Inovasi Dosen Unisa Yogyakarta, Stimulasi Listrik Bantu Sembuhkan Luka Diabetes

Inovasi Dosen Unisa Yogyakarta, Stimulasi Listrik Bantu Sembuhkan Luka Diabetes

Diabetes – Ilustrasi Freepik

PortalRakyat, SLEMAN— Perawatan luka diabetes berpotensi mendapat alternatif terapi tambahan melalui kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik yang dikembangkan Dosen Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Lutfi Nurdian Asnindari.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan luka akut pada kondisi diabetes. Kombinasi intervensi itu bekerja dengan mengaktifkan jalur pensinyalan seluler yang berperan dalam proses penyembuhan luka.

Lutfi menjelaskan kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik berpotensi digunakan sebagai terapi adjuvan atau pengobatan tambahan dalam perawatan luka diabetes. Intervensi tersebut terutama diarahkan untuk membantu mengoptimalkan fase proliferasi dan remodeling.

“Alat stimulasi listrik ini dapat dijadikan salah satu alternatif terapi adjuvan untuk merawat luka akut pada kondisi diabetes karena terbukti mengaktifkan jalur pensinyalan intraseluler VGCC tipe Cav1.2-PDGF-BB/PDGFRβ,” terang Lutfi dalam rilis tertulis pada Sabtu (19/9/2026).

Aktifkan Jalur Pensinyalan Seluler

Menurut Lutfi, aktifnya jalur pensinyalan intraseluler VGCC tipe Cav1.2-PDGF-BB/PDGFRβ membuat fase proliferasi dan remodeling dalam proses penyembuhan luka diabetes dapat berlangsung optimal.

Dengan proses tersebut, intervensi kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik diharapkan dapat membantu mempercepat penyembuhan luka. Penelitian yang dilakukan Lutfi sejauh ini telah menguji inovasi tersebut menggunakan tikus model diabetes.

Sejumlah indikator biologis dalam proses penyembuhan luka menunjukkan hasil yang lebih baik pada kelompok yang mendapatkan kombinasi intervensi tersebut. Hasil ini menjadi salah satu dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.

Selain aspek efektivitas, Lutfi juga melihat keamanan dan kemudahan pengembangan alat sebagai bagian penting dari inovasi tersebut.

Metcovazin telah banyak digunakan di Indonesia dan sejauh ini dinilai aman. Sementara itu, parameter stimulasi listrik dalam penelitian telah disesuaikan agar tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan.

“Metcovazin sudah banyak digunakan oleh perawat luka di Indonesia dan sejauh ini aman digunakan. Untuk stimulasi listrik yang saya gunakan sudah disesuaikan parameternya sehingga tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan, seperti luka bakar, nyeri, dan lain-lain,” terang Lutfi.

Masih Tahap Praklinis

Meski memberikan hasil yang mendukung proses penyembuhan pada model diabetes, inovasi tersebut belum dapat langsung diterapkan kepada pasien. Lutfi menegaskan penelitian yang dilakukan masih berada pada tahap praklinis dan belum melibatkan subjek manusia.

“Penelitian kami belum menggunakan subyek manusia, karena penelitian praklinis. Berdasarkan tikus model yang kami buat, luka yang dapat diintervensi dengan inovasi stimulasi listrik ini adalah luka akut pada kondisi diabetes mellitus atau kadar glukosa darah tinggi,” kata dia.

Tahap penelitian yang masih praklinis membuat penerapan teknologi tersebut pada manusia membutuhkan proses lebih panjang. Penelitian translasional dan penelitian klinis diperlukan sebelum inovasi dapat digunakan pada pasien.

Lutfi juga menekankan pentingnya keterlibatan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam perawatan luka apabila teknologi tersebut nantinya dikembangkan untuk penggunaan pada manusia.

“Inovasi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk dapat diterapkan pada manusia melalui penelitian translasional dan klinis. Namun, intervensi ini meskipun relatif aman, sebaiknya dilakukan oleh perawat yang terlatih dalam perawatan luka,” jelasnya.

Ditargetkan Jadi Alat yang Terjangkau

Penelitian menggunakan tikus model diabetes tersebut menjadi tahap awal untuk melihat efektivitas kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik terhadap proses penyembuhan luka.

Ke depan, Lutfi berharap penelitian dapat dikembangkan hingga menghasilkan perangkat stimulasi listrik dengan parameter yang telah teruji secara ilmiah. Selain aspek ilmiah, perangkat tersebut diharapkan tetap mudah digunakan dan terjangkau.

Pengembangan alat dengan karakteristik tersebut diharapkan dapat membuka peluang hadirnya terapi adjuvan alternatif dalam perawatan luka pada kondisi diabetes.

“Indikator keberhasilan yang ingin kami capai adalah hadirnya terapi adjuvan alternatif berupa alat stimulasi listrik dengan parameter yang sudah teruji secara ilmiah serta murah dan mudah digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes,” tegasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *