam tiga tahun menjelang Pemilu 2029.
“PPP sudah memiliki modal sosial, modal kapital, dan strong voters 3,4 persen. Kalau ditambah kerja politik yang akurat saya kira elektabilitas PPP sangat mudah ditingkatkan,” ujar Adi.
Dia menjelaskan peluang PPP untuk meningkatkan dukungan akan bergantung pada kemampuan partai memperkuat mesin politik hingga tingkat struktur. Selain itu, PPP dinilai perlu menghadirkan calon anggota legislatif yang memiliki kompetensi sekaligus daya tarik elektoral.
“Kalau dalam kurun waktu tiga tahun PPP melipatgandakan mesin politiknya, mencari caleg yang kompeten dan bisa meningkatkan elektabilitas partai, bukan tidak mungkin PPP melampaui 4 persen, tetapi bisa 5 atau 6 persen,” katanya.
PPP Diminta Bangun Diferensiasi Politik
Selain memperkuat mesin politik, Adi mendorong PPP membangun diferensiasi politik atau novelty agar memiliki identitas dan daya tarik tersendiri di tengah persaingan politik menuju 2029.
Menurut dia, identitas PPP sebagai partai Islam tetap menjadi bagian penting dari karakter politik partai. Namun, identitas tersebut perlu diterjemahkan dengan pendekatan yang relevan terhadap perkembangan zaman, terutama untuk menjawab kebutuhan dan kegelisahan generasi muda.
“PPP harus mampu menggunakan bahasa dan model komunikasi yang dapat dipahami kalangan Gen Z,” ujar Adi.
Keberadaan kader-kader muda, menurut Adi, dapat menjadi bagian dari upaya PPP membangun komunikasi politik yang lebih relevan dengan kelompok pemilih muda.
Dengan waktu sekitar tiga tahun menuju Pemilu 2029, PPP dinilai masih memiliki ruang untuk mengoptimalkan modal politik yang telah dimiliki.
Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui konsolidasi organisasi, penguatan mesin partai, pencarian caleg yang kompeten, serta strategi komunikasi yang mampu menjangkau generasi baru pemilih.
“Kalau dilipatgandakan, saya rasa [modal PPP] sangat bisa diandalkan,” tambahnya.
141 Anggota DPRD PPP Berusia di Bawah 35 Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum DPP PPP Imam Fauzan mengatakan penguatan generasi muda menjadi bagian dari strategi PPP menghadapi Pemilu 2029.
Dia menyebut terdapat 141 anggota DPRD PPP dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi di seluruh Indonesia yang berusia 35 tahun ke bawah dan hadir dalam agenda P3MUDA tersebut.
Para kader muda PPP tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan partai kepada generasi muda secara lebih luas. “Kami semua berkomitmen akan menggaet anak muda lainnya, tujuan dan cita-cita kami satu, 2029 PPP harus kembali ke Senayan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
