BYD Dolphin. – Harian Jogja/Antara
PortalRakyat, JOGJA— BYD Malaysia menunjuk Inokom Corporation, anak usaha Sime Motors, sebagai mitra perakitan kendaraan listrik secara completely knocked down (CKD). Langkah ini berbeda dengan strategi BYD di Indonesia yang telah meresmikan fasilitas produksinya sendiri di Subang, Jawa Barat.
Penunjukan Inokom diumumkan BYD Malaysia pada Kamis (15/10/2026), setelah kedua pihak menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di kantor pusat global BYD di Shenzhen, China. Inokom yang berbasis di Kulim, Kedah, memiliki pengalaman merakit kendaraan untuk sejumlah produsen otomotif global.
Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, menyebut perakitan lokal sebagai bagian penting dari komitmen jangka panjang perusahaan di Malaysia. Kerja sama dengan Inokom dinilai memungkinkan BYD memanfaatkan fasilitas dan kemampuan manufaktur otomotif yang telah tersedia.
“Perakitan lokal adalah bagian penting dari komitmen jangka panjang BYD terhadap Malaysia. Bermitra dengan Sime untuk merakit di Inokom memungkinkan kami membangun di atas kapabilitas manufaktur otomotif yang sudah mapan seiring kami memajukan rencana perakitan lokal,” kata Ma, dikutip dari laporan Just Auto.
Hingga pengumuman tersebut disampaikan, BYD belum mengungkap model yang akan dirakit di fasilitas Inokom maupun jadwal dimulainya produksi.
Aturan Impor EV Malaysia Mendorong Perakitan Lokal
Penunjukan mitra perakitan terjadi setelah Malaysia memperketat ketentuan impor kendaraan listrik yang didatangkan dalam kondisi utuh atau completely built up (CBU).
Mulai 1 Juli 2026, impor EV CBU di Malaysia dikenai ketentuan nilai cost, insurance and freight (CIF) minimal 200.000 ringgit Malaysia serta daya motor sekurang-kurangnya 180 kW. Ketentuan tersebut diberlakukan setelah masa pengecualian khusus impor EV CBU berakhir pada 31 Desember 2025.
Kebijakan itu berpengaruh terhadap model-model EV yang dijual dengan harga lebih terjangkau. Sejumlah produk BYD di Malaysia tidak memenuhi ambang nilai CIF maupun persyaratan daya motor tersebut sehingga strategi perakitan lokal menjadi semakin penting untuk mempertahankan akses ke pasar.
Perakitan CKD memungkinkan kendaraan dirakit di dalam negeri menggunakan komponen yang dikirim dalam bentuk terurai. Strategi ini berbeda dengan impor CBU, ketika kendaraan telah dirakit lengkap di negara asal sebelum dikirim ke pasar tujuan.
Rencana Pabrik BYD di Malaysia Dikesampingkan
Sebelum menunjuk Inokom, BYD dilaporkan pernah merencanakan pembangunan pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak. Namun, rencana tersebut kemudian dikesampingkan dan perusahaan memilih memanfaatkan fasilitas perakitan yang sudah tersedia.
Laporan media otomotif Malaysia menyebut perubahan strategi itu berkaitan dengan perkembangan kebijakan untuk kendaraan listrik impor dan perakitan lokal. Persyaratan yang dikaitkan dengan rencana investasi awal juga menjadi salah satu hal yang dipersoalkan dalam laporan media. Meski demikian, BYD belum memberikan penjelasan resmi secara terperinci mengenai alasan rencana pabrik mandiri tersebut tidak dilanjutkan.
Pemilihan Inokom memungkinkan BYD memanfaatkan tenaga kerja, fasilitas, dan pengalaman perakitan yang telah tersedia. Namun, dampak kerja sama terhadap harga kendaraan, volume produksi, dan komposisi model yang dijual di Malaysia baru dapat dinilai setelah perusahaan mengumumkan rincian operasionalnya.
Dari sisi persaingan, BYD juga menghadapi perkembangan pasar kendaraan listrik Malaysia. Data Departemen Transportasi Jalan Malaysia yang dikutip media otomotif setempat menunjukkan Proton mencatat lebih banyak registrasi mobil listrik dibandingkan BYD pada Januari-September 2026. Angka tersebut perlu dibaca sesuai periode dan kategori kendaraan yang digunakan dalam data sumber.
Indonesia Tempuh Strategi dengan Pabrik Sendiri
Sementara di Indonesia, BYD telah meresmikan fasilitas produksi kendaraan energi baru di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat, pada 3 September 2026.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi BYD setelah sebelumnya mengandalkan kendaraan impor utuh untuk memenuhi permintaan pasar Indonesia. Pabrik Subang dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.
Dengan fasilitas tersebut, BYD dapat memproduksi kendaraan di Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor CBU secara bertahap. Data produksi dan impor yang disampaikan dalam laporan industri menunjukkan aktivitas produksi lokal telah berjalan pada 2026.
Perbedaan strategi di kedua negara memperlihatkan bahwa ekspansi BYD menyesuaikan kondisi pasar dan kebijakan masing-masing. Di Indonesia, perusahaan telah mengoperasikan fasilitas produksinya sendiri. Di Malaysia, BYD memilih menggandeng mitra lokal yang memiliki infrastruktur perakitan.
Meski demikian, belum ada rincian resmi mengenai model BYD yang akan dirakit di Inokom. Perbandingan kapasitas, investasi, dan kontribusi produksi kedua negara baru dapat dilakukan secara menyeluruh setelah data operasional Malaysia diumumkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
