Ilustrasi Mercedes Benz./Bisnis Indonesia-Dwi Prasetya
PortalRakyat, JOGJA— Mercedes-Benz memperingatkan kemungkinan penutupan dua pabrik di Jerman jika perusahaan dan pekerja gagal mencapai kesepakatan untuk menekan biaya produksi.
Ancaman tersebut disampaikan Kepala Produksi Mercedes-Benz Michael Schiebe dalam pertemuan pekerja di pabrik Sindelfingen, Jerman, pada Senin (21/9/2026). Pabrik tersebut telah beroperasi selama 111 tahun.
Mercedes-Benz menilai produksi di Jerman saat ini tidak kompetitif dibandingkan standar internasional, salah satunya karena tingginya biaya tenaga kerja.
Meski demikian, perusahaan menegaskan masih ingin mempertahankan seluruh fasilitas produksi dan lapangan kerja di Jerman. Mercedes menyebut peningkatan produktivitas diperlukan agar tujuan tersebut dapat tercapai.
Dua pabrik terancam ditutup
Schiebe mengatakan perusahaan perlu mencapai kesepakatan bersama mengenai langkah-langkah penghematan biaya.
Jika upaya tersebut gagal, Mercedes-Benz menyatakan harus menutup satu pabrik perakitan kendaraan dan satu pabrik powertrain di Jerman.
“Tujuan kami yang jelas adalah mempertahankan seluruh lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe, berdasarkan pernyataan yang dibagikan Mercedes-Benz.
Namun, dia menegaskan bahwa target tersebut membutuhkan komitmen terhadap langkah-langkah efisiensi biaya.
“Jika kami tidak mampu melakukan hal ini, kami terpaksa harus menutup satu pabrik perakitan dan satu pabrik powertrain di Jerman,” ujarnya.
Mercedes-Benz belum menyebutkan pabrik mana yang dimaksud. Dengan demikian, belum ada keputusan bahwa fasilitas tertentu akan benar-benar ditutup.
Di Jerman, Mercedes-Benz memiliki tiga fasilitas utama perakitan kendaraan, yakni Sindelfingen, Bremen, dan Rastatt. Sementara fasilitas powertrain perusahaan tersebar di sejumlah lokasi, termasuk Untertürkheim, Berlin, Hamburg, dan Affalterbach.
Dewan pekerja menolak ancaman penutupan
Pernyataan manajemen tersebut langsung mendapat penolakan dari dewan pekerja Mercedes-Benz.
Perwakilan dewan pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan merupakan cara untuk membangun masa depan perusahaan.
Mereka menyatakan akan memberikan perlawanan jika manajemen menggunakan ancaman penutupan pabrik untuk mendorong pekerja menerima konsesi.
“Siapa pun yang menggunakan ancaman semacam itu harus bersiap menghadapi perlawanan keras dari kami,” ujar juru bicara dewan pekerja, seperti diberitakan Reuters.
Terjadi saat industri otomotif Jerman tertekan
Peringatan Mercedes-Benz muncul ketika industri otomotif Jerman menghadapi tekanan besar. Pada saat yang sama, serikat pekerja IG Metall menggelar aksi nasional menentang rencana pemutusan hubungan kerja dan pengurangan biaya di sektor otomotif.
Puluhan ribu pekerja industri otomotif mengikuti aksi tersebut. Sekitar 20.000 pekerja Mercedes-Benz sendiri dilaporkan mengikuti aksi di Sindelfingen pada 21 September.
Tekanan terhadap produsen mobil Jerman datang dari berbagai arah. Perusahaan menghadapi persaingan dengan produsen China yang memiliki struktur biaya lebih rendah, sementara tarif Amerika Serikat turut menambah beban industri.
Mercedes-Benz sebelumnya juga telah mendorong peningkatan produktivitas di fasilitas produksinya di Jerman. Perusahaan menghadapi kebutuhan untuk menekan biaya sekaligus mempertahankan basis manufaktur domestik.
Untuk saat ini, ancaman penutupan dua fasilitas tersebut masih bersifat kondisional. Mercedes-Benz belum menunjuk pabrik yang akan ditutup maupun menetapkan jadwal penutupan. Fokus perusahaan adalah mencapai kesepakatan penghematan biaya agar seluruh lokasi produksinya di Jerman tetap beroperasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
