Ilustrasi olahan makanan berbahan ikan/magnific
PortalRakyat, BANTUL— UMKM olahan ikan di Bantul mulai menjangkau pasar luar negeri, tetapi masih menghadapi sejumlah kendala untuk melakukan ekspor secara mandiri. Keterbatasan kapasitas produksi dan ketatnya rantai pasok menjadi tantangan utama pelaku usaha.
Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Pengawasan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul, Susmawati, mengatakan sejumlah produk olahan hasil perikanan dari Bantul sudah pernah dikirim ke luar negeri.
Salah satunya adalah abon lele yang beberapa kali dikirim ke Belanda. Selain abon lele, produk UMKM lainnya seperti sambal seafood juga telah dikirim ke pasar luar negeri.
“Kalau sampai ekspor langsung itu mungkin masih beberapa teman-teman UMKM. Cuma belum bisa yang ekspor dalam kontainer,” kata Susmawati, Jumat (18/9/2026).
Menurut Susmawati, kemampuan memenuhi volume produksi dalam jumlah besar menjadi salah satu persoalan utama bagi UMKM yang ingin melakukan ekspor secara mandiri.
Pelaku UMKM masih memiliki kapasitas produksi yang terbatas dibandingkan perusahaan atau pabrikan besar. Kondisi tersebut membuat mereka belum mampu memenuhi kebutuhan produksi untuk pengiriman dalam satu kontainer.
Selain kapasitas produksi, rantai pasok produk makanan berbahan hasil perikanan juga menjadi tantangan tersendiri. Pelaku usaha harus memastikan berbagai aspek produksi hingga distribusi dapat memenuhi ketentuan untuk pasar luar negeri.
“Kalau ekspor kan kita butuh pabrikan yang besar. Satu kontainer sendiri kan berapa, apalagi untuk produk makanan dengan rantai pasok yang luar biasa rigid untuk perikanan,” ujarnya.
UMKM Bantul Manfaatkan Jastip
Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian UMKM olahan ikan Bantul memilih memanfaatkan jaringan yang berada di luar negeri untuk membantu memasarkan dan mengirimkan produknya.
Susmawati mengatakan pola pengiriman melalui jasa penitipan atau jastip menjadi salah satu pilihan bagi pelaku UMKM yang ingin menjangkau konsumen mancanegara dengan kapasitas produksi yang masih terbatas.
“Makanya kalau ada UMKM yang seperti itu kami fasilitasi kepada jaringan yang berada di luar negeri,” ungkapnya.
Menurut dia, keberadaan produk olahan ikan Bantul yang telah dikirim ke sejumlah negara menunjukkan adanya permintaan terhadap produk UMKM daerah tersebut di pasar internasional.
Namun, apabila pelaku usaha ingin menjadikan pasar ekspor sebagai sasaran utama, diperlukan kesiapan yang lebih besar. Penguatan kapasitas produksi dan modal menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan UMKM.
“Hanya saja jika memang ingin fokus ke pasar ekspor, butuh penguatan kapasitas produksi dan modal yang signifikan serta kesiapan memenuhi ketentuan perdagangan produk pangan lintas negara,” katanya.
Produk Olahan Ikan Bantul
Produk olahan hasil perikanan menjadi salah satu produk UMKM Bantul yang telah memiliki akses ke konsumen luar negeri. Abon lele menjadi salah satu produk yang beberapa kali dikirim ke Belanda.
Selain itu, sambal seafood juga termasuk produk UMKM yang telah dikirim ke luar negeri. DKP Bantul memfasilitasi pelaku usaha melalui jaringan yang berada di luar negeri sebagai salah satu upaya membantu produk UMKM menjangkau pasar mancanegara.
Meski demikian, ekspor secara mandiri dalam skala besar masih membutuhkan dukungan kapasitas produksi, modal, serta kesiapan rantai pasok dan pemenuhan ketentuan perdagangan pangan lintas negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
