PortalRakyat, JOGJA—Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pilihan jurusan di perguruan tinggi Tiongkok. Sejumlah universitas menghapus atau menghentikan penerimaan mahasiswa baru pada program studi tertentu, sementara bidang chip, robotika, dan AI justru semakin dikembangkan.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari dorongan pemerintah Tiongkok agar pendidikan tinggi lebih selaras dengan sektor industri yang dianggap penting bagi prospek nasional. Kampus juga menghadapi perubahan pasar kerja ketika jumlah lulusan sarjana mencapai rekor tertinggi, tetapi ijazah tidak selalu membuat mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Dalam periode 2021-2025, sejumlah universitas di Tiongkok menutup atau menunda sekitar 12.200 program studi dan membuka sekitar 10.200 program baru. Perombakan tersebut disebut memengaruhi sedikitnya 30 persen dari keseluruhan program studi di negara tersebut.
Bidang yang mengalami pemangkasan terbesar mencakup seni, humaniora, manajemen, dan bahasa. Melansir Tech Radar, Rabu (23/9/2026), tingkat pengangguran di sektor-sektor tersebut telah mencapai lebih dari 16 persen ketika pasar kerja mengalami perubahan cepat akibat kemunculan AI.
Jurusan Tradisional Mulai Dihapus
Salah satu universitas yang melakukan perubahan adalah Central Academy of Fine Arts. Kampus tersebut menghapus beberapa program studi tradisional, di antaranya ilustrasi, fotografi, penerjemahan, dan tata busana.
Perubahan juga terjadi di University of Shanghai for Science and Technology yang menghentikan penerimaan mahasiswa baru untuk jurusan Desain Produk. Seorang alumninya mengatakan peluang pekerjaan bagi lulusan bidang tersebut semakin terbatas.
“Pesatnya perkembangan AI memukul telak bidang desain produk. Banyak pekerjaan inti, seperti modelling dan rendering, sekarang sudah bisa dikerjakan oleh AI,” kata alumni yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dampak AI juga terlihat pada pendidikan bahasa. Survei terhadap 70 kampus menemukan pengurangan lima jurusan penerjemahan, delapan jurusan bahasa Jepang, serta lima jurusan bahasa Jerman di antara program-program bahasa yang terdampak.
Alex Shi, lulusan penerjemahan bahasa Inggris, menilai penghapusan jurusan tidak sepenuhnya memperhitungkan kemampuan manusia yang masih dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut. Ia mencontohkan komunikasi dan pemikiran kritis sebagai keterampilan yang menurutnya tetap penting dalam penerjemahan.
Shi mengakui AI mampu menghasilkan terjemahan dengan tingkat akurasi yang hampir sempurna. Namun, ia menilai pekerjaan penerjemah atau juru bahasa tidak sekadar mengubah kata dari satu bahasa ke bahasa lain.
“Ada gaya karakteristik personal yang selalu penting dalam penerjemahan,” kata Shi.
Fotografi dan Produksi Film Ikut Berubah
Perubahan serupa terjadi di Communication University of China (CUC). Universitas tersebut dilaporkan telah menutup lima program studi, termasuk sinematografi, desain komunikasi visual, komik, dan fotografi.
Pejabat tinggi CUC, Liao Xiangzhong, mengatakan fotografi tradisional menghadapi perubahan karena teknologi membuat masyarakat dapat memproduksi sekaligus merekam konten secara mandiri.
“Jurusan fotografi tradisional tidak dapat lagi eksis sebagai disiplin ilmu independen, saat ini setiap orang dapat menjadi pencipta dan perekam media mandiri,” kata Liao Xiangzhong.
Meski demikian, penutupan tersebut tidak selalu berarti bidang yang bersangkutan benar-benar dihilangkan dari pendidikan tinggi. Liao menjelaskan bahwa sejumlah program dapat digabungkan dengan disiplin ilmu lain.
Fotografi, misalnya, dapat dileburkan ke dalam jurusan film dan televisi. Dengan model tersebut, materi yang sebelumnya diajarkan sebagai disiplin terpisah tetap dapat menjadi bagian dari bidang studi yang lebih luas.
AI Juga Membuka Jurusan dan Profesi Baru
Di tengah penghapusan sejumlah program studi, perubahan teknologi juga melahirkan kebutuhan baru di industri kreatif. Profesi seperti prompt engineer dan animator AI mulai berkembang sehingga AI tidak hanya dipandang sebagai teknologi yang menggantikan pekerjaan manusia.
Kampus-kampus di Tiongkok juga membuka program studi yang mengikuti arah pertumbuhan ekonomi pemerintah. Salah satunya adalah bidang embodied intelligence, yakni sistem AI yang terintegrasi dengan kemampuan fisik atau robot.
Program lain yang mulai dikembangkan mencakup seni pencitraan cerdas, teknik audiovisual cerdas, serta teknik cerdas dan desain kreatif.
Sejumlah universitas juga mulai mengembangkan program studi hibrida. Dalam model tersebut, pembelajaran seni dipadukan dengan pelatihan AI sehingga mahasiswa tidak hanya mempelajari bidang kreatif, tetapi juga teknologi yang digunakan dalam proses produksi.
Perubahan kurikulum tersebut turut mengubah kualifikasi yang diharapkan perusahaan dari lulusan bidang penerjemahan, desain, fotografi, dan produksi film. Kemampuan teknis untuk bekerja berdampingan dengan sistem kreatif otomatis menjadi semakin dibutuhkan.
Pakar Sebut Bongkar Pasang Jurusan Bukan Solusi Permanen
Meski perubahan jurusan dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi, langkah tersebut dinilai belum cukup sebagai solusi jangka panjang.
Chu Zhahoui, peneliti senior di National Institute of Education Sciences, mengatakan sistem pendidikan tinggi membutuhkan perubahan yang lebih mendalam agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang bergerak cepat.
Menurut Chu, sebagian jurusan yang sekarang dihapus sebenarnya baru dibuka beberapa tahun sebelumnya ketika Tiongkok menjalankan perombakan pendidikan pada tahap awal. Akibatnya, beberapa program belum memiliki waktu yang cukup untuk berkembang dan melakukan pembenahan secara matang.
Karena itu, ia menyarankan universitas tidak terus-menerus mengganti satu jurusan dengan jurusan lainnya. Sistem pendidikan tinggi, menurutnya, perlu dibuat lebih fleksibel agar mahasiswa mempunyai ruang lebih besar dalam menentukan mata kuliah.
“Hal ini akan membuat mahasiswa bisa memilih mata kuliah yang sesuai dengan minat pribadi, kelebihan unik mereka, serta tuntutan jalur karier yang mereka inginkan. Pada akhirnya, mereka bisa membentuk profil keahlian mereka sendiri yang khas,” kata Chu.
Perubahan pendidikan tinggi di Tiongkok dengan demikian tidak hanya menyangkut penghapusan jurusan lama. Di saat AI mengubah kebutuhan industri, universitas juga mulai menggabungkan bidang kreatif dengan teknologi serta membuka program yang berkaitan dengan AI, robotika, dan sistem cerdas.
Bagi mahasiswa, perubahan tersebut membuat pilihan pendidikan tinggi semakin berkaitan dengan kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi. Namun, seperti yang disampaikan Chu, fleksibilitas dalam memilih mata kuliah juga menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu mahasiswa membangun keahlian sesuai minat dan jalur karier masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
