Ilustrasi Keracunan – Freepik
PortalRakyat, KULONPROGO—Puluhan siswa di dua sekolah wilayah Kapanewon Temon, Kabupaten Kulonprogo, mengeluhkan gejala mual, pusing, hingga muntah usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (16/9/2026). Peristiwa yang mendadak ini langsung direspon oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo dengan menerjunkan tim investigasi ke lokasi kejadian.
Dugaan kasus keracunan makanan ini teridentifikasi terjadi di MTs Ma’arif Jangkaran serta SMP Muhammadiyah Temon. Petugas telah mengambil sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok hidangan MBG ke kedua sekolah tersebut untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium.
Laporan Kejadian di MTs Ma’arif Jangkaran dan SMP Muhammadiyah Temon
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, mengungkapkan rincian kasus berdasarkan laporan sementara di MTs Ma’arif Jangkaran. Di sekolah tersebut, menu MBG yang dibagikan meliputi ayam goreng, tahu kentaki, serta oseng sayur labu siam dengan irisan bakso.
Pasokan makanan sebanyak 115 porsi tiba di sekolah sekitar pukul 08.25 WIB, lalu mulai dibagikan kepada para murid pada pukul 09.30 WIB. Tercatat ada 58 siswa yang mengonsumsi hidangan MBG tersebut, dan 29 anak di antaranya dilaporkan mengalami gejala sakit.
“Dari 29 siswa yang sakit di MTs Ma’arif Jangkaran, sebanyak 7 anak mengalami muntah. Dua siswa di antaranya sempat memeriksakan diri ke Puskesmas Temon II karena mengalami gejala perut melilit, mual, muntah, dan pusing,” ujar Susilaningsih kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).
Kepala MTs Ma’arif Jangkaran, Muhammad Nizar, membenarkan adanya keluhan dari anak didiknya. Nizar mengaku dirinya juga menyantap hidangan itu dan awalnya tidak menemukan kejanggalan sampai makanan habis, namun beberapa siswa menyebut ada bagian hidangan yang kondisinya tak wajar.
“Beberapa siswa masih ada yang mengalami gejala hari ini sehingga izin tidak dapat masuk sekolah,” jelasnya.
Berdasarkan penuturan dari para siswa, terdapat menu ayam goreng, sayur labu siam dan bakso yang disebut dalam kondisi berlendir.
Sementara itu, kasus serupa turut menimpa murid di SMP Muhammadiyah Temon. Hasil investigasi tim Puskesmas Temon 1 mencatat ada 12 siswa yang mengalami gejala mual dan pusing, dengan empat siswa di antaranya mengalami muntah.
Seluruh murid SMP Muhammadiyah Temon yang bergejala langsung diberikan penanganan medis di sekolah oleh tim puskesmas saat kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE) berlangsung. Berkat penanganan cepat di lokasi, tidak ada siswa dari sekolah tersebut yang perlu dirujuk ke puskesmas maupun rumah sakit.
Dinkes Kulonprogo Lakukan Uji Laboratorium dan Imbauan HACCP
Susilaningsih memastikan proses penanganan medis serta investigasi lanjutan masih terus berjalan hingga saat ini. Pihaknya mengonfirmasi belum ada penambahan jumlah siswa yang mengalami sakit sampai Kamis (17/9/2026).
“Sampel makanan dari SPPG sudah diambil dan dikirimkan ke laboratorium. Hingga saat ini proses investigasi masih berjalan dan tidak ada penambahan jumlah siswa yang sakit,” jelasnya. Hasil pengujian laboratorium nantinya akan dipakai untuk memastikan penyebab pasti dari munculnya gejala pada belasan hingga puluhan anak sekolah itu.
Atas kejadian ini, Susilaningsih menegaskan agar seluruh penyedia makanan menjalankan standar keselamatan pangan secara ketat. Seluruh pihak SPPG yang terlibat penyediaan MBG diimbau selalu memperhatikan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dan menerapkan Prosedur Operasional Standar (SOP) secara disiplin.
“Langkah ini sangat krusial demi menjamin keamanan pangan serta mencegah munculnya kejadian serupa di kemudian hari,” tegas Susilaningsih.
Kronologi Dugaan Keracunan Massal Program MBG di Kulonprogo
Rabu (16/9/2026)
08.25 WIB: Pihak SPPG mendistribusikan 115 porsi santapan Makan Bergizi Gratis (MBG) ke MTs Ma’arif Jangkaran. Menu terbagi atas ayam goreng, tahu kentaki, serta tumis labu siam beririsan bakso.
09.30 WIB: Pihak sekolah membagikan hidangan tersebut kepada para murid. Total 58 anak mengonsumsinya. Kepala sekolah, Muhammad Nizar, turut memakan sajian tersebut tanpa merasakan keanehan awal hingga porsi habis.
Pasca-Konsumsi: Gejala mulai muncul pada murid. Sejumlah siswa melaporkan menu ayam goreng, tumis labu siam, dan bakso terasa berlendir.
Dampak di MTs Ma’arif Jangkaran: Sebanyak 29 anak mendadak mual, pusing, dan menderita sakit perut. 7 murid di antaranya muntah-muntah, sementara 2 anak harus berobat ke Puskesmas Temon II karena perut melilit hebat.
Dampak di SMP Muhammadiyah Temon: Insiden serupa melanda 12 siswa dengan keluhan mual serta pusing. 4 anak di antaranya mengalami muntah-muntah.
Kamis (17/9/2026)
Penanganan Medis Fleksibel: Tim Puskesmas Temon 1 menggelar Penyelidikan Epidemiologi (PE) langsung di SMP Muhammadiyah Temon untuk merawat seluruh murid terdaftar. Tak ada siswa yang perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
Kondisi Absensi Sekolah: Beberapa siswa MTs Ma’arif Jangkaran terpaksa absen akibat dampak fisik yang masih tersisa.
Langkah Investigasi Dinkes Kulonprogo: Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, mengonfirmasi pencarian penyebab keracunan sedang berlangsung. Sampel hidangan dari SPPG pensuplai kedua sekolah telah dikirimkan ke laboratorium.
Evaluasi Pangan: Dinkes mengimbau seluruh SPPG penyedia MBG untuk memperketat standar keselamatan pangan melalui skema Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) serta kepatuhan penuh terhadap SOP guna mencegah keparahan berulang.
Status Terakhir: Tidak ada penambahan korban maupun jumlah siswa sakit. Hasil uji laboratorium masih ditunggu untuk mengunci penyebab pasti peristiwa ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
