Pemain PSS Sleman berlatih di Lapangan Pakembinangun pada Jumat (25/9/2026)./Harian Jogja — Catur Dwi Janati
PortalRakyat, SLEMAN—Catatan pertahanan PSS Sleman pada tiga pertandingan awal Super League menjadi perhatian Pelatih Kepala PSS Sleman, Pieter Huistra. Tujuh gol telah bersarang ke gawang Super Elja dalam tiga laga, angka yang diakui Huistra terlalu banyak dan harus segera diperbaiki.
PSS Sleman mengawali kompetisi dengan kekalahan dari Bali United. Bermain di Stadion I Wayan Dipta pada pekan pertama Super League, PSS takluk 2-1 setelah kebobolan dua gol.
Memasuki pekan kedua, persoalan di lini pertahanan kembali terlihat. PSS Sleman yang tampil di Stadion Maguwoharjo harus mengakui keunggulan Madura United dengan skor 1-3, sehingga kembali kebobolan tiga gol.
Pada pertandingan ketiga, PSS Sleman kembali gagal meraih kemenangan. Bertanding di Banten International Stadium, Super Elja kalah 2-1 dari Dewa United dan kembali kemasukan dua gol.
Dengan hasil tersebut, total tujuh gol telah bersarang di gawang PSS Sleman dalam tiga pertandingan awal Super League.
Pieter Huistra Tak Salahkan Pemain
Pieter Huistra menilai persoalan pertahanan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemain belakang. Menurut dia, upaya bertahan merupakan tanggung jawab seluruh pemain yang berada di lapangan.
“Ini bukan hanya masalah pertahanan atau para pemain bertahan saja. Bertahan adalah sesuatu yang anda lakukan bersama 11 pemain. Jadi, saya tidak menyalahkan satu pun pemain bertahan maupun penyerang,” tegas Huistra usai memimpin latihan di Lapangan Pakembinangun pada Jumat (25/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan Huistra tidak ingin menunjuk pemain tertentu sebagai penyebab banyaknya gol yang bersarang ke gawang PSS Sleman. Baginya, organisasi permainan ketika bertahan menjadi tanggung jawab bersama 11 pemain.
Huistra Sebut Ada Gol yang Lahir karena Ketidakberuntungan
Selain faktor permainan tim, Huistra juga melihat sejumlah gol yang diterima PSS Sleman terjadi dalam situasi yang menurutnya tidak beruntung.
Ia mencontohkan penalti yang terjadi saat PSS Sleman menghadapi Bali United. Huistra juga menyinggung gol dari tengah lapangan ketika Super Elja berhadapan dengan Madura United.
“Beberapa gol yang bersarang di gawang kami sangat tidak beruntung, seperti gol dari tengah lapangan, kesalahan, penalti,” ujarnya.
Meski demikian, Huistra tidak menjadikan faktor ketidakberuntungan sebagai alasan untuk mengabaikan catatan tujuh gol dari tiga pertandingan.
Pelatih PSS Sleman tersebut tetap meminta timnya melakukan evaluasi terhadap aspek pertahanan. Menurutnya, jumlah kebobolan yang sudah mencapai tujuh gol dalam tiga laga merupakan catatan yang harus segera dibenahi.
“Tetap saja, kami harus kritis karena tujuh gol dalam tiga pertandingan itu terlalu banyak. Kami harus memperbaikinya, itu sudah sangat jelas,” tegasnya.
PSS Sleman pun memiliki pekerjaan rumah di sektor pertahanan setelah tiga pertandingan awal Super League menghasilkan total tujuh gol yang bersarang di gawang mereka. Huistra menegaskan perbaikan harus dilakukan dengan melibatkan seluruh pemain, bukan hanya mereka yang berposisi sebagai pemain bertahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
