Istimewa Pemkab Kulonprogo – Droping air yang dilakukan Baznas Kulonprogo di SDN Jatiroto belum lama ini untuk penanganan kekeringan
PortalRakyat, KULONPROGO—Krisis air bersih akibat musim kemarau mengganggu aktivitas belajar di SD Negeri Jatiroto, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo. Sejak awal September 2026, para siswa harus membawa air dari rumah untuk memenuhi kebutuhan mencuci tangan, sementara sekolah berupaya mengatasi keterbatasan pasokan air.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah menjalankan Program Ambarawa, singkatan dari Aksi Mandiri Bawa Air. Melalui program ini, siswa diminta membawa satu botol air mineral dari rumah untuk digunakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, termasuk ketika mengikuti kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SD Negeri Jatiroto, Rina Yulianti, mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah menghadapi kekeringan sekaligus mengajarkan kebiasaan menghemat air kepada para siswa.
“Program Ambarawa ini lahir dari kondisi kekeringan sejak awal September. Anak-anak diminta membawa satu botol air mineral dari rumah khusus untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, termasuk saat kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini sekaligus wujud pembelajaran agar anak-anak terbiasa menghemat air di tengah keterbatasan, baik di sekolah maupun di rumah,” jelas Rina kepada wartawan, Minggu (11/10/2026).
Pasokan air menurun sejak awal September
Rina menjelaskan, krisis air bersih di sekolahnya mulai terasa sejak awal September akibat menurunnya debit air dari PAM Padukuhan Wonosari. Pasokan tersebut selama ini menjadi salah satu tumpuan kebutuhan air bagi sekolah dan warga sekitar.
Sebelum mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulonprogo, pihak sekolah bersama wali murid berupaya memenuhi kebutuhan air secara mandiri.
Mereka bergotong royong mengambil air atau ngangsu dari daerah lain menggunakan mobil dan tandon. Sekolah juga pernah menerima satu kali bantuan air dari fraksi partai.
Menurut Rina, sekolah memiliki dua tempat penampungan air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter dan 2.000 liter. Dalam kondisi normal, total kapasitas 7.000 liter tersebut biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kamar mandi selama dua minggu.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Di sekolah kami ada penampungan air kapasitas 5.000 liter dan 2.000 liter. Biasanya kapasitas total itu cukup untuk kebutuhan kamar mandi selama dua minggu. Kami berharap bantuan penyaluran air ini bisa terus berlanjut selama kondisi kekeringan masih berlangsung,” kata Rina.
Pemkab Kulonprogo prioritaskan bantuan untuk sekolah
Bantuan air bersih mulai disalurkan setelah muncul laporan mengenai kesulitan air di SD Negeri Jatiroto. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo kemudian berkoordinasi dengan Baznas Kulonprogo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) untuk menyalurkan bantuan.
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, mengaku prihatin setelah mendengar para siswa harus membawa air sendiri dari rumah untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), berwudu, dan mencuci tangan di sekolah.
“Kita berada di SD Negeri Jatiroto untuk melakukan dropping air bersih merespons laporan warga di Girimulyo. Anak-anak di sini setiap hari harus membawa satu liter botol air dari rumah untuk keperluan sendiri. Kita berharap kekeringan ini tidak mengganggu keperluan anak-anak sekolah, sehingga dropping air bersih untuk sekolah-sekolah ini kita prioritaskan,” ujar Agung.
Agung menegaskan penyaluran air bersih untuk sekolah menjadi salah satu prioritas agar kekeringan tidak menghambat kebutuhan dasar siswa selama kegiatan belajar mengajar.
Bantuan bersumber dari zakat, infak, dan sedekah ASN
Agung menjelaskan bantuan kedaruratan tersebut bersumber dari dana zakat, infak, dan sedekah aparatur sipil negara (ASN) serta pamong se-Kabupaten Kulonprogo yang dikelola Baznas.
Mengingat prediksi musim kemarau masih relatif panjang, ia mengajak masyarakat dan pihak-pihak yang memiliki kelebihan air untuk turut membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Salah satu bentuk partisipasi yang ditawarkan adalah program Infak Jumat Berkah berupa penyaluran air bersih. Menurut Agung, biaya operasional untuk satu tangki air berkisar Rp450.000 hingga Rp500.000, bergantung pada lokasi penyaluran.
“Kami memberikan kesempatan kepada saudara-saudara yang tidak kekurangan air untuk melakukan Infak Jumat Berkah berupa penyaluran air bersih. Biaya operasional satu tangki sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu tergantung lokasi. Mari kita berdoa semoga cuaca segera ramah dan hujan turun untuk membantu masyarakat,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo berharap bantuan air bersih dapat membantu memenuhi kebutuhan sekolah selama musim kemarau. Di SD Negeri Jatiroto, keberlanjutan distribusi air menjadi harapan pihak sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dan siswa tidak terus-menerus bergantung pada air yang dibawa dari rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
